
Mendengar apa yang istrinya katakan, sesaat Billy terdiam. Dia tersenyum kecut. Sampai akhirnya, dia pun membuka suaranya.
"Ternyata kamu sudah tahu semuanya. Heh ... baguslah, aku tidak usah memberitahunya. Salah kamu sendiri, tidak bisa memuaskan aku. Kamu pikir sendiri, apa pernah kamu memenuhi kebutuhan biologis aku? Tidak kan! Aku laki-laki normal, Summer. Aku butuh seorang wanita untuk menghangatkan malam aku. Tapi kamu terlalu sibuk dengan anakmu. Jadi wajar saja, kalau aku mencari wanita lain yang bisa memenuhi kebutuhan aku."
Plak!
Satu tangan Summer melayang dengan sempurna dan mendarat di pipi kiri Billy. Laki-laki itu memalingkan muka dan tersenyum kecut mendapatkan tamparan dari istrinya. Dia langsung melihat tajam ke arah Summer dan mencengkeram rahangnya.
"Berani sekali kamu menampar aku! Kamu pikir kamu siapa, hah? Dasar cewek gampangan! Cewek bodoh yang mudah ditipu laki-laki. Kamu pikir, selama ini aku mencintaimu? Hahaha ... Kamu benar-benar naif, Summer! Aku mendekati kamu karena aku penasaran dengan kamu. Bukan karena aku tergila-gila padamu. Sekarang rasa penasaran aku sudah hilang. Karena aku sudah menikahi kamu."
"A-aku ke-kecewa sa-sama kamu!" Summer bicara terbata-bata dengan rasa sakit di rahangnya. Dia berusaha melepaskan diri dari Billy. Namun, laki-laki itu semakin kuat mencengkram-nya.
"Aku tidak peduli kamu kecewa atau apa, tapi yang pasti, kamu harus melayani aku sekarang." Billy langsung merobek baju Summer. Tentu saja hal itu membuat Summer ketakutan. Dia segera memutar otak agar bisa terlepas dari suaminya.
"Bang, jangan di sini! Aku akan menunggumu di rumah. Sekarang aku masih datang bulan. Mungkin nanti sudah bersih," ucap Summer mencoba menenangkan Billy.
Dia tahu kalau tadi dia sudah memancing kemarahan Billy. Kini dia mengerti kenapa para pembantu di rumah Billy begitu patuh pada tuannya. Karena mereka tahu kalau Billy seorang yang tempramental.
"Kamu serius! Baiklah, kamu pulang duluan. Aku ingin memiliki kamu malam ini. Aku pastikan kamu akan ketagihan dengan senjataku." Kemarahan Billy mendadak menguap mendengar Summer akan memberikan haknya dengan suka rela. Sesuatu yang selalu dia impikan selama ini, sebentar lagi dia kan merasakannya.
Summer langsung merapikan pakaiannya. Dia menyambar jas Billy yang menggantung di kursi, sebelum dia pulang dari kantor suaminya. Berkali-kali Summer menghembuskan napasnya kasar. Dia terus memutar otak agar bisa terbebas dari Billy.
Dia ingin meminta tolong pada Rain. Tapi khawatir Alka akan terlibat. Akhirnya, dengan sisa keberaniannya, Summer memutuskan untuk pergi dari rumah Billy.
"Aku harus membereskan barang-barang aku, sebelum Bang Billy pulang. Aku tidak mau menjadi pemuas hasratnya gilanya," gumam Summer.
Benar saja, sesampainya di rumah Summer langsung membereskan semua bajunya. Dia tidak memberitahu Radid karena tidak ingin merepotkan sepupunya. Dia pun bergegas untuk keluar dari rumah Billy.
"Nyonya, mau ke mana? Kenapa bawa koper segala?" tanya Idah kaget melihat Summer sedang menyeret koper.
__ADS_1
"Aku mau berlibur. Mbak, aku pergi dulu ya! Terima kasih selama ini sudah baik sama aku," ucap Summer berpamitan pada pengasuh Alka.
Setelah cukup berbasa-basi, dia pun bergegas pergi karena khawatir Billy datang. Dia langsung menuju ke hotel tempat biasa Billy menginap. Summer penasaran, saat dia tidak ada di rumah, mungkinkah Billy akan menghabiskan malam dengan wanita lain di sana?
