
Alfa duduk termenung di atas lantai paling atas rumah sakit, menikamati udara malam yang begitu menusuk ke tulang, Alfa menatap lampu-lampu di kota yang membuat pemandangan semakin menakjubkan, pikirannya diselimuti oleh ucapan sang Oma, dia tidak mungkin bisa menikah, dia belum siap sama sekali, bahkan dirinya belum sama sekali merasakan jatuh cinta apalagi mempunyai seorang kekasih.
"Kak, Kak Alfa, KAKAK..!" teriak Ayu yang datang bersama Vera.
Alfa menoleh ke sumber suara, menatap wajah adiknya yang ditetesi air mata, ponsel yang ia pegang jatuh begitu saja, badannya seketika gemetar firasat buruk tiba-tiba melanda dirinya.
Alfa tanpa berkata apa-apa langsung berlari ke arah ruang dimana Omanya berada, dia tidak mempertanyakan lagi, sangat takut jika jawabannya membuatnya semakin pedih.
Alfa melihat semua keluarganya di luar dengan wajah sangat khawatir, bahkan Bunda dan para Aunty nya menangis, hatinya semakin merasa tidak ada yang baik baik saja sekarang.
Perlahan ia melangkah ke arah Bundanya, menatap Bundanya dengan mata yang sudah memerah, Yuli yang melihat putranya sudah datang langsung memeluk putranya tersebut erat di sertai tangisannya.
"Bunda Oma dimana,?" tanya Alfa lirih.
"Sabar lah Nak, Oma lagi berjuang, Oma pasti akan baik-baik saja," ucap Bundanya membuatnya duduk dengan wajah lemas.
__ADS_1
"Kakak menikahlah sesuai yang Oma inginkan, apa Kak Alfa mau jika keinginan Oma tidak tercapai sama sekali, Alfi ingin sekali menggantikan kakak namun sudah takdir jika harus kakak yang melakukannya, Oma melarang ku keras mendahului mu, dan jika terjadi apa-apa sama Oma tanpa belum melakukan sesuatu yang di inginkan Oma, Alfi tidak akan pernah memaafkan mu," ucap Alfi tegas membuat suasana menjadi tegang.
"ALFIII....! DIAM..! JANGAN BUAT SEMUA JADI TAMBAH PANJANG," ucap Yuli dengan suara tinggi.
"Sayang, jangan seperti itu, kamu tadi pagi kurang enak badan bukan, bahkan wajahmu masih pucat, jadi tolong jangan maksakan diri, jangan terus-terusan menangis," ucap Aidil membuat Yuli duduk mengusap wajahnya.
Alfa terdiam dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dirinya memang yang harus melakukan nya, tapi apalah dayanya dia belum mempunyai calon bahkan belum pernah menatap wanita.
Siska yang melihatnya langsung melangkah ke arah anak-anak untuk menyuruhnya pulang lebih dulu, Siska menyuruh Bagas untuk mengantar mereka.
kedua gadis guru les mereka ditahan oleh Siska ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Tidak sama sekali kok, kami malah merasa tidak enak hati, tidak bisa membantu apa-apa, hanya doa yang bisa kami bantu untuk kesembuhan Oma," ucap Vera dan di angguki oleh Alana.
"Saya bermaksud ingin bertanya pada kalian berdua, walaupun sangat merasa mustahil tapi apa salahnya saya coba bertanya pada kalian ya." ucap Siska dengan nada serius dan di angguki oleh mereka berdua.
__ADS_1
"Jadi kalian dengar kan tadi,?" tanya Siska dan di angguki oleh mereka berdua.
"Tidak perlu panik, santai saja, saya hanya bertanya hal yang sangat mustahil," ucap Siska membuat mereka berdua saling berpandangan sangat bingung apa yang akan Siska bicarakan.
"Tadi saya bertanya kepada Alfi, atau lebih tepatnya bercanda dengan Alfi, dan saya bertanya padanya, Kamu jatuh hati kan sama salah satu guru les adikmu, dan dengan cepat dia mengangguk, lalu saya pancing untuk menyebutkan namanya dan dengan cepat pula dia jawab jika dia jatuh hati pada Vera sejak awal." ucap Siska membuat Vera hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Elena sedikit kaget apa yang di ceritakan oleh Siska.
"Maaf ya nak Vera, Aunty tidak bermaksud untuk menyuruhmu pacaran dengannya, Aunty juga akan melarangnya pacaran, dia anak yang sangat bandel dulu, membuatku hampir mati berdiri mengurusnya," ucap Siska tersenyum kecil.
"Dan niat aunty sudah pasti pada Elena, Aunty tidak mungkin membuat satu dari hati mereka berdua terluka, jadi saya ingin bertanya pada Elena, apa kamu mempunyai perasaan pada Alfa,?" tanya Siska membuat mereka berdua sangat kaget, sedangkan Elena sungguh tidak tau harus menjawab apa.
"Jangan malu sayang, Aunty juga pernah jatuh hati juga, malahan cinta Aunty sangat rumit, bahkan harus keluar negeri untuk mendapatkannya, jadi jawab apa saja aunty bakal senang apapun yang kamu jawab,?" ucap Siska membuat Elena memejamkan matanya, sedangkan Vera dan Siska sangat penasaran, walaupun Vera tau Elena mempunyai hati pada kedua saudara tersebut, itu memang lucu tapi Vera masih bingung dengan perasaan Elena sebenarnya.
"Aunty rubah pertanyaan nya, lupakan yang tadi, aunty ingin bertanya apa kamu jatuh hati dari salah satu dari mereka,?" tanya Siska membuat Elena sudah sangat pasrah, dia akan jujur sejujurnya. Elena mengagetkan kedua wanita tersebut, Elena memejamkan matanya dan menganggukkan kepalanya pelan.
Siska tersenyum manis padanya, dia merasa lega dengan jawaban Elena namun ada satu hal lagi yang mengganjal dan tanpa banyak pikir Siska langsung menanyakan hal tersebut lagi pada Elena.
__ADS_1
"Siapa namanya, apa Alfi,?" tanya Siska ingin memancingnya dan dengan cepat Elena menggeleng kan kepalanya membuat senyuman Siska terukir manis.
"Ternyata Alfa ya, kamu sungguh pintar," ucap Siska mencolek pipinya yang merona malu. Elena sadar apa yang baru saja ditanyakan oleh Siska dia ikut terpancing olehnya.