
Alfi terus memojokkan Elena, Elena hanya bisa menelan salivanya kasar, dia belum siap dalam hal apapun, dan dia tidak menyangka akan hal ini.
"Aku tidak akan menundanya lagi Alan, hasrat ku sudah berada di puncak, aku tidak akan melepaskan mu, aku akan mencintaimu dengan ini, aku tidak akan kehilangan dirimu dengan ini," ucap Alfa menarik Alana dan mengangkatnya ke arah kasur.
Alana hanya bisa diam, sudah pasrah apapun yang terjadi, dia menutup matanya sangat malu untuk membuka matanya.
"Aku akan mengambil Pagi pertamaku, bukan malam pertama, dan aku pertama kali melakukan hal seperti ini," ucap Alfi.
"Apa kamu sudah bersedia memberikannya untukku,?" tanya Alfi pelan di samping telinga Elena, hembusan nafas Alfi sangat terasa di telinganya, membuatnya merasa sedikit merinding, kepalanya entah mengapa refleks mengangguk.
"Terimakasih, aku akan melakukannya," ucap Alfi.
gerakan demi gerakan membuat kedua tubuh tersebut kehilangan kain, Alfi menatap dari atas sampai bawah, memperhatikan semua tubuh Elena, ingin mengetahui semua apa yang ada di tubuh Elena. Elena hanya menutup matanya dengan wajah yang sangat malu.
Alfi mulai memberikan ciuman hingga ciumannya sangat ganas, Elena tidak tau harus berbuat apa hingga dia tak mau bergerak sedikitpun.
Bibir Alfi sudah berkeliaran kemana-mana hingga berada di gunung kembar, beberapa kali Lida disana bermain membuat Elena mengeluarkan suara yang sangat merdu ditelinga Alfi, Hasrat Elena seketika naik, membuat tangannya menekan kepala Alfi untuk lebih memperdalamnya.
Tangan Alfi beralih kebawah sana mencari sesuatu yang akan dia masuki nantinya, jari Alfi bermain disana yang semakin membuat Elena terus mengeluarkan suara halusnya.
__ADS_1
Alfi memperbaiki posisi Elena, Elena membuka matanya dan tak sengaja menatap sesuatu yang panjang melengket dibawah perut Alfi, dia tak bisa lagi membayangkan, hasratnya juga sudah tidak bisa menolak.
"Bersiaplah, aku akan memulainya," bisik Alfi.
Alfi mengarahkan tombaknya dengan pelan, mengeker dengan sangat sempurna, pelan-pelan masuk, membuat Elena merintih sakit.
"Sakit," ucap Elena mengeluarkan Air matanya.
"Maaf, aku akan menyudahinya," ucap Alfi namun ditahan oleh Alana.
"Lakukanlah, ini adalah milikmu," ucap Elena.
Alfa dan Vera yang ingin berangkat tak sengaja mendengar suara jeritan di dalam kamar Alfi, Vera yang penasaran dan mengira Alfi memukul Elena ingin mendobrak pintunya namun di tahan oleh Alfa.
"Apa yang kamu lakukan bego,?" ucap Alfa.
"Elena menangis," ucap Vera.
"Dekatkan telingamu di pintu," pinta Alfa dan dituruti oleh Vera.
__ADS_1
"Apa yang mereka lakukan? kenapa suaranya sangat aneh,?" ucap Vera membuat Alfa juga sangat penasaran.
Alfa membulatkan matanya sempurna saat mendengar suara tersebut, dengan cepat ia ingin menarik Vera namun seseorang sudah berdiri dibelakang mereka.
"Apa yang kalian lakukan,?" tanya Daddy-nya penasaran dan ikut menguping, Aidil segera menahan tawanya dan berlari pergi dengan sangat senang.
"Ayo," ucap Alfa menarik tangan Vera.
"Kenapa,?" tanya Vera.
"Mereka lagi....!" ucapan Alfa terpotong tak tau harus menjelaskan seperti apa.
"Lagi Apa,?" tanya Elena.
"Membuat Anak, sudahlah, ayo pergi," ucap Alfa menggaruk kepalanya prestasi, dia sudah keduluan oleh adiknya.
Vera mematung tak percaya, dia mendengar suara Elena seperti menangis dan menjerit sakit, dia sudah gemetaran membayangkan dirinya akan di sikat oleh Alfa nantinya.
"Apa pikiran kotor di otakmu sudah muncul? ayo pergi, dan lupakan hal tadi," ucap Alfa dan hanya di angguki oleh Vera dengan kepala yang masih kemana-mana berfikir negatif.
__ADS_1