Jodoh Twins Yang Tertukar

Jodoh Twins Yang Tertukar
Takdir


__ADS_3

Ibu Elena hanya bisa berbaring sedangkan suaminya dengan tubuh yang sangat ia paksakan duduk dengan tangan yang masih di infus, peralatan lainnya ia lepas karena sangat mengganggu.


"Duduklah," ucap Pak Penghulu pada Alfi yang hanya berdiri bengong.


Elena juga tidak bisa berkata apa-apa lagi, dirinya sendiri sama dengan Alfi, selalu di potong jika ingin berbicara.


"Saya Nikahkan dan kawinkan engkau Dalfi Azhari Haqiqi Adhitama Bin Aidil Adhitama Putra dengan putri saya yang bernama Elena Dwitama Maharja dengan maskawin dibayar tunai." ucap Ayah Elena dan menatap Alfi dengan tatapan memohon.


Alfi seperti terhipnotis dan merasa sangat bersalah pada mereka hingga membuatnya mau tidak mau harus mengatakan hal yang akan menyangkut masa depannya.


"Maafkan aku Daddy, Bunda, kakak, Oma dan Paman Aunty," gumam Alfi.


"Saya Terima nikah dan kawinnya Elena Dwitama Maharja dengan maskawin dibayar tunai." ucap Lagi dengan mata yang terpejam, dirinya saat membuka matanya akan sudah bukan laki-laki jomblo lagi.


"Bagaimana para saksi, Sah? ucap Pak Penghulu pada saksi yang berupa orang Ayah Davina dan beberapa suster.

__ADS_1


"SAH." ucap mereka membuat Ayah Elena tersenyum ke arahnya.


Selesai memakaikan cincin, Ayah Elena memeluk Alfi.


"Jaga Anakku, kami tidak pernah memperhatikannya karena pekerjaan, jadi saya harap kamu bisa memberikan nya perhatian yang lebih, Ayah tidak merasa dendam sama kamu Nak, kamu laki-laki baik, lupakan kejadian kemarin," bisik Ayah Elena dan hanya di angguki oleh Alfi yang merasa dirinya sedang bermimpi.


"Sayang, kamu sudah punya suami, kamu sudah besar sekarang, maafkan Ayah tidak pernah memberikan mu kasih sayang," ucap Ayahnya membuat Elena meneteskan air matanya, dia sungguh seperti belum percaya dengan hari ini.


"Sayang, kemarilah bersama suamimu," ucap Ibu Elena dengan suara dipaksakan.


"Elena, Jangan seperti ibu yang tidak becus menjadi ibu bagi anak-anak nya, jadi lah wanita yang lembut dan penyayang, menyayangi suamimu dan anak-anak kalian kelak," ucap Ibunya.


"Nak Alfi, sampai kan permohonan minta maaf kami pada ayah dan ibu mu karena menyuruhmu menikah tanpa kehadiran mereka, sampai kan jika kami sangat sangat minta maaf," ucap Ibu Elena meneteskan air matanya, tiba-tiba Ibu Elena menutup Matanya pelan, yang membuat Elena sangat kaget.


"Ibu? panggil Elena dengan suara pelan.

__ADS_1


"IBUUUUUU....! teriak Elena menggoyang-goyangkan tubuh ibunya yang sudah tidak bernafas lagi.


"Ayah, Ibu kenapa hiks...hiks..," ucap Elena tapi tidak ada sautan dari Ayahnya, Elena menoleh ke belakang dan melihat Ayahnya sudah berbaring di Lantai.


"AYAHHHHH.. hiks..hiks.. Bangun.. Ayah..ibuuu.." ucap Elena langsung tak sadarkan diri.


Alfi dan Asisten Ayah Elena segera berlari keluar memanggil dokter, namun semuanya sudah terlambat, kedua orangtuanya sudah tidak bernafas lagi, sangat sakit dan pedih jika berada di posisi Elena.


Elena membuka matanya, dan hanya melihat Alfi yang duduk disampingnya.


"Ayah, Ibu, Kak Ayah dan Ibuku mana? Mereka baik-baik saja kan,?" ucap Elena dengan air mata yang kembali menetes.


"Sabar ya, tuhan lebih menyayangi mereka," ucap Alfi menahan air matanya, sangat merasa bersalah kepada mereka, hatinya sangat merasa seperti penjahat yang baru saja membunuh 2 orang gadis.


"TIDAKKK...! AYAH DAN IBU TIDAK PERGIII..." teriak Elena ingin segera turun namun Alfi lebih dulu memeluknya, entah mengapa dirinya langsung memeluk Elena begitu saja.

__ADS_1


"Lepaskan..hiks.. Ayah dan Ibuku membutuhkan Ku.." ucapnya dengan tangisannya.


__ADS_2