
Wajah tampan menggemaskan, membuat Alka menjadi pusat perhatian saat dia berada di minimarket. Apalagi, tutur katanya yang sopan dan tidak pernah lupa untuk mengucapkan tiga kata keramat maaf, terima kasih dan tolong. Saat dia berinteraksi dengan orang-orang, sukses menarik hati orang-orang yang berada di sekelilingnya.
"Bu Kenanga, ganteng sekali cucunya. Namanya siapa?" tanya karyawan minimarket pada Bu Kenanga yang memang sudah saling mengenal.
"Namanya Alka. Masuk pagi Win? Ayo Alka pilih yang Alka mau, biar Omah yang traktir," suruh Bu Kenanga.
"Iya, Bu. Ayo Alka jangan sungkan, diborong saja ya," gurau Winda.
"Makasih, Oma. Tante Cantik, Alka mau kue itu. Tolong diambilkan!" pinta Alka dengan tersenyum.
"Oke Ganteng!" Winda pun segera mengambil apa yang Alka tunjuk dan memberikannya pada anak laki-laki yang menggemaskan itu. "Bu, kenapa Alka mirip dengan Rain waktu kecil ya? Aku ingat sekali wajah tetanggaku itu. Apa ini putra Rain dengan Summer? Karena setahuku, Rain cerai dengan Yasmin setelah dia melahirkan anak laki-laki tapi wajahnya tidak ada mirip-miripnya dengan Rain."
"Makasih, Tante!" ujar Alka dengan tersenyum yang dibalas anggukan oleh Winda.
"Bisa saja kamu Winda. Alka ini memang putranya Summer, tapi dari suaminya yang ada di ibu kota." Bohong Bu Kenanga. Dia tidak mau orang-orang di kampung halamannya memandang rendah Alka dan Summer karena menjadi janda sebelum menikah.
"Begitu ya! Pasti waktu Summer hamil, dia benci sekali sama Rain karena sudah mengkhianatinya. Makanya wajah putranya malah mirip dengan mantannya."
"Bisa saja kamu. Ya sudah Ibu ke sana dulu ya! Ayo Alka!" ajak Bu Kenanga langsung menyudahi percakapannya dengan teman sekolah Summer. Yang memang rumahnya bertetangga dengan Rain.
"Tante, Alka ke sana dulu ya! Dah Tante ...." Alka tersenyum pada Winda sebagai salam perpisahan.
"Iya Ganteng. Aduh ... Masih kecil saja sudah bisa bikin hati Tante bertalu-talu."
__ADS_1
Sementara Bu Kenanga hanya tersenyum melihat apa yang Alka lakukan pada karyawan itu. Dia pun buru-buru mengambil apa yang ingin dia ambil. Setelah mendapatkannya, Bu Kenanga pun langsung membawa Alka pulang. Tidak lupa dengan es krim dan jajanan Alka dan yang lainnya.
"Bunda, Alka dijajanin banyak sama Omah," ucap Alka saat sudah sampai di rumah.
"Tante kenapa banyak sekali?" tanya Summer saat menerima kantong plastik berisi jajanan Alka dari Bu Kenanga.
"Tidak apa! Biar Alka tidak usah bolak-balik lagi pergi ke warung. Summer, Tante pulang dulu ya! Nanti kalau mau makan ke rumah saja. Om kamu pasti senang melihat kamu pulang."
"Iya, Tan. Memangnya Om ada di rumah?" tanya Summer kemudian.
"Ada. Tapi nanti mau berangkat lagi. Menunggu pensiun lama sekali. Kasian sudah tua masih harus pulang pergi ke luar negeri terus. Tante langsung pulang ya!" pamit Bu Kenanga.
"Iya, Tan. Makasih banyak," ucap Summer tulus.
Bu Kenanga hanya tersenyum seraya naik ke motornya. Meninggalkan Summer dan yang lainnya menatap dalam kepergiannya. Sampai akhirnya Rain membuka suaranya.
"Ya, sudah! Hati-hati ya di jalan!" pesan Summer.
"Iya, Sayang! Alka, Papa pergi dulu ya! Besok Papa jemput ke sini lalu kita jalan-jalan," pamit Rain pada Alka yang sedang asyik makan es krim.
"Iya, Pah!"
Rain pun langsung pulang setelah dia mencium kening Alka dan Summer secara bergantian. Sepanjang perjalanan pulang, Rain terus saja merangkai kata-kata. Dia terus meyakinkan dirinya agar bisa membuat ayahnya menyetujui pernikahannya dengan Summer.
__ADS_1
Meskipun Rain tahu kalau ayahnya tidak pernah menyukai kekasihnya itu. Entah apa alasannya, dia pun tidak tahu. Karena setiap kali menanyakan hal itu pada ayahnya, pasti laki-laki yang selalu menjadi panutannya itu tidak pernah mau menjawabnya.
Rain menghela napas dalam saat sudah terlihat pagar tinggi berwarna hitam yang menutup rumahnya. Dia pun segera menyembunyikan klakson setelah membelokkan mobilnya. Satpam di rumahnya dengan cepat membuka pintu untuk Rain.
"Den Rain, apa kabar? Bapak juga baru saja masuk," ucap Parto, satpam di rumah Rain.
"Alhamdulillah baik, Mang. Aku masuk dulu ya!"
"Silakan, Den!"
Rain hanya tersenyum seraya menjalankan mobilnya menuju ke garasi. Dia terus saja menghela napas dalam untuk menetralkan kegugupannya. Setelah dia merasa siap untuk berbicara pada ayah dan ibunya, Rain pun bergegas masuk ke dalam rumahnya
"Assalamu'alaikum," ucap Rain seraya membuka pintu rumahnya. Dia langsung mencium punggung tangan orang tuanya secara bergantian.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Kebetulan sekali, besok ayah ada reuni dengan teman kampus. Nanti kamu ikut ya! Teman ayah, mau membawa anak gadisnya agar bisa saling mengenal dengan anak-anak yang lain."
"Maaf Ayah! Aku tidak bisa, besok aku sudah ada janji dengan calon istriku," tolak Rain.
"Calon istri? Apa kamu sedang dekat dengan seorang gadis?"
"Aku sudah menemukan Summer dan akan segera menikahi dia. Aku harap, Ayah tidak menghalangi keinginan aku. Karena hanya Summer, wanita di dunia ini yang aku inginkan. Apalagi, sekarang kami sudah memiliki anak."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, vote, rate, dan favorite....
...Terima kasih....