
Bagas membawa semua medalinya masuk dan berjalan meninggalkan mereka semua, dengan suara keras dia memanggil Bunda Yuli.
"BUNDAAAAA.A......." teriak Bagas.
"Apaaaaa.....!" teriak kesal Yuli yang duduk meminum susu.
Bagas dengan cepat menaruh medalinya dihadapan Bunda Yuli yang terlihat sangat banyak.
"Apa maksudnya,?" tanya Bunda.
"Hadiah," ucap Bagas.
"Siapa yang memberikanmu hadiah sebanyak ini,?" tanya Yuli membuat Bagas mendengus kesal.
"Apa Bunda belum melihat Vidio yang ku kirim,?" tanya Bagas dan mendapatkan gelengan kepala dari Bunda Yuli.
"Lihatlah dulu," ucap Bagas dengan wajah sangat sombong.
"Hah? apa kamu menyogok wasitnya,?" tanya Yuli kaget.
"Mana mungkin," saut Bagas duduk di sebelah Bunda dengan wajah sombongnya.
"Apa anak durhakaku itu dapat medali juga? pantas saja dia tidak mau mengajak Bunda," ucap Yuli, Ayu yang baru nyampe mendengar ucapan Bundanya menelan salivnya kasar, dan pelan pelan menaiki tangga.
"Ayu, kemarilah," ucap Bagas memperlihatkan gigi putihnya. Ayu menatap tajam Bagas dengan wajah yang sudah ingin memakan Bagas.
__ADS_1
"Ayu sini,!" ucap Bundanya membuat Ayu hanya bisa pasrah.
"Mana medalimu,?" tanya Bundanya membuat Ayu dengan cepat memperlihatkan medalinya dengan senyuman sangat manis.
"Hanya modal tampang doang tuh Bun," ucap Bagas membuat Ayu melototkan matanya.
"Kecantikan,?" tanya Bundanya dan di angguki oleh Bagas.
"Gak ada prestasi pelajaran,?" tanya Bundanya dan mendapatkan gelengan kepala dari Bagas.
Ayu sungguh ingin mengusir Bagas detik saat ini juga, sangat menyebalkan membiarkan bocah satu ini kemari.
"Lihat Bun, ini medali matematika juara satu se-provinsi, ini IPA se-provinsi, ini catur. Bahkan Bagas akan mewakili negara untuk olimpiade renang," ucap Bagas membuat Ayu semakin ingin menangis di tempat.
Elena dan Vera ikut duduk di samping Bunda.
"Ayu belajar lagi, jangan main trus," ucap Bundanya.
Ayu dengan kesal duduk di samping Bagas. mencubit pinggang Bagas dengan sangat kesal.
"AHGGGGGGG...!" teriak Bagas
"Hei anak bodoh," ucap Yuli memukul lengannya.
"Aduh maaf Bun," ucap Bagas hampir saja menindih perut Bundanya.
__ADS_1
"Mau hadiah apa,?" tanya Bundanya menatap kedua anaknya.
"Mau laptop baru Bun, laptop ku bekas punya Kak Alfa," ucap Ayu.
"Motor Bun," ucap Bagas dengan mata membinar.
"Hah? kau gk ada perasaan jadi orang," ucap Ayu kesal.
"Gak ada uang untuk sekarang, nanti Bunda akan membelikan martabak saja buat kalian berdua," ucap Bundanya membuat dan Bagas lemas seketika.
"Vera, Bunda dengar dari suamimu laptop mu sudah mulai loading,?" tanya Bunda.
"Tidak apa Bun, masih bisa dipakai kok," ucap Vera.
"Nanti Bunda belikan yang baru, kasih Ayu saja punyamu," ucap Bundanya membuat Ayu melototkan matanya sempurna.
"Bunda ihh, Ayu bukan orang yang nampung benda bekas, laptop kak Alfa sama Kak Alfi sudah ada sama Ayu, masa mau di tambah lagi," ucap Ayu dengan sangat manja. Ayu mau baru juga," lanjutnya.
"Bunda, Hp ku lihat," ucap Bagas memperlihatkan hpnya yang sudah retak-retak.
"Hp mu habis gempa,?" tanya Bundanya dan mendapatkan gelengan kepala dari Bagas.
"Jatuh Bun," ucap Bagas.
"Yang jatuhin siapa,?" tanya Bundanya.
__ADS_1
"Gak sengaja Bun," saut Bagas.
"Elena nanti berikan hp mu pada Bagas, nanti Bunda akan membelikan yang baru untukmu," ucap Bunda Yuli membuat Bagas merasakan apa yang di rasakan oleh Ayu.