
Lumayan lama Alka dan Idah berada di halaman belakang. Sampai Sang Surya sudah tepat berada di atas kepala, bocah kecil itu pun mulai merasakan kebosanan. Dia berlari-lari terus di halaman belakang. Saat pengasuhnya lengah, Alka pun berlari masuk ke dalam rumah.
Dia terus cekikikan sendiri. Merasa menang sudah mengerjai pengasuhnya. Dia berlari dengan terus saja menengokan kepalanya melihat ke arah belakang. Berharap Idah akan mengejarnya. Namun, kejadian yang tidak diharapkan pun harus terjadi, saat dia tanpa sengaja menabrak guci antik. Bersamaan dengan Billy keluar dari kamarnya hanya menggunakan handuk kimono.
Praang!
Suasana rumah yang sepi mendadak gaduh dengan pecahan guci pun berhamburan. Billy yang melihat semua itu, emosinya langsung tersulut. Dia merasa kesal guci yang puluhan tahun itu, harus pecah di tangan anak rival cintanya.
"ALKAAA!!!" teriak Billy seraya cepat-cepat mengahampiri anak kecil itu yang kaget. Tangannya langsung mengambil cambuk yang menggantung di dinding depan kamarnya.
Melihat Billy yang memegang cambuk, anak kecil itu berlari ketakutan. Dia terus menghindari kejaran Billy. Hingga akhirnya dia masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
"ALKA BUKA PINTUNYA! ANAK PEMBUAT MASALAH. GARA-GARA KAMU, MALAM PENGANTINKU GAGAL. GARA-GARA KAMU SUMMER JADI DEKAT LAGI DENGAN MANTANNYA. GARA-GARA KAMU JUGA, GUCI KESAYANGAN MAMAKU PECAH. KELUAR KAMU ALKA!!!" Billy terus saja menggedor pintu kamar Alka dengan kencang.
"Maaf, Tuan! Alka pasti sedang ketakutan," ucap Idah dengan suara yang bergetar.
"KAMU JUGA, AKU GAJI UNTUK MENJAGA ANAK KECIL ITU AGAR TIDAK MENGGANGGUKU, TAPI HARI INI DIA SUDAH DUA KALI MEMBUAT AKU KESAL. URUS DIA! AKU POTONG GAJI KAMU KERENA LALAI MENJAGANYA."
"Maaf, Tuan! Biar saya bereskan dulu pecahan guci-nya." Idah merasa ketakutan dengan kemarahan Billy. Tadinya dia merasa senang karena dipindah jadi pengasuh dari tukang bersih-bersih di rumah itu. Tapi ternyata tidak mudah menghadapi orang kaya yang temperamental.
"INGAT! KALI INI AKU MAAFKAN. TAPI TIDAK DENGAN LAIN KALI. SEKALI LAGI ANAK ITU BERULAH, BUKAN HANYA DIA YANG AKU HUKUM, TAPI KAMU JUGA!" tunjuk Billy dengan sorot mata tajam pada pengasuh anak sambungnya itu.
Dia pun langsung berlalu pergi menuju ke dapur karena tenggorokannya merasa sakit setelah berteriak-teriak. Sementara Idah langsung membersihkan pecahan guci yang berceceran.
Berbeda dengan Alka yang sedang memeluk guling dengan erat di bawah tempat tidur. Dia benar-benar merasa takut melihat Billy yang seperti itu. Setelah merasa tidak ada lagi suara gedoran pintu dan teriakan Billy, dia pun keluar dari persembunyiannya.
"Papa, aku harus bilang Papa," gumam Alka dengan mencari tab. Dia pun segera mengirim pesan pada Rain.
Papa Sayang
^^^[Papa, Alka takut]^^^
[Takut kenapa?]
^^^[Papa Billy marah-marah, mau pukul Alka]^^^
__ADS_1
[Apa? Sayang, Papa video call ya!]
^^^[Iya, Pah]^^^
Rain pun segera melakukan panggilan video call pada putranya. Dia merasa sangat cemas dengan keadaan Alka. Tanpa menunggu lama, panggilan video pun langsung tersambung.
"Sayang, bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Rain di seberang sana dengan raut wajah cemas.
"Alka baik, Pah."
"Apa ada yang terluka?"
"Tidak, Pah. Tadi Alka lari waktu Papa Billy ngejar bawa tali besar yang panjang."
"Astaga, memang tadinya Alka kenapa? Kho sampai dimarahin."
"Alka mau masuk ke kamar Papa Billy waktu Papa bawa Tante cantik. Tapi sama Papa gak boleh, disuruh main sama Mbak. Alka kan bosan main di halaman belakang, jadi Alka kabur masuk ke dalam rumah. Alka gak sengaja nabrak pot besar yang disimpan dipojok ruang makan."
"Guci maksud Alka?"
"Ya sudah, Papa jemput Alka ya! Kalau Alka takut, diam di kamar saja sampai Papa datang. Nanti kalau Papa telpon lagi, Berarti, Papa sudah sampai di rumah Papa Billy. Alka nyalakan GPS di ponselnya ya, biar Papa mudah sampai ke sana."
"Iya, Pah."
"Apa Bunda sedang tidak ada di rumah?"
"Bunda di sekolah, Pah."
"Oke, Papa mengerti! Papa tutup dulu ya, Sayang. Papa berangkat sekarang."
Rain pun langsung menutup panggilan video-nya. Dia begitu tergesa-gesa agar secepatnya sampai di rumah Billy. Dengan panduan GPS dari ponsel Alka, akhirnya dia bisa sampai juga di rumah Billy. Laki-laki itu pun segera menghubungi putranya.
"Hallo, Alka. Papa sudah di depan rumah. Kalau mendengar suara Papa di dalam rumah, Alka langsung ke luar ya, Nak!" suruh Rain saat sambungan teleponnya sudah tersambung.
"Iya, Pah."
__ADS_1
Rain pun kembali menutup panggilan teleponnya. Dia segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah Billy, setelah satpam mengijinkannya. Meskipun dadanya bergemuruh hebat menahan kekesalan pada pemilik rumah itu. Namun, Rain berusaha bersikap tenang.
"Ada apa kamu mencariku?" tanya Billy saat melihat kedatangan Rain ke rumahnya.
Rain tidak menjawab pertanyaan Billy. Dia langsung menghampiri pemilik rumah dengan tangan yang terkepal. Ingin sekali dia menonjok laki-laki yang sedang berdiri dengan pongah di depannya. Namun, dia ingat dengan maksud kedatangannya untuk menjemput Alka.
"Aku mau menemui Alka. Tuan Billy yang terhormat, kalau Anda merasa ada masalah denganku, jangan lampiaskan pada putraku. Dia tidak tahu menahu urusan oarng tuanya," geram Rain.
"Cih! Putramu sudah membuat kekacauan di rumahku. Oh, kamu datang untuk menjadi pahlawan buat dia? Baiklah, aku bisa menggantikan hukuman putramu itu." Billy langsung mengarahkan tinju pada Rain.
Namun, secepatnya Rain menahan tangan Billy yang mengarah ke wajahnya. Dengan sedikit memutar kepalan tangan itu, membuat Billy meringis kesakitan.
"Tidak semudah itu kamu menyentuh wajahku!" seru Rain dengan menatap tajam pada Billy. "Alka ... Keluar, Nak! Ayo pulang sama Papa, teriaknya.
Mendengar terikan papanya, Alka segera menyeret dua travel bag yang dibawa bundanya ke rumah itu. Meskipun terlihat kesusahan, tapi tekadnya untuk keluar dari rumah Billy sudah bulat.
"Den Alka, biar Mbak yang bawa." Idah yang melihat Alka menyeret tas, langsung mengambil alih. Sungguh hatinya merasa tidak tega melihat anak kecil itu.
"Papa ...." Alka berlari kecil menghambur ke pelukan papanya. Bocah kecil itu langsung menyembunyikan wajahnya di dada Rain saat tidak sengaja bersitatap dengan Billy yang sedang menatap tajam ke arahnya.
"Tuan Billy, silakan Anda hitung berapa kerugian akibat dari apa yang Alka lakukan. Aku akan menggantinya."
"Cih! Baik, aku membeli guci itu seharga seratus juta. Kamu boleh mencicilnya kalau uangmu tidak cukup," sarkas Billy dengan nada penghinaan.
"Tidak, aku masih sanggup membayar cash."
"Bayar cash apa? Rain kapan kamu ke sini?" serobot Summer yang baru datang dari sekolah.
"Aku akan membawa Alka tinggal bersamaku," jawab Rain.
"Tidak bisa, aku keberatan!"
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....