
Setelah Ayu pergi Vera menutup pintunya dan bersandar dipintu dengan air mata yang sudah menetes, dia sangat dikhawatirkan oleh keluarga suaminya, dia sangat beruntung namun hatinya sangat terasa pilu mendapatkan perhatian seperti itu.
“Seberapa benci kamu padaku,” ucap Vera Pada dirinya sendiri.
Vera mencuci wajahnya dan menatap wajahnya sendiri yang sangat menyedihkan, dia teringat sosok orang yang ia sangat sayangi yaitu Ibunya, tiba-tiba dia merindukan ibunya. Hatinya mulai sedikit bergerak untuk pergi dari sana untuk sementara, dia ingin menenangkan hatinya di rumah Ibunya.
Vera berusaha untuk mengatur nafasnya, segera turun mencari Bunda, saat melihat Bunda duduk memakan cemilan senyumannya terukir manis, sangat senang jika melihat orang lain sangat lahap makan.
“Bunda,” ucap Vera dan duduk di samping Bunda Yuli.
“Nak, nih makan,” ucap Bunda Yuli.
“Terimakasih,” ucap Vera dan di angguki oleh Bundanya.
“Anak bandelku masih saja disana, tidak mengingat Istri dan Bundanya,” Ucap Bunda Yuli membuat Vera menunduk namun tidak dilihat oleh Bunda Yuli.
“Bun,” panggil Vera membuat Bunda Yuli menatapnya dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
“Vera mau minta izin, Vera kangen sama Ibu, Vera Pengan pulang dulu sementara sampai Alfa pulang Bun,” ucap Vera dengan wajah menunduk.
“Bunda semakin kesepian dong, tapi kalau itu kemauan kamu Nak, Bunda tidak apa, pulang lah Ibu mu juga pasti sangat rindu juga denganmu,” ucap Bunda Yuli membuat Vera menatapnya dengan wajah sangat senang.
“Terimakasih Bun,” ucap Vera memeluk Bunda Yuli.
__ADS_1
“Iya, jangan lama lama ya nanti Bundamu disini juga kangen loh, dan kalau bisa bawa ibumu kesini biar tinggal disini saja,” ucap Bunda Yuli.
“Kalau itu kemungkinan besar Ibu tidak mau, Ibu selalu menolak jika Berhubungan meninggalkan rumahnya Bun, tapi nanti Vera usahakan ngomong sama Ibu,” ucap Vera dan di angguki oleh Bunda Yuli.
Vera pulang dengan supir pribadi keluarga Aidil, dengan cepat ia keluar dan berlari ke arah rumahnya memanggil Ibunya.
“IBUU... VERA PULANGGG...!” teriak Vera dan mendapat semburan air.
“Ahhg. Ibu kan basah,” ucap Vera melihat bajunya yang sudah basah kuyup.
“Vera! Siapa suruh kagetin ibu,” ucap Ibunya menaruh selang dan berjalan memeluk putrinya.
“Ibu ngapain sih main air trus,” ucap Vera.
“Ayo kita masuk saja,” ucap Ibunya dan di angguki oleh Vera dengan semangat.
“Kakak mana Bu,?” tanya Vera.
“Kakakmu kan kerja di kantor suamimu Nak,” ucap Ibunya dan hanya di angguki oleh Vera tanda mengerti.
“Trus mana suamimu? Kenapa gak bawa kesini,?” tