
2 bulan terlewatkan begitu saja, perut Bunda Yuli dan Elena sudah mulai buncit, hobi Alfi saat ini adalah memainkan perut istrinya hingga terkadang memainkan yang bagian atas perut hehe. sedangkan Alfa masih hobi bertempur di atas kasur tidak ingin kalah dengan Alfi dan Daddy-nya yang sudah tua.
"Ahg, sudah kak, aku capek," ucap Vera sudah gak sanggup.
"Kenapa belum jadi jadi sampai sekarang," ucap Alfa sudah berbaring.
"Nanti juga akan jadi kalau rezeki," saut Vera membuat Alfa menariknya dalam pelukannya.
Alfa turun telanjang dada, dia habis tauran dan sangat malas untuk mandi, dia menghampiri Bundanya dan langsung merebahkan tubuhnya, menggunakan paha bundanya sebagai bantalnya.
"Bunda, perutmu sudah besar aja," ucap Alfa membuat Bundanya hanya mengelus rambut putranya lembut.
"Kok keringatan? habis olahraga,?" tanya Bundanya dan di angguki oleh putranya.
"Ini ada bekas lipstik," ucap Bundanya tertawa renyah membuat Alfa segera memegangnya dan menggosoknya.
"Bun, ini cewek apa cowok,?" tanya Alfa.
"Cowok," saut Bundanya menghela nafasnya.
"Hahahaha, pinter sekali Daddy," ucap Alfa tertawa renyah membuat Bundanya hanya mencubit pipinya pelan.
__ADS_1
"Kalian sudah besar aja, nanti kalau kalian sudah punya anak dan gak mau tinggal disini lagi, masih ada adikmu ini menemani Bunda sama Daddy," ucap Bundanya membuat Alfa menatap Bundanya dengan sayu.
"Jangan pikirkan itu Bun," saut Alfa.
"Siapa yang mencuri istriku,?" ucap Daddynya muncul dari belakang.
"Anak kecilku yang sangat bandel," saut Yuli membuat Alfa hanya memejamkan matanya merasakan kehangatan Bundanya.
"Sudah besar masih gak tau malu," ucap Daddynya duduk di sebelah kiri istrinya.
"Daddy, diam lah," saut Alfa tak mau di ganggu.
"Mandi sana," ucap sang istri pada suaminya, dan di angguki olehnya.
"Nih gadisku satu sungguh nakal," ucap Bundanya.
"Hehehehe, siapa suruh mesra-mesraan disini," ucap Ayu mencium pipi Bundanya.
"Anak Bunda lagi manja," saut Bundanya tertawa kecil.
"Sudah punya istri juga, masih aja manjanya sama Bundanya Ayu," ucap Ayu.
__ADS_1
"Bundaku juga," saut Alfa tak membuka matanya.
"Awas saja jika paha Bunda pegal, nanti Ayu yang akan hajar Kak Alfa," ucap Ayu lalu pergi dari sana.
"Apa Bunda pegal,?" tanya Alfa.
"Tidak," saut Bundanya masih mengelus putranya dengan lembut, air matanya seketika menetes entah mengapa namun refleks dia menghapusnya. Gak menyangka anak-anaknya yang dulu sangat nakal kini sudah dewasa dan akan mempunyai anak.
"Nak, jangan pernah ninggalin istrimu, jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, rumah tangga itu pasti ada kejanggalan yang bisa membuat rumah tangga runtuh begitu saja, jika menghadapinya dengan emosi penyesalan yang sangat dalam akan menghampiri hati seumur hidup," ucap Bundanya, mengingat dirinya dulu saat mengandung adik Alfa dan Alfi yang keguguran karena masalah, bahkan suaminya sempat hampir meninggalkannya.
Yuli tak tahan meneteskan air matanya, dia menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan kesedihannya. Alfi yang hendak ingin menghampiri mereka mengurung niatnya dan berdiri menyenderkan tubuhnya di dinding. mengingat dirinya sendiri khawatir dengan rumah tangganya, melihat Bundanya menangis mengatakan itu dia teringat oleh masalah yang pernah hampir membuat rumah tangga keluarganya hancur.
Alfi mengingat saat Daddynya hampir kehilangan nyawa, pada saat itu dia bahkan tidak tau apa-apa, namun semakin bertambah umurnya dia sudah mulai mengerti dengan semua ini.
"Apa yang harus aku lakukan jika Elena tau," ucap Alfi memejamkan matanya.
"Maksudnya,?" ucap seseorang yang berdiri di depannya membuat Alfi kaget.
"Sejak kapan kamu disitu,?" tanya Alfi dengan wajah panik.
"Sejak tadi," saut Elena menatap dengan wajah penuh curiga.
__ADS_1
"Apa maksud ucapan mu tadi sayang,?" tanya Elena namun mendapatkan gelengan kepala dari Alfi, Alfi segera memeluk istrinya dan menggendongnya ke kamar.
"Hanya kasur yang dapat menyelesaikan masalah hehehehe," gumam Alfi.