Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 63 Salah Sangka


__ADS_3

Sepulang dari dokter kandungan, Alka terus saja mengoceh. Dia begitu merasa begitu bahagia dapat melihat adik bayi yang ada di perut Hanna. Sementara Hanna dan Radid hanya menggelengkan kepala melihat kehebohan anak asuhnya.


"Ayah, nanti Alka mau minta sama Bunda agar dibuatkan adik bayi buat Alka," ucap Alka dengan wajah yang serius.


"Boleh, tapi mintanya nanti setelah papa kamu menikah sama Bunda," ucap Radid.


"Memangnya harus menikah ya Ayah?"


"Ya harus dong! Biar anaknya jadi anak sah."


"Berarti, Alka bukan anak sah? Bunda sama papa kan belum menikah tapi sudah punya Alka," tanya Alka dengan wajah yang serius.


Radid dan Hanna saling berpandangan mendengar pertanyaan dari keponakannya. Mereka menjadi bingung harus menjawab apa. Sampai akhirnya Radid mengeluarkan suaranya.


"Karena Alka anak istimewa. Tidak semua anak bisa seperti Alka. Jadi, Alka tidak usah bingung kenapa Bunda dan Papa belum menikah tapi sudah punya Alka," jelas Radid dengan hati-hati.


"Ayah, apa benar kalau Alka anak haram?" tanya Alka lagi yang sukses menohok hati kedua orang dewasa itu.


"Siapa yang bicara seperti itu? Alka tidak haram, tapi Bunda sama Papa kamu pernah melakukan kesalahan besar sehingga Alka bisa lahir ke dunia ini."


"Jadi, Alka ada karena kesalahan Bunda sama Papa?"


Astaga! Aku bingung menjelaskannya. Memiliki keponakan yang pintar dan kritis, membuat aku kesulitan untuk memberikan penjelasan pada Alka, batin Radid.


"Sayang semuanya sudah berlalu. Papa dan Bunda memang pernah melakukan kesalahan besar. Tapi sekarang mereka sudah sadar dan ingin memperbaiki semuanya. Mengenai Alka lahir dari mana dan dari siapa dengan alasan apa, itu sudah menjadi takdir hidup Alka, yang tidak mungkin bisa dirubah. Kita hanya bisa memperbaikinya dengan tidak mengulang kesalahan Bunda dan Papa kamu," tutur Hanna panjang lebar. Dia yakin, meskipun Alka masih empat tahun, tetapi dia sudah mengerti banyak tentang urusan orang dewasa.

__ADS_1


"Iya, Ibu. Alka janji mau jadi anak baik. Biar Ayah, Ibu, Bunda dan Papa tidak kecewa sama Alka."


"Ayah bangga sama Alka. Ayo turun, kita sudah sampai!" ajak Radid saat dia sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah.


Dia sedikit mengerutkan keningnya saat melihat mobil Rain ada di luar gerbang rumahnya. Sementara Alka langsung berlari masuk ke dalam rumah saat tahu papanya sudah datang. Bocah kecil itu terus mencari keberadaan Bunda dan papanya. Hingga tiba di kamar Summer, dia mendengar suara Summer seperti sedang menangis.


"Rain, pelan-pelan! Perih tahu. Kamu sih, main buru-buru aja, bukannya pelan-pelan."


"Iya maaf! Aku gak tahu bakal begini jadinya. Masih sakit gak? Biar aku tiup dulu."


Baru saja Rain selesai bicara, pintu kamar tidur Summer tiba-tiba saja ada yang mendobrak dari luar. Terlihat Alka dan Radid mematung di ambang pintu. Melihat Rain yang sedang meniup tangan Summer yang mengalami luka bakar.


"Kalian, sedang apa?" tanya Radid mengusir rasa malunya karena sudah salah sangka.


"Kalian tidak ngapa-ngapain, 'kan?" tanya Radid lagi.


"Tidak! Tadi aku dan Summer sedang memasak di dapur. Tapi aku tadi kelupaan malah melempar tempe ke minyak goreng, sehingga mengenai Summer."


"Beneran begitu?" selidik Radid yang takut kecolongan.


"Iya, Abang! Lihat saja di dapur masih berantakan!" Summer yang sedari tadi diam, akhirnya angkat suara.


"Ya sudah! Kalian jangan berduaan di kamar kalau belum halal, karena setan itu menggoda saat ada kesempatan."


"Baik, Bang!" sahut Rain kikuk. "Ayo Alka kita lanjutkan masak. Biar Bunda istirahat saja."

__ADS_1


Alka tidak langsung mengiyakan ajakan papanya. Dia menghampiri Summer yang sedang duduk di tepi tempat tidur. "Alka mau lihat Bunda dulu. Bunda, mana yang sakit?"


"Ini Sayang. Tidak apa-apa kho!" Summer pun menunjukkan tangannya yang terlihat menggelembung berwarna cokelat.


"Sakit ya, Bun?" tanya Alka khawatir. Dia pun meniup luka bakar di tangan Summer.


"Sudah tidak, Sayang. Kan sudah Alka tiup jadi langsung sembuh. Makasih ya, Nak!" Summer mencium pucuk kepala Alka sebelum putranya pergi bersama dengan Rain.


Summer hanya melihat kepergian Rain dan Alka yang keluar dari kamarnya. Sejenak termenung, memikirkan reaksi dari ayahnya Rain. Meskipun dia terus menepis semua prasangka buruknya, tetapi setiap ucapan dari ayahnya Rain masih terngiang-ngiang di telinga.


Semoga saja Ayah dan Ibu mau menerima Alka. Bagaimana pun juga, Alka tetap darah daging Rain. Meskipun mereka menyangkalnya, batin Summer.


Merasa bosan berada di kamar, Summer pun memilih untuk pergi ke dapur. Dilihatnya Alka sedang duduk di pundak Rain yang sedang memasak. Anak laki-laki itu terlihat senang memasak bersama dengan papanya.


"Alka turun, Nak! Rain kenapa kamu gendong Alka seperti itu?" tanya Summer panik.


"Biar Alka melihat dengan jelas bagaimana cara memasak."


"Iya Bun. Biar nanti Alka saja yang masak buat Bunda."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2