
"Tidurlah," ucap Alfi lembut pada Elena.
"Kamu,?" tanya Elena.
"Duluanlah, aku ingin mencari angin sebentar," saut Alfi.
Elena menahan tangan Alfi, menatap Alfi dengan tatapan yang sangat susah di artikan. Alfa menatap Elena bingung.
"Apa kamu merasa kasihan padaku hingga sangat perhatian seperti ini? tanya Elena membuat Alfi menatapnya lembut.
"Apa maksudmu, istirahat lah," ucap Alfi namun Elena kembali menatapnya dengan air mata yang kembali mengalir.
"Aku mohon jangan pernah merasa kasihan padaku, aku sadar diri, aku bukan wanita yang kamu harusnya perlakukan seperti ini, aku tau kamu tidak punya sedikit hati untukku, kamu mencintai Vera bukan, jadi aku sungguh minta maaf telah membuatmu dalam masalah sangat serius seperti ini, aku mengacaukan segalanya, mengacaukan masadepanmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jika kamu hanya merasa kasihan padaku, jangan perhatian seperti ini, aku punya hati Kak, aku takut." ucap Elena.
"Hapuslah air matamu, aku sudah mengabaikan segalanya, kamu adalah masadepanku saat ini dan seterusnya, jangan pernah pikirkan masa depanku sendiri, karena masa depanku ada bersamamu untuk selamanya, jika kamu merasa aku mencintai Vera, iya aku memang mencintainya namun sudah sangat mustahil sekarang, aku sudah membuka hatiku untukmu, aku sudah berjanji dalam pernikahan dan berjanji pada almarhum ayahmu, aku akan melindungi, mencintaimu, da membahagiakan mu" ucap Alfi dengan suara yang begitu tenang.
Elena seketika terdiam, terkesima dengan ucapan Alfi, air matanya tambah mengalir deras dikedua pipinya.
"Aku tidak menyukai wanita yang membuang-buang air matanya, jadi jangan buat aku tidak menyukaimu karena air mata, buat aku bahagia dengan senyumanmu, senyumanmu, air matamu sangat mahal, jangan buang-buang air matamu itu, simpan untuk air mata kebahagiaan kita nantinya." ucap Alfi menghapus kedua air mata Elena.
"Sekarang tidur lah." ucap Alfi lembut dengan tangan mengelus rambut Elena lembut.
Elena menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, senyumannya terukir sedikit demi sedikit mengingat ucapan Alfi padanya, entah mengapa hatinya begitu hangat saat melihat wajah dan mata Alfi yang sangat tulus mengatakan hal tersebut.
Saat merasa ada yang membuka pintu, Elena menutup matanya untuk pura-pura tidur, tak lama sangat terasa seseorang menaiki kasur yang ia tempati, jantungnya semakin berdegup kencang saat seseorang ikut masuk kedalam selimut yang ia kenakan.
"Hei, apa kamu sudah tidur,?" tanya Alfi.
"Apa kamu tidak sesak menutup seluruh badanmu dengan selimut?" ucap lagi Alfi.
Alfi menurunkan selimut yang menutupi kepala Elena, Alfi menatap dengan sangat serius, senyuman Alfi terukir saat melihat mata Elena yang sangat ketahuan jika hanya berpura-pura tidur.
"Kalau sudah jadi istri itu kan seharusnya suaminya sudah melakukannya, tapi aku kok belum ya, apa aku lakukan saja diam-diam mumpung dia tidur," ucap Alfi.
"Jangan, tidak sah jika melakukannya diam-diam tanpa memintanya lebih dulu," ucap refleks Elena. Alfi menahan tawanya melihat wajah Elena yang sangat panik saat menyadari jika dirinya sudah ketahuan bohong.
"Apa jika aku memintanya, kamu akan memberikannya,?" tanya Alfi.
"Ti..ti....tidak, kamu kan belum mencintai ku," saut gugup Elena kembali menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, menyembunyikan wajahnya yang sangat merona merah, malu bercampur aduk dengan perasaan nya.
__ADS_1
"Hahahaha, kamu sungguh lemot, apa aku harus memanggil mu, istri lemot,?" ucap Alfi.
"Apa kamu mau memanggilku begitu Kak,?" tanya Elena membuka selimut yang menutupi wajahnya.
"Apa kamu mau,?" tanya Alfi mengerutkan keningnya.
"Ada kata istrinya,?" tanya Elena dan di angguki oleh Alfi.
"Hahaha, tidak tidak tidak, jangan membuatku terus seperti ini, pergilah," ucap Elena.
"Humm.. ini kan kasurku," saut Alfi.
"Tapi kan aku istrimu, jadi aku yang punya hak mulai sekarang, karena kata orang milik suami juga milik istri, tapi milik istri tetap milik istri," ucap Elena.
"Apa kamu mengganggapku suami,?" ucap Alfi.
"Kan kita sudah menikah, sudah wajar dong kalau aku menganggap mu suami, apa kamu tidak menganggap ku,?" tanya Elena.
"Hah? maaf maaf aku salah bicara," ucap Elena kembali menutup wajahnya dengan selimut, namun Alfi langsung menahannya.
"Kenapa istriku harus lemot seperti ini," ucap Alfi menahan tawanya melihat pipi Elena yang sangat merah.
Cup
Alfi mencium singkat bibir Elena, Elena seketika terdiam matanya tidak berkedip sama sekali, tangannya refleks memegang bibirnya.
"Apa kamu menciumku barusan,?" tanya Elena merasa tidak percaya.
Cup
Alfi kembali melakukan nya agak lama, membuat Elena sangat gemetaran, tidak tahan dengan situasi sekarang.
"Pertanyaan bodoh apa yang kamu katakan, tidurlah," ucap Alfi ikut membaringkan tubuhnya di samping Elena. Elena masih setia memegang bibirnya.
"Sampai kapan tanganmu memegang bibirmu," ucap Alfi menahan tawanya.
"Ahg, anu cuma cek bibirku masih ada lipstik atau tidak dan ternyata sudah tidak ada," saut Elena.
"Kenapa kamu sangat santai tidur, apa kamu pernah tidur sama perempuan,?" tanya Elena dan di angguki oleh Alfi. Elena membulat kan matanya, refleks menendang nendang Alfi.
__ADS_1
"Turun gak, turunnnn..! aku gak mau dekat denganmu....!" ucap kesal Elena.
"Hei, hentikan, aku hanya pernah tidur dengan perempuan itu saja, kenapa kamu sangat marah," ucap Alfi.
"Pikir sendiri, kenapa kamu sangat menyebalkan, aku akan membencimu seumur hidupku," ucap Elena tanpa sadar.
"Kan aku tidur nya sama perempuan itu seperti Bunda, Ayu, aunty, sama adik sepupuku," ucap Alfi membuat Elena menghentikan kelakuannya.
"Astaga, kenapa aku bisa marah seperti ini, aku bahkan sudah memperlihatkan rasa cemburuku, hah? aku cemburu, tidak tidak tidak, aku tidak cemburu," gumam Elena.
"Kamu sudah mencintai ku Sekarang,?" tanya Alfi.
"Hah? bagaimana kamu bisa sangat cepat menyimpulkan? ucap kesal Elena.
"Tuh tadi kamu cemburu, berarti kalau cemburu tandanya,?" ucap Alfi sengaja ingin memancing Elena.
"Cinta," saut Elena membuat gelak tawa Alfi membahana.
"Hah? ... astaga, kenapa kamu menyebalkan, aku tidak cinta, tidak cinta, kamu sengaja saja ," ucap Elena.
"Ayolah ngaku saja," ucap Alfi.
"Tidak." saut Elena
"Ngaku."
"Tidak."
"Ngaku."
"Tidak."
"Tidak." saut Alfi.
"Ngaku." saut refleks Elena.
"Hah? astaga.
"Wuahahaha kamu ternyata memang mencintai ku," ucap Alfi
__ADS_1