Jodoh Twins Yang Tertukar

Jodoh Twins Yang Tertukar
Berusaha membuka hati


__ADS_3

Aidil hanya diam sedari tadi, dirinya masih sangat syok mendengar kenyataan yang sebenarnya, tanpa dia duga putranya menikah di hari yang bersamaan.


Aidil memilih keluar dari sana, Danial yang melihatnya segera mengikutinya, dirinya juga ingin mencari angin segar.


"Danial, apa pendapat mu soal ini,?" tanya Aidil membuat Danial menoleh ke arahnya dengan wajah bingung.


"Aku tidak menyangka adiknya Alfa juga menikah dengan perempuan yang harusnya menjadi calon Alfa," ucap Aidil yang mengerti tatapan Danial.


"Mungkin ini takdir mereka, yakinlah dibalik semua ini, pasti nanti akan ada kebahagiaan," ucap Danial membuat Aidil menunduk, dirinya mengingat kejadian saat dirinya memperkosa Yuli yang kini sudah menjadi istrinya, dirinya saat itu tidak merasa menyesal sama sekali, namun dirinya baru menyesal saat melihat kedua anaknya yang sudah tumbuh tanpa sepengetahuan nya sama sekali, kejadian buruk memberikannya hidup yang lebih berarti dan bahagia.


"Apa Daddy bingung harus menjelaskan ke Bunda nanti,?" tanya Danial dan di angguki oleh Aidil.


Alfi terlihat dengan sabar menyuapi Elena yang hanya terus meneteskan air matanya tanpa bersuara, hanya memandang kosong kedepan.


"Ayah dan Ibumu pasti akan senang jika dirimu tidak terlalu sedih seperti ini, kalau kamu seperti ini mungkin saja mereka merasa tersiksa," ucap Alfi membuat Elena segera menghapus air matanya.


"Aku tidak menangis," ucap Elena langsung mengambil sendok di tangan Alfi.


"Kamu lebih cantik jika seperti ini," ucap Alfi membuat Elena menundukkan kepalanya malu, apalagi mengingat dirinya dan Alfi sudah menikah. Elena menghentikan makanan mengingat hari ini adalah hari dimana harusnya Alfa menikah dengannya.


"Kak? apa aku merusak segalanya,?" tanya Elena kembali meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Apa maksudmu,?" tanya Alfi bingung.


"Apa aku telah mempermalukan keluarga Kakak, merusak acara hari ini, aku sungguh tidak tau harus bagaimana, yang ada dipikiran ku saat itu hanyalah ibu dan Ayahku," ucap Elena.


"Tidak perlu khawatir, Daddy pasti melakukan hal yang terbaik, apalagi banyak pamanku yang sangat ahli dalam menyelenggarakan masalah." ucap Alfi.


"*Masalah nya sekarang Daddyku ada disini, dan aku telah membuat Kesalahan besar padamu, aku harus bertanggung jawab mengikuti apa wasiat ayah dan ibumu, membahagiakan kamu, aku mungkin sehabis ini harus bisa menaruh hati padamu, walaupun sangat berat," gumam Alfi.


"Bundaku pasti sangat khawatir padaku, dan bagaimana jika Bunda tau aku telah menikah tanpa sepengetahuannya mereka sama sekali." lanjut gumam Alfi*.


"Makanlah," ucap Alfi tersenyum tipis ke arahnya.


"Aku yang harusnya berkata seperti itu Elena," gumam Alfi.


"Kamu tidak usah pikirkan hal itu, aku akan menjadi suami yang baik untukmu," ucap Alfi yang seketika membuat jantung Elena berdegup kencang.


"Kamu harus mengunci hatimu sekarang, kamu sudah menikah denganku," ucap Alfi mengelus lembut rambut Elena yang semakin membuat Elena merona malu.


"Tersenyum lah seperti itu, aku tidak ingin melihat mu menangis," ucap Alfi dan di angguki oleh Elena.


Vera membuka matanya, dia bersandar di kepala ranjang, nampak kosong dan sunyi, namun pandangannya teralihkan oleh suara pintu yang terbuka, mata Vera membuat sempurna saat melihat Alfa keluar dengan telanjang dada, hanya handuk yang melilit di pinggang nya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lihat,?" tanya Kata ketus. Vera sangat malu hingga dia ingin sekali kabur dari sana, ia menarik selimut dan menyembunyikan wajahnya.


"Kamu sungguh tidak bisa di andalkan, aku menyuruhmu mandi, dan kamu malah tidur di kasurku, keringatmu pasti akan lengket di situ," ucap Alfa membuat Vera segera turun dari kasur dengan wajah kesalnya.


"Perhitungan sekali kak," ucap Vera segera melangkah ke arah kamar mandi, Vera kembali menginjak-injakkan kakinya kesal kelantai, tangannya tidak menggapai rosleting gaunnya.


Vera keluar dengan wajah yang sudah memerah, sangat malu meminta tolong pada Alfa.


"Kenapa balik lagi? apa kamu takut Air,?" tanya Alfa.


"Tidak, aku hanya ingin minta tolong," ucap Vera.


"Humm.." saut Alfa.


"Tolong turunkan kancing bajuku, tanganku tidak sampai," ucap Vera.


Alfa dengan wajah datarnya melangkah ke arah Vera langsung menarik kancing baju Vera dengan cepat.


"Pergilah," ucap Alfa.


"Tidak ada romantisnya," gumam Vera kesal sendiri.

__ADS_1


__ADS_2