
Udara dingin terasa menusuk kulit. Perlahan Rain pun membuka matanya. Berkali-kali dia mengucek mata, untuk memastikan apa yang dilihatnya. Dia hanya menghela napas dalam, saat melihat Summer masih terjaga. Padahal waktu sudah menunjukkan jam tiga pagi.
"Summer, kamu tidak tidur?" tanya Rain dengan menatap lekat kekasih hatinya yang terlihat lebih cantik dengan berbalut mukena.
"Aku tidak bisa tidur. Kamu tidur saja, Rain. Masih pagi banget," jawab Summer dengan melipat sajadah yang habis dia pakai.
"Apa kamu setiap malam melakukannya?" tanya Rain lagi. "Bangun dini hari dan mengadu pada Sang Pencipta," lanjutnya.
"Hampir setiap hari, karena dengan mendekatkan diri pada-NYA hatiku terasa lebih tenang. Aku jadi merasa lebih kuat dalam menghadapi semua cobaan hidup yang hampir membuatku kehilangan arah."
"Semua karena kesalahanku. Aku berjanji untuk memperbaiki semuanya. Summer, saat kita sudah kembali ke ibu kota, ayo kita langsung menikah dengan dan tanpa persetujuan ayahku. Aku rasa, dengan dukungan dari ibu, itu sudah cukup."
"Apa kamu yakin akan menentang keinginan ayah kamu?"
"Aku sangat yakin! Mungkin saat kita sudah menikah dan memiliki banyak anak, hati ayah jadi tersentuh dan merestui hubungan kita."
"Baiklah, kalau kamu memang sudah sangat yakin untuk bersama aku dan Alka. Aku akan mengikuti keinginan kamu. Meskipun sebenarnya, aku ingin pernikahan kita atas restu kedua orang tua kamu."
"Nanti kita lihat saja, apa Alka mampu meluluhkan hati ayah atau tidak. Tapi aku yakin, Alka pasti bisa mengambil hati ayah."
__ADS_1
"Kenapa kamu yakin sekali?" tanya Summer seraya duduk di kursi meja rias miliknya.
"Aku memang tidak bersamanya selama bertahun-tahun, tapi aku bisa melihat bakat terpendam Alka. Selain kecerdasan keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran sesuatu yang tampak dan penguasaan matematis, Alka juga memiliki EQ yang baik. Dia mampu menerima serta mengontrol emosi dalam diri dan orang lain disekitarnya, EQ berhubungan dengan kemampuan diri untuk mengontrol perasaan." Rain menghentikan ucapannya sejenak sebelum dia melanjutkan berbicara.
"Aku masih terus memperhatikan perkembangan kecerdasan adversity Alka. Tapi aku rasa AQ dia pun cukup sangat baik. Buktinya dia dapat menghindari kemarahan Billy waktu itu."
"Rain, sebenarnya aku tahu kalau Alka memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Tapi aku tidak mau ada orang yang menyadarinya. Aku tidak mau ada orang yang memanfaatkan kecerdasan anak kita, sehingga dia kehilangan masa kecilnya. Aku ingin Alka tumbuh seperti anak-anak yang lain. Selalu bahagia menikmati masa kecil mereka."
Terus saja kedua orang tua itu berbincang soal anaknya. Tanpa terasa sudah memasuki waktu sholat subuh. Summer pun bergegas kembali mengambil wudhu yang diikuti oleh Rain. Keduanya sholat berjamaah untuk menunaikan sholat subuh.
Setelah selesai, Rain pun pergi ke dapur untuk membuat sarapan dan menyuruh Summer untuk tidur. Karena Rain khawatir Summer akan jatuh sakit jika wanita cantik itu tidak tidur sama sekali.
Dia pun bergegas membersihkan diri dan berpakaian rapi untuk pulang ke rumah. Setelah dirasa siap, Rain mengecup kening Summer singkat sebelum pergi dari rumah itu. Rain pun segera menuju ke mobilnya yang terparkir rapi di garasi rumah Summer.
Tidak butuh waktu lama bagi Rain untuk sampai di rumahnya. Karena memang rumah Rain dan Summer hanya berjarak tiga kilometer. Ditambah lagi jalanan lengang karena masih sangat pagi.
Setibanya di rumah orang tuanya, Rain langsung mencari keberadaan Alka. Dia sama terkejut saat melihat Alka sedang duduk di pangkuan ayahnya. Apalagi kedua laki-laki beda generasi itu terlihat sedang seru bercerita. Rain pun langsung menghampiri keduanya.
"Rain, untuk apa kamu datang lagi ke sin?" tanya Tuan Altair dengan nada ketus.
__ADS_1
"Apa tidak boleh aku datang ke sini?" tanya Rain dengan melihat ke arah Alka.
"Boleh saja selama kamu menjadi anak yang penurut. Lagi pula sekarang ayah sudah punya anak yang baik dan menggemaskan. Alka, ayo kenalan! Laki-laki yang baru datang itu putra Apih. Dia sedang membangkang sama Apih. Alka kalau sudah besar, jangan seperti dia ya nak!"
"Memangnya kenapa, Pih? Papa Rain 'kan baik," tanya Alka dengan melihat ke arah Tuan Altair.
"Apa??? Papa??!! Memangnya Alka mengenal putra Apih?"
"Kenal, itu kan papa Alka."
"Apa kamu bilang? Rain itu papamu, berarti ibumu itu ...."
"Papa Rain, Bunda Summer, Ayah Radid dan Ibu Hanna, mereka semua orang tua Alka."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1