Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 32 Peringatan Billy


__ADS_3

Kehadiran Alka dalam acara syukuran bayi temannya Rain, menyedot perhatian semua orang yang datang. Bocah laki-laki itu menjadi rebutan para wanita muda yang belum memiliki anak. Mereka sangat gemas dengan wajah tampan Alka. Apalagi Alka begitu pandai berbicara.


"Mas Rain, anaknya simpan di sini saja ya! Biar putriku ada yang menemani," ucap Shelo, yang punya acara.


"Maaf Mbak Shelo, saya harus bicara dulu dengan Bunda Alka. Tapi kalau Alka sudah besar dan mau dijadikan menantu sih saya tidak keberatan," kelakar Rain.


"Papa, menantu itu apa?" tanya Alka dengan melihat ke arah Rain.


"Nanti kalau Alka sudah besar baru Papa jelasin," ucap Rain.


Alka hanya tersenyum menanggapi ucapan papanya. Dia begitu asyik melihat ke arah Shelo yang sedang mengganti popok bayi kecil itu. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya pada Shelo.


"Tante, dede bayi namanya siapa?" tanya Alka dengan tidak melepaskan pandangannya dari bayi kecil itu.


"Namanya Dede Zessi. Alka mau punya dede bayi gak?" tanya Shelo.


"Mau, Tante. Nanti puyang, Aka mau minta sama bunda." Alka terlihat bersemangat untuk meminta adik bayi pada bundanya.


"Bunda Alka kenapa tidak ikut ke sini?"


"Bunda di yumah. Kayena Bunda gak boyeh nginap di yumah papa. Aka kan mau nginap di yumah papa," jelas Alka.


Apa Mas Rain pisah sama istrinya ya! Tahulah, aku gak harus tahu banyak soal dia. Tapi kasian juga ya, masih kecil tapi jadi anak broken home. Semoga saja saat nanti sudah besar kamu jadi orang sukses. Meskipun berasal dari keluarga broken home, batin Shelo.


Terus saja Alka berbincang dengan Shelo. Sampai akhirnya ada seseorang yang menyapanya. Laki-laki itu sangat terkejut melihat kehadiran Alka di sana.


"Alka, dengan siapa ke sini?" tanya Billy yang baru datang ke rumah sepupunya.


"Om Biyyi? Aka sama Papa. Tuh, Papa yagi ngobong sama teman Papa."

__ADS_1


"Ngobong apaan? Ngobrol?" tanya Billy yang sedikit tidak mengerti maksud ucapan Alka.


"Nah iya begitu, Om." Alka menganggukkan kepalanya ke arah Billy. "Om, ke sini dengan siapa?"


"Dengan teman, Om. Ya sudah, Om ke sana dulu ya!" pamit Billy buru-buru.


Laki-laki itu menghampiri Jupiter yang merupakan sepupunya. Dia datang ke acara syukuran karena disuruh orang tuanya untuk menggantikan kedatangan mereka. Namun, Billy tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Alka di sana. Apalagi, dia baru tahu kalau Alka sudah bertemu dengan ayah kandungnya.


"Jupiter, mama dan papa titip salam. Maaf tidak bisa datang di acara syukuran putrimu. Beliau sedang di luar kota. Apa Om dan Tante ada di sini?" tanya Billy pada Jupiter.


"Ada di belakang. Makasih sudah mau datang. Aku sangat tersanjung kamu mau datang ke sini. Biasanya kamu kan selalu sibuk dengan gadis-gadismu itu," sarkas Jupiter. Karena memang, hubungan mereka tidak seperti saudara pada umumnya.


"Bisa saja kamu, aku sudah mau menikah Jupiter. Nanti kamu datang ya! Istriku cantik sekali. Lebih cantik dari semua wanita yang ada di sini," ucap Billy dengan melirik ke arah Rain sekilas.


"Syukurlah kamu akhirnya tobat."


"Sudahlah, aku mau ketemu Om dulu. Ada hal yang ingin aku bicarakan," pamit Billy seraya pergi meninggalkan Jupiter yang sedang bersama dengan Rain dan yang lainnya.


"Jupiter, aku pulang dulu ya! Khawatir kemalaman, soalnya mau mampir ke tempat lain dulu," pamit Rain.


"Makasih ya sudah datang. Oh iya, soal rumah yang disamping itu, aku sudah bilang sama pemiliknya katanya mau dikeluarkan kalau memang ada yang berminat karena sudah lama tidak ditempati."


"Kapan aku bisa bertemu dengan pemiliknya?" tanya Rain dengan mimik serius.


"Kamu datang saja ke perusahaan Ganesha Corporation. Ketemu dengan CEO-nya Karena itu rumah milik istrinya," jelas Jupiter.


"Baiklah! Terima kasih informasinya. Mungkin hari senin aku akan menemuinya." Rain tersenyum senang karena dia akan membeli rumah untuk putranya.


Setelah cukup berbasa-basi, akhirnya Rain pun pergi dari sana. Namun saat dia tiba di parkiran, tangannya ditarik oleh Billy. Tentu saja hal itu membuat Rain dan Alka menjadi kaget. Mereka tidak pernah mengira kalau Billy akan bersikap seperti itu.

__ADS_1


"Kamu ayah kandungnya Alka? Awas saja kalau kamu gunakan anakmu untuk mendekati calon istriku. Selama ini aku yang menemani dia saat kamu mencampakkannya. Jadi jangan pernah berpikir untuk bisa kembali padanya!" seru Billy memperingati Rain.


"Aku memang sangat mencintai Summer. Tapi aku bukan orang yang egois. Aku tidak akan merebut Summer dari kamu kalau dia memang bahagia saat bersama dengan kamu. Tapi sekali saja kamu menyakitinya, aku pastikan Summer tidak akan pernah bisa bersamamu." Rain balik menunjuk ke arah Billy.


"Papa, ayo puyang!" ajak Alka dengan menggoyangkan tangan Rain.


Bocah kecil itu terlihat ketakutan melihat wajah dari dua lelaki dewasa di depannya. Karena dia tidak terbiasa melihat wajah-wajah yang mengeras seperti itu. Akhirnya Rain pun menetralkan emosinya yang tersulut oleh Billy.


"Maafkan, Papa! Ayo kita pulang!" ajak Rain.


Rain pun pergi begitu saja dengan menggendong Alka. Dia tidak peduli dengan Billy yang terus melihatnya dengan sorot mata permusuhan. Yang terpopuler baginya, dia bisa menghilangkan rasa ketakutan Alka.


"Papa, kenapa beyantem sama Om Biyyi? Apa Om Biyyi takut kayau Papa yebut Bunda? Tapi kan, Bunda punya Aka. Kenapa Om Biyyi sama Papa hayus beyebut?" tanya Alka setelah keduanya berada di mobil.


"Bunda kamu itu limited edition, dulu juga Papa kesusahan menjauhkan para pengganggu yang terus mendekati Bunda," ucap Rain dengan pandangan lurus ke depan melihat ke arah jalan raya.


Sampai aku nekat melakukan hal itu. Karena aku pikir, seorang gadis pasti akan tergantung pada laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya. Waktu itu aku takut kalau Summer berpaling dan lebih memilih putra pengusaha yang sedang mendekatinya, batin Rain.


"Kenapa Papa kesusahan kayau Papa meyasa yakin sama Bunda. Aka juga yakin kayau Bunda tidak akan tinggayin Aka. Padahang Om Biyyi dan Papa yebutin Bunda."


"Karena Alka darah daging Bunda. Orang yang paling Bunda sayang. Tidak akan ada orang yang bisa merebut bunda dari Alka. Tapi, Alka juga tidak boleh menyakiti hati Bunda. Karena sebagai seorang anak, kita harus berbakti pada orang tua, menyayangi dengan setulus hati seperti Bunda yang menyayangi Alka dengan sepenuh hatinya." Rain mengelus Rambut Alka dengan sesekali melirik ke arah putranya.


"Iya, Papa. Aka sayang sama Bunda sama Papa juga."


"Papa juga sayang sekali sama Alka."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2