
Vera menatap wajah Alfa yang membantunya berdiri dengan air mata yang masih menetes membasahi pipinya.
"Maaf," ucap Vera dengan suara yang begitu mendalam menyesali semua hal yang pernah terjadi.
"Kamu tidak bersalah, aku yang egois," ucap Alfa membuat Vera semakin meneteskan air matanya dan memeluk Alfa dengan erat, Alfa yang sedari tadi tidak bergeming mulai mengangkat tangannya yang terlihat gemetar memeluk Vera.
"Kenapa aku jadi gugup, sialaann..!" gumam Alfa.
"Ehem, numpang lewat.." ucap seseorang membuat Vera dan Alfa seketika melepaskan pelukannya dan menjauh satu sama lain.
"Ahh.. lanjutkan saja, saya hanya seekor nyamuk yang numpang lewat, saya sudah kebelet jadi mau tidak mau saya numpang lewat," ucap Danial tertawa kikuk. kedua pasangan tersebut sangat malu. Vera menundukkan kepalanya sangat malu sedangkan Alfa sudah menatap Danial dengan tatapan tajam.
"Astaga, aku harus segera ke kamar mandi," ucap Danial dan berlari pergi.
Vera merona merah, dia juga sudah malu menatap Alfa, hanya bisa berdiri memainkan jarinya. Alfa segera melangkah ke arah Vera dan menggenggam tangannya, Vera sangat kaget dengan apa yang di lakukan Alfa, dia hanya bisa pasrah di tarik oleh Alfa.
Diperjalanan tak adapun yang membuka perbincangan, Vera hanya bisa menatap keluar jendela sedangkan Alfa dengan wajah dinginnya fokus menatap ke depan menyetir mobilnya.
"Kenapa gelisah sekali,?" tanya Alfa tanpa menoleh ke arah Vera.
"Ah tidak, tidak apa-apa," ucap Vera panik.
"Katakanlah," ucap Alfa.
"Apa kamu sudah memaafkan ku,?" tanya Vera.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku memaafkan seseorang yang dengan bodohnya mau bunuh diri,!" saut ketus Alfa.
"Aku tidak bermaksud, aku hanya mengucapkannya saja karena ingin kamu pulang," ucap Vera membuat Alfa menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Jadi,?" tanya Alfa.
"Maaf, aku hanya ingin kamu pulang, aku setiap hari seperti orang mati yang bernyawa, selalu memikirkanmu dan semua kesalahan ku padamu," ucap Vera.
Alfa nampak menghembuskan nafasnya kasar, tanpa menjawab sepatah kata pun dia kembali menancap gasnya.
"Apa kamu sangat marah padaku,?" tanya Vera.
"Pikirkan lagi dengan otakmu," ucap Alfa.
"Maaf," ucap Vera.
"Karena aku banyak salah kepada mu, aku tidak akan bisa tenang jika kamu belum memaafkan ku," ucap Vera.
"Okay, aku memaafkan mu," ucap Alfa tak mau ngambil pusing lagi.
"Kamu bahkan selalu membentak ku," ucap Vera pelan namun masih terdengar oleh Alfa.
"Maafkan aku," ucap ketus Alfa.
"Gak niat," saut Vera.
__ADS_1
"Iya, Maafkan aku Istriku," ucap Alfa membuat Vera terdiam, jantungnya seketika berdegup kencang, rona di pipinya memerah. Alfa yang tersadar apa yang baru saja di ucapkannya ikut panik. dia tidak tau mengapa dia bisa mengatakan kata kata tersebut.
setelah kata-kata yang terlontar dari mulut Alfa, kini hanya ada kesunyian didalam mobil, Vera yang sudah merasa bosan hanya menyenderkan tubuhnya dan tak lama ia terlelap dalam tidurnya. Alfa menatap Vera yang terlihat tertidur, senyumannya terukir tipis, ada kehangatan di hatinya menatap Vera yang terlihat sangat cantik.
Tak lama kemudian mobil sudah terparkir di garasi rumah yang sangat megah, Alfa menatap Vera yang semakin pulas tertidur, dia membuka pintu dan mengangkat Vera yang masih terlelap. Alfa masuk menggendong Vera, Ayu yang melihatnya baper sendiri, dia menggigit sarung batal sofa merasa gemes sendiri melihat pasangan tersebut.
"Soswit," ucap Ayu.
"Hei anak kecil," ucap Alfa dengan pelan namun sorotan matanya begitu tajam ke arah Ayu.
"Cieee..." ejek Ayu.
Saat hendak menaiki tangga seseorang muncul membuat Alfa terkejut.
"Bro, lu habis ngapain istrimu,?" tanya Alfi.
"Bodoh," ucap kesal Alfa dan melanjutkan langkahnya.
"Hamilin cepat, biar ada teman anakku ntar," teriak Alfi membuat Alfa sangat geram.
"Hahahaha, bener," saut Ayu tertawa geli.
Alfa tak menyahutinya lagi, dia hanya terus melangkah dengan kuping yang sudah panas mendengar ocehan kedua adiknya.
"beruntung, kuman satu itu hilang," gumam Alfa mengingat Bagas.
__ADS_1
Alfa dengan pelan menurunkan Vera ke kasur empuknya. setelah ia menyelimutinya dia sejenak menatap Vera dan tersenyum, ia melangkah ke kamar mandi dengan hati yang berbunga-bunga.
Vera bangun dengan nafas yang sudah tidak teratur, sebenarnya dia sudah terbangun saat mendengar suara Ayu yang mengejeknya, namun ia lebih memilih untuk pura-pura tidur, karena dia sendiri sangat malu.