
Vera keluar dari kamar mandi dengan rambut lurus yang masih sedikit basah, Alfa yang tak sengaja menoleh terpanah sejenak lalu mengalihkan matanya ke arah yang berbeda.
"Cepatlah, orang-orang sudah menunggu untuk makan," ucap Alfa.
"Iya bawel," saut Vera membuat Alfa hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, mulai melatih kesabarannya untuk saat ini.
Mereka turun membuat semua mata yang berada di meja makan sontak melihatnya, Bagas hanya bisa menelan salivanya kasar.
"Astaga, Bagas sepertinya sudah telat, Bagas mau pulang duluan saja," ucap Bagas berdiri dari tempat duduknya demi menghindari Alfa namun Ayu menahan tangannya dengan wajah sumringah.
"Jangan bohong, duduklah makan, apa kamu tidak menghargai kami,?" ucap Ayu membuat Bagas sungguh sangat kesal.
Alfa duduk lebih dulu disusul oleh Vera, Vera hanya bisa menampakkan senyum canggungnya melihat semua orang berkumpul sarapan.
"Nak Vera tuangkan nasi dan lauk ke piring suamimu, kalian berdua harus saling mengasihi, peduli satu sama lain, mengerti satu sama lain, tugas suamimu mencari uang dan tugas seorang istri mengurus rumah tangga, perhatian yang sangat perlu dalam suatu hubungan keluarga, Alfi dan Nak Elena juga," ucap Yuli dengan senyuman tulus.
"Iya Bun," kompak Elena dan Vera.
__ADS_1
Alfi hanya menatap Vera yang kini tidak mungkin lagi menjadi miliknya, takdir mungkin tidak bisa menyatukan berdua, jujur saja hati terdalam Alfi masih menyimpan rasa kepada Vera yang kini sudah menjadi istri kakaknya atau saudara kembarnya. Elena melihat Alfi yang menatap Vera terus menerus hatinya sedikit terasa perih, Elena sebenarnya sudah mempunyai rasa pada Alfi semenjak pertama kali bertemu, dirinya juga sedikit berharap bisa bersama Alfi untuk selamanya namun kini hatinya mulai bimbang melihat Alfi yang hanya memberikannya harapan palsu hanya untuk membuatnya bahagia, menyembunyikan perasaan sesungguhnya. Elena tau betul tawa dan semua yang diberikan Alfi hanya untuk dirinya bisa tersenyum, menurutnya Alfi hanya tidak ingin mengingkari janji pada orangtuanya.
Vera sadar jika dirinya ditatap oleh Alvi sedari tadi namun dia hanya diam, seakan tidak terjadi apa-apa, Vera mulai membuang pikiran negatifnya dan menuangkan nasi sebanyak-banyaknya kedalam piring Alfa serta Lauk yang cukup banyak, piringnya sudah seperti gunung tertinggi di meja makan.
"Ini sangat banyak," ucap Alfa ingin berteriak memaki-maki Vera namun disana sangat ramai.
"Makanlah biar kuat mencari rezeki," ucap Vera tersenyum licik ke arah Alfa.
"Benar yang dikatakan Vera, kamu diluar sana mungkin hanya makan roti sepotong, pulang-pulang tubuhmu sudah kurus," ucap Bundanya.
"Itu tidak kurus Bun, tapi kekar," saut Bagas.
"punya banyak daging juga mantap kok," ucap Yuli membuat suaminya hanya menahan tawanya.
,
"Apaaa...!" ucap Yuli menatap suaminya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"ggg....a...ak..." ucap Aidil panik.
"Owh jadi seperti itu Kak, lihat Bunda sama Daddy ya Kak Alfi, Kak Alfa, ini seperti yang dikatakan Bunda sebelumnya jika didalam keluarga itu harus perhatian, dan saling menyayangi, jadi kita dapat simpulkan bahwa perhatian dan kasih sayang seperti yang Bunda lakukan barusan," ucap Bagas menahan tawanya.
"Gas, berani sama Bunda?" ucap Yuli dengan suara lembut.
"Hehhee mana mungkin lah Bun, lagian Daddy memang cari masalah, Bagas tau jika Daddy mau ketawa karena melihat tubuh Bunda yang sudah gemuk," ucap Bagas.
"Jadi sudah gemuk ya...?" ucap Yuli lagi.
"Mana mungkin lah Bun, Bagas kan cuma kasih tau apa yang Daddy pikirkan," ucap Bagas membuat Aidil hanya bisa diam.
"Ayo makan," ucap Aidil membuat mereka semua diam dan mulai melahap makanannya.
"Kak Alfi makan, malah bengong," ucap Bagas membuat Alfi tersadar dari hayalannya.
""Gimana cara aku menghabiskan makanan sebanyak ini," gumam Alfa sangat kesal.
__ADS_1
"Habisi ya, biar bertenaga," ucap Vera yang semakin membuat Alfa sangat-sangat kesal.
"Nih cewek satu, punya dendam berapa sih, heran gue..." gumam Alfa.