
Alfa dan Vera turun dengan wajah kesal mereka, Alfa lebih dulu melangkah sedangkan Vera ikut mengekor dibelakang. Vera seketika menghentikan langkahnya saat melihat Elena duduk dibawa, entah hatinya seperti apa saat ini, antara senang dan sedih, senang karena Elena kembali dan sedih karena telah mengambil yang harusnya Elena miliki.
"Hei ayo." ucap ketus Alfa membuat Vera menahan air matanya dan ikut melangkah turun.
Elena yang melihat Vera sudah turun air matanya tumpah seketika, Elena berlari ke arah Vera dan memeluknya dengan erat. Vera hanya bisa mengeluarkan air matanya seraya membalas pelukan sahabat nya, dia tidak bisa berkata-kata.
"Maaf kan aku Ver hiks.." ucap Elena.
"Tidak, harusnya aku yang meminta maaf," saut Vela lirih.
"Ayo kita duduk disana, semua orang sudah menunggu," ucap Vera dan di angguki oleh Elena pelan.
Nurul Dan Siska datang dengan raut wajah sangat marah melihat suaminya. Siska mengambil sapu dan berjalan ke arah Kevin, sontak membuat Kevin menarik putrinya dan menjadikan putrinya perisai.
"Ibu...!" ucap Azkia panik.
"Suami kurang ajarrr...!" ucap Siska kesal.
"Duduklah dulu," ucap tegas Aidil membuat kedua perempuan yang sedang marah tersebut duduk dengan kesal.
"Letakkan sapunya" pinta Kevin.
"Gak akan, aku akan menombakmu jika macam-macam" saut Siska kesal.
"Dimana istriku,?" tanya Aidil.
"Dia baru selesai mandi, dan akan kesini sebentar lagi," saut Nurul menatap tajam ke arah suaminya.
"Kami turut berduka cita ya Nak," ucap Siska lembut menatap Elena.
"Terimakasih Aunty," saut Elena membuat Vera kebingungan, belum tau apa yang terjadi, sedangkan Alfa sudah mengetahuinya saat menenangkan Bundanya tadi.
__ADS_1
"Elena, apa yang terjadi,?" tanya Vera.
"Orang tua Vera mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa mereka," saut Rei membuat Vera sangat terkejut. Alfi hanya bisa diam memendam rasa bersalahnya.
Saat Vera ingin mendekati Elena, kebetulan Bunda Yuli datang bersama Bimo serta Istrinya. sebelum duduk Bimo mengedip-ngedipkan matanya kepada Vera dan Alfa dengan senyuman jailnya, Vera hanya bisa menunduk malu.
Yuli yang melihat Alfi dan Elena terkejut, Yuli kembali menangis dengan histeris berlari ke arah Elena dan memeluknya erat.
"Kamu yang sabar ya Nak," ucap Yuli lirih.
"Iya Bun, Terimakasih," saut Elena mulai sedikit gugup.
Yuli hanya menatap Alfi sekilas dan ikut duduk, dia masih sangat marah dengan putranya yang tidak menghadiri pernikahan Kakaknya.
"Kenapa dia ada disini,?" tanya Yuli menatap Alfi.
"Maaf Bun," ucap Alfi pelan.
"Maaf Bun, Kak Alfi tidak salah, Kak Alfi yang menyelamatkan orang tuaku hingga tidak pulang," saut Elena menatap mereka. Yuli kaget menatap Alfi sedangkan Alfi hanya terpaksa mengangguk walaupun kenyataannya dia yang menabrak kedua orang tua Elena.
"Baiklah, mungkin aku saja yang akan mengatakan apa yang terjadi, Aku ingin jika Alfi dan Elena yang menjelaskan tapi saya melihat mereka sedikit takut mengatakan hal yang sebenarnya." ucap Aidil yang seketika membuat semua orang menatapnya dengan wajah serius.
"Biar Alfi saja yang katakan," saut Kevin menatap Alfi.
"Hei anak Cicak, katakanlah, tumben sekali kamu takut," saut Bimo.
"Bunda, aunty, dan adik Alfi yang ada disini, Alfi ingin mengatakan hal yang sudah terjadi tanpa sepengetahuan kalian semua, dan Alfi harap kalian tidak membenci kami karena hal itu. Baiklah terus terang Alfi katakan jika aku dan Elena sudah menikah tadi siang sebelum ayah dan Ibu Elena meninggal dunia." ucap Alfi, seketika ruangan hening, Elena menatap mereka seraya menganggukkan kepalanya.
"Maafkan saya Bun, jangan marah pada Kak Alfi, orang tua Elena yang mengira jika Alfi adalah Calon suamiku karena Elena pernah mengirimkan foto Alfa, tapi wajah Kak Alfi dan Kak Alfi mirip hingga Ayahku menikahkan kami, sebelum itu Ayah dan Ibuku menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga Kak Alfi karena tidak memberikan kabar sama sekali atas pernikahan kami. Ayahku mengatakan hal itu sebelum pergi," ucap Elena menunduk menahan air matanya.
Tentu saja mereka semua syok, terutama Bunda Yuli dan juga Vera yang tak berkedip menatap mereka.
__ADS_1
"Alfi minta restu Bunda," ucap Alfi.
Bunda Yuli melangkah ke arah mereka, berdiri menatap mereka, Alfi dan Elena hanya bisa menunduk takut jika Yuli akan marah, namun malah sebaliknya Bunda Yuli malah memeluk mereka berdua secara bersamaan.
"Selamat ya Nak, Bunda hanya bisa memberikan ucapan selamat pada kalian, Bunda tidak mungkin memarahi kalian karena ini, Bunda tau Elena adalah gadis yang baik, tapi Bunda khawatir jika putra Bunda tidak bisa menjadi suami yang baik untuk wanita seperti mu Nak," ucap Yuli.
Ayu ikut melangkah ke sana dan memeluk Kakaknya sangat senang, perjodohan yang selalu ia pikirkan benar-benar terjadi, menjodoh-jodohkan Elena dan Alfi serta Vera dan Alfa.
"Jaga Istrimu baik-baik ya sayang," ucap Bunda Yuli menghapus air matanya.
"Hubungan butuh waktu, jangan pernah berfikiran untuk berkahir, kalian harus terus berfikir untuk terus bersama menggenggam tangan sama-sama sampai mempunyai anak dan Cucu nantinya, Bunda senang kok m, Elena wanita baik seperti Vera," ucap Yuli.
"Kak Alfi, jangan nakal lagi, sekarang Kak Alfi sudah punya Kak Elena, awas saja kalau Kak Alfi berani buat Kak Elena menangis, Ayu yang akan turun tangan nantinya" ucap Ayu kembali melangkah duduk.
"Kak Alfa juga, jangan macam-macam sama Kak Vera," omel Ayu.
"Mana mungkin dia Bernai macam-macam pada adikku," saut Danial tertawa renyah.
"Kak Danial, tadi Kak Alfa sudah gini-gini sama Kak Vera," ucap Ayu menabrak-nabrakkan kedua telunjuknya, Vera dan Alfa membulatkan matanya sempurna.
"Wuahahaha ternyata bukan cuma aku yang melihatnya, Anak Cicak sudah menempel tadi tapi aku malah masuk sembarangan, maaf Anak Cicakku aku lupa jika ini malammu," ucap Bimo tertawa berbahak-bahak.
"Hei Om, hentikanlah, itu tidak seperti apa yang kamu lihat," ucap kesal Alfa.
"Tapi Kak Alfa cium Kak Vera di lantai depan pintu," ucap Ayu ceplos.
"Wuahahahahaha, kalian seperti Cicak yang menikah pindah-pindah tempat, tadi aku masih melihat mu dikasur tapi kenapa sudah didepan pintu, wuahahahahahhaha" ucap Bimo memegang perutnya.
Vera menundukkan kepalanya, wajahnya sudah memerah, telinganya juga sudah sangat panas malu mendengar ucapan Bimo dan Ayu.
"Kak Alfa senggol dong," saut Bagas mengedip-ngedipkan matanya.
__ADS_1
"Sini ku senggol anak SD mu," ucap Alfa membuat Bagas seketika panik, dan pura-pura meminta izin untuk pergi belajar.