
Elena mengikuti langkah Alfa, Alfi hanya diam melihat kepergian mereka berdua, tak lama ia mulai sadar dan mengikuti langkah mereka secara diam-diam.
Alfa duduk diikuti oleh Elena yang terlihat murung dan duduk agak jauh dari Alfa.
"Kenapa wajahmu seperti itu, apa suamimu itu kurang ajar padamu,?" tanya Alfa namun Elena hanya diam menundukkan kepalanya.
Alfa hanya menghembuskan nafasnya kasar dan mulai berbicara.
"Anak itu tidak bisa di andalkan, dia sudah ceritakan padaku kemarin, dan dia selalu terbebani oleh hal itu, aku sebagai Kakaknya dan Kakak iparmu tidak ingin melihat hubungan kalian hancur, apalagi kalian sudah akan memiliki anak." ucap Alfa menoleh ke arah Elena.
"Aku tau kamu tidak mau berbicara dengannya bahkan melihatnya, aku hanya ingin bertanya padamu," ucap Alfa membuat Elena menatapnya.
"Kenapa kedua orang tuamu mempercayakan dirimu padanya dimana mereka sendiri mengetahui jika yang menabraknya adalah Alfi?" tanya Alfa membuat Elena berfikir namun tidak dapat menjawabnya.
__ADS_1
"Apa menurut mu Alfi mengancam mereka,?" tanya Alfa membuat Elena menggelengkan kepalanya.
"Kami adalah putri mereka dan anak satu-satunya, menjadi pewaris tunggal, namun dinikahkan oleh kedua orangtuamu dengan orang yang menabrak mereka, pikirkanlah mengapa mereka rela memberikanmu pada sosok seperti Alfi?"
"Aku juga tidak menyangka akan hal itu, namun aku semenjak lahir sudah bersama suamimu, aku sudah mengenalnya bahkan sebelum Daddy. banyak hal yang telah kami lalui, namun akhirnya sudah sangat baik seperti ini, dulu kami akan mempunyai seorang adik namun karena ada masalah membuat Bunda kami keguguran, hal itu sangat kutakutkan akan terjadi pada kalian, maka dari itu aku tidak ingin melihat kalian seperti ini, tatah lah hidup kalian mulai sekarang dan rapikan masa lalu kalian, hingga kalian saling nyaman satu sama lain." ucap Alfa membuat Elena meneteskan air matanya.
"Aku hanya menduga orangtuamu sudah melihat jati diri Alfi hingga mereka tidak ragu untuk mempercayakan putrinya pada Alfi, apa orangtuamu tidak bahagia saat menikahkan kalian,?" tanya Alfa namun mendapatkan gelengan kepala dari Elena.
"Ahg tidak, seandainya kamu tidak membantuku, aku sudah nyunat kamu," gumam Alfi.
"Dalam keluarga harus percaya satu sama lain, tidak boleh ada yang ego, jika ada hal yang ingin di bicarakan, silahkan bicara dengan fikiran yang jernih, semua masalah ada solusinya, namun kadang kita dilupakan oleh Ego, hingga membuat masalah yang bisa di selesaikan menjadi penyesalan yang teramat dalam," ucap Alfa mengelus rambut Elena lalu mendorong pelan tubuh Elena dan pergi begitu saja.
"Kakak ku sungguh hebat," gumam Alfi langsung keluar dari tempatnya dan perlahan melangkah ke arah Elena dengan hati yang tidak menentu, dia duduk di samping Elena, Elena yang melihatnya refleks memeluknya dan menangis sekencang-kencangnya.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Alfi lirih dan mendapat anggukan kepala dari Elena membuatnya menghembuskan nafasnya lega.
"Berhentilah menangis, aku tidak bisa melihatmu menangis seperti ini, hatiku pilu melihatmu menangis, wanita yang tidak ingin ku lihat menangis adalah kamu dan Bunda, aku hanya ingin melihat kalian tersenyum bahagia." ucap Alfi.
"Astaga, ternyata aku keren juga merangkai kata-kata romantis, beruntung sekali aku pernah menonton film romantis," gumam Alfi.
"Ayo kita kekamar, hapus air matanya," ucap Alfi membuat Elena melihat Alfi.
"Ngapain ke kamar,?" tanya Elena dengan manja.
"Jenguk dedek," ucap Alfi membuat Elena memukul lengannya pelan.
"
__ADS_1