
Alfa menatap serius wajah Alfi yang terlihat sedih namun tidak ada candaan disana.
"Alfi, apa kamu merahasiakan sesuatu,?" tanya Alfa dan hanya menghembuskan nafasnya lalu tersenyum pahit.
"Tidak usah kamu pikirkan," ucap Alfi.
"Katakanlah, aku tidak akan membocorkan rahasiamu pada siapapun," ucap Alfa.
Alfi nampak berfikir sejenak. tidak ada ruginya ia menceritakan pada Alfa, jika kelak istrinya mengetahui dan tidak ingin bertemu lagi dengannya maka ada kakak kembarnya yang akan menjelaskannya walaupun sedikit pada istrinya.
"Berjanjilah jika kelak aku di tinggalkan, kamu akan ada membantuku," ucap Alfi membuat Alfa semakin penasaran, dia dengan cepat menganggukkan kepalanya daripada mati penasaran.
"Aku hanya ingin mengatakan jika yang menabrak orang tua Elena hingga wafat adalah aku sendiri," ucap Alfi membuat Alfa sangat kaget, wajahnya pucat seketika mendengar ucapan Alfi.
"Apakah kamu serius,?" tanya Alfa dan di angguki oleh Alfi.
"Tapi bagaimana ceritanya kamu bisa di nikahkan langsung oleh orangtuanya, apa itu juga hanya cerita belaka,?" tanya Alfa menatap serius Alfi, masalah ini bukanlah masalah sepele.
"Orangtuanya yang memintanya padaku, itu memang benar jika kami dinikahkan langsung oleh mereka, mereka menitipkan anaknya sebagai pertanggungjawabanku, jujur saja saat itu aku hanya bisa mengangguk, ada rasa sangat bersalah pada mereka dan Elena, aku merasa membenci diriku saat itu, namun orangtuanya malah tersenyum dan tertawa melihatku, mereka tanpa ada beban meminta untuk aku menikahi Elena. aku juga tidak mengerti bagaimana bisa mereka melihatku, aku telah merenggut nyawa mereka dan malah memberikan sosok wanita yang begitu lembut disisiku," ucap Alfi dengan wajah serius, air matanya terlihat menetes beberapa kali. Alfa hanya menepuk pundak Alfi.
"Tidak usah memikirkan masa lalumu, jalani lah hidupmu yang sekarang bersama istri dan anakmu kelak, aku yakin orang tua Elena sudah melihat dirimu adalah sosok yang bisa dipercaya untuk putri mereka," ucap Alfa.
"Oiiiiii" teriak Bagas dari kejauhan membuat Alfi segera menghapus air matanya dan memperlihatkan wajah seperti biasa.
__ADS_1
"Ayo main PS," ucap Bagas langsung duduk.
"Sejak kapan kutu air ini disini,?" ucap Alfi.
"Ayolah, jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi," ucap Bagas.
"Ayo main, yang kalah bayar," ucap Bagas membuat mereka menatap Bagas dengan senyuman licik.
"Baiklah, siapkan uangmu dulu," ucap Alfi membuat Bagas memperlihatkan Dompetnya yang terisi banyak uang merah, hadiah dari Bunda Yuli.
"Dari mana kamu mencuri kutu air,?" tanya Alfi.
"Ini tabunganku," ucap Bagas.
"Baiklah, ayo kita ke kamar Alfa," ucap Alfi membuat Bagas dan Alfa menggelengkan kepalanya serempak.
"Aduh Kak Alfa, jangan melihatku seperti itu, tadi hanya kecelakaan, aku lupa bahwa kamu sudah beristri, aku sudah terbiasa dari dulu masuk ke kamarmu jika datang dan main PS," ucap Bagas membuat Alfi tertawa.
"Apa dia baru saja melihat mu bercocok tanam Alfa,?" tanya Alfi.
"Kak Alfi, jangan sembarangan," ucap Bagas.
"Baiklah kalau begitu di kamar Alfi saja," ucap Alfa.
__ADS_1
"Istriku masih istirahat, kelelahan dibuat anak setan satu nih," ucap Alfi menatap Bagas.
"Kakak Elena juga senang, dia bahkan sangat bangga tadi, dia mengucapkannya sendiri," ucap Bagas.
"Kak " teriak Vera dari atas.
mereka sama sama menoleh ke arah atas.
"Kapan kita berangkat,?" tanya Vera dari sana sedikit berteriak.
"Aduh, aku ada janji lagi sama istriku," ucap Alfa.
"Nanti malam saja kak," ucap Bagas memberikan saran.
"bilang saja kalau mau menghindar," ucap Bagas mulai memancing.
"Ada yang takut kak Alfi," lanjut Bagas membuat Alfa menatapnya kesal.
"Baiklah, kita taruhan semua uangmu," ucap Alfa membuat Bagas menelan salivanya.
"Huh, sangat penakut, hanya uang saja," ucap Alfa membuat Bagas merasa panas.
"Baiklah, siapa yang takut," ucap Bagas.
__ADS_1
"Nanti malam yah," ucap Alfa dan mendapatkan acungan jempol dari atas.
"Ke kamar Alfa saja, istrinya sudah bangun," ucap Alfi dan di angguki oleh Alfa yang sudah tidak sabar menghabiskan uang Bagas.