Setelah mendapatkan kunci kamar, Summer buru-buru menuju ke kamarnya. Dia ingin mengistirahatkan hati, pikiran dan badannya dari semua hal yang terjadi padanya. Namun, baru saja dia akan memejamkan matanya, terdengar ponselnya berbunyi. Tertera di sana Rain melakukan panggilan padanya.
"Hallo Summer, kamu di mana? Aku di rumah Billy dengan Alka. Dia kangen sama kamu."
"Aku sedang liburan, Rain. Besok aku hubungi lagi ya!"
"Sebentar! Jangan ditutup dulu! Alka mau bicara."
Tidak lama kemudian, Terdengar suara Alka di seberang sana. Membuat hati Summer semakin tidak menentu. Rasa bersalah dan penyesalan bercampur jadi satu.
"Hallo Bunda. Alka kangen sama Bunda."
"Bunda lebih kangen sama kamu Sayang. Alka baik-baik ya sama Papa. Nanti kalau urusan Bunda sudah selesai, Bunda pasti akan menjemput Alka."
"Iya, Sayang. Do'akan Bunda agar urusan Bunda cepat selesai ya, Nak."
"Iya, Bunda. Alka sayang sama Bunda."
"Bunda lebih sayang sama Alka."
"Summer, teleponnya aku tutup ya! Sepertinya Billy datang. Aku harus bergegas pergi."
"Iya, Rain. Aku titip Alka dulu."
Selesai berbicara dengan Rain, Summer pun segera mematikan ponselnya. Dia tidak mau ada orang mengetahui keberadaannya. Untuk sesaat, dia ingin menghilangkan dari kehidupannya yang menyesakkan.
__ADS_1
...***...
Sementara itu, Billy pulang ke rumah saat hari menjelang malam. Dia mengerutkan keningnya saat melihat ada sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang rumahnya. Hingga akhirnya, dia bertanya pada satpam rumahnya.
"Pak, mobil siapa di depan. Apa Nyonya menerima tamu?" tanya Billy.
"Itu Den Alka dengan papanya. Mereka mau menemui Nyonya. Tapi nyonya pergi dengan membawa koper. Katanya mau liburan," jelas satpam.
"Apa? Liburan?" tanya Billy kaget.
"Iya, apa Tuan tidak tahu?"
Billy tidak menjawab pertanyaan satpam rumahnya. Dia langsung masuk ke dalam untuk memastikan Summer. Namun apa yang didapatnya membuat darahnya mendadak mendidih seketika.
"SUMMER!!! KAMU MENIPUKU!!! AWAS SAJA KALAU KETEMU, TIDAK AKAN AKU LEPASKAN!!!" teriak Billy di kamarnya..
"Kamu menipuku, Summer! Kamu bilang, kamu akan memberikan dirimu dengan suka rela. Tapi ternyata kamu pergi meninggalkan aku!" geram Billy.
"Tidak!!! Aku tidak boleh kalah sama dia. Banyak cewek yang menjadi mainan aku.Tapi kenapa dia mempermainkan aku. Awas kamu Summer! Aku pasti akan mendapatkan kamu lagi!" tekad Billy dengan tangan yang terkepal.
"Hahaha ... Kamu pikir, kamu bisa pergi begitu saja dari rumah ini? Mimpi! Kamu sudah menjadi milikku dan selamanya akan menjadi milikku!"
Seperti orang gila, Billy terus saja berbicara sendiri. Dia benar-benar tidak terima hidupnya akan dipermainkan oleh seorang wanita. Sungguh Billy merasa harga dirinya runtuh saat Summer berhasil membohonginya.
Billy pun memutuskan untuk membersihkan dirinya. Berharap kepalanya yang terasa mendidih akan dingin dengan guyuran air shower. Setelah cukup lama dia berada di kamar mandi, Billy pun menyudahi acara mandinya. Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Dia pun langsung menghubungi Vera agar datang ke hotel tempat biasa dia check-in.
Entah kenapa, Billy sangat suka suasana di kamar itu. Membuat hasratnya kian menggebu tiap kali dia melakukan hubungan suami istri di sana. Begitu pun dengan pasangan kencannya, akan dengan mudah dia kendalikan untuk memenuhi hasratnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....