
Elena dan Yuli sudah sadar semua sangat bersyukur, pintu tiba-tiba terbuka dan terlihat Bagas yang membuka pintu.
"Astaga, Bundaku sayang, kakak Iparku yang ku cintai, kenapa bisa seperti ini, baru saja Bagas tinggal, kenapa langsung masuk rumah sakit, gimana sih yang menjaga Bunda," ucap Bagas mengoceh dan memeluk Elena.
"Hei bocah kampret," ucap kesal Alfi menarik Bagas.
"Cemburuan amat sih, mendingan peluk Bunda tidak ada yang marah," ucap Bagas kesal dan memeluk Bunda Yuli.
Bagas ingin melepaskan pelukannya namun ditahan oleh Bunda Yuli, Bagas sangat tak berdaya dan sangat kebingungan.
"Bun, ngapain ngendus-ngendus." ucap Bagas sangat panik.
"Humm, kamu jangan pergi," ucap Bunda Yuli mengeratkan pelukannya.
"Ahgggg...! Bunda, Bagas bisa mati tak bernafas." ucap Bagas.
"Bunda kenapa sih? Oi tolongin!" ucap Bagas.
"Maaf Bagas, kami tidak bisa berbuat banyak," saut Alfa.
"Astaga, belum apa-apa sudah seperti ini, ya tuhan jangan buat Anakku nanti kelakuannya seperti Bagas, dia bocah jangkrik," gumam Aidil menelan salivanya kasar.
"Mana Ibumu,?" tanya Yuli pelan.
"Lepaskan dulu Bun, Bagas tidak tahan di endus-endus," teriak Bagas.
"Tidak mau," saut singkat Yuli.
"Daddy, kenapa Bunda seperti ini? apa yang kalian lakukan padanya,?" tanya Bagas.
"Yuli, kamu baik-baik saja,?" tanya Dara ibu Bagas yang baru datang serta suaminya.
"Ayah, tolongggg! ucap Bagas membuat Ibu dan Ayahnya saling berpandangan bingung.
__ADS_1
"Istrimu dan menantumu kenapa masuk ruang sakit,?" tanya Bimo Ayah Bagas.
"Bunda lagi Hamil Om, nanti Ayu akan punya dedek hehe," ucap Ayu dengan sangat senang, Yuli yang mendengarnya seketika menatap mereka sangat kaget.
"Hah,?" ucap Yuli tak percaya.
"Astaga, Ayuuuu...!" gumam Aidil yang berencana akan memberitahu Yuli jika semua sudah berkumpul.
"Hamil,?" ucap Bagas ikut kaget.
"Daddy sungguh gak mau kalah sama Ayahku," ucap Bagas.
"Bunda Hamil Sayang,?" tanya Elena dan di angguki oleh Alfi.
"Selamat ya Bun," ucap Elena.
Yuli meneteskan air matanya, dia sebenarnya sudah tidak ada keinginan untuk menambah anak lagi, walaupun begitu dirinya tidak mungkin menolak, Yuli mulai berfikir jika anak yang ada didalam kandungannya adalah rezeki.
"Ahgg...! kenapa kalian sangat jahat," ucap Bagas.
"Daddy, kenapa Daddy sangat jago, Ayahku sudah ku bangga banggakan ternyata Daddy tidak mau ngalah yah hahahaha," ucap Bagas memeluk Aidil yang hanya diam mematung menatap ekspresi istrinya.
"Bagas....!" ucap Ayahnya tegas.
"Ayah, jangan seperti itu, Ayah akan punya anak lagi nanti, jadi sekarang puas-puasin menjamin Bagas." ucap Bagas.
"Satu, dua, tiga, empat," ucap Bagas membuat mereka menoleh ke arah Bagas.
"Kau hitung apa,?" tanya Ayu.
"Menghitung produksi Daddy," saut Bagas membuat Ayahnya menahan tawanya.
"Bagas... sini," ucap Ibunya membuat Bagas segera melangkah dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
"Ahgggg...sakitttt...!" teriak Bagas memegang kupingnya yang terasa panas ditarik.
"Sekali lagi bicara, Ibu akan tarik bibirmu," ucap Ibunya membuat Bagas segera menjauh dari Ibunya.
"Kak Elena, Kakak kenapa ikut-ikutan,?" tanya Bagas mulai melangkah ke arah Elena.
"Kakak juga Hamil kah haha,?" tanya Bagas membuat mereka semua membulatkan matanya.
"Nih bocah tau dari mana lagi,!" gumam Alfi.
"Ntah, Kakak tadi mual-mual," ucap Elena.
"Kok kamu tau Kak Elena juga Hamil," saut Ayu membuat Elena kaget begitupun dengan Bagas, Bagas hanya bercanda barusan namun kenapa benar.
"Elena hamil juga,?" tanya Dara dan di angguki oleh mereka.
"Menantuku," ucap Dara berjalan dan memeluk Elena yang masih tak berkedip.
"Aku hamil,?" tanya Dara dan di angguki oleh mereka.
"Ayah, seperti nya mereka sama-sama produksi hahaha," bisik Bagas ke Ayahnya namun masih bisa didengar dengan jelas.
Bimo hanya membuang pandangannya menahan tawa, dia ingin sekali tertawa namun dia juga tau kondisi disana.
""Hei, kau tau dari mana istriku hamil,?" tanya Alfi.
"Biasalah, anak siapa gitu loh,!" saut Bagas dengan sombongnya.
"Cuma nebak-nebak, santai aja matanya, mentang-mentang mau jadi bapak-bapak," lanjut Bagas.
Bagas menatap Vera, Vera yang melihatnya menelan salivanya kasar.
"Bagas, pliss..! jangan aneh-aneh, Bagas plisssss..." gumam Vera menatap Bagas dengan mata memohon.
__ADS_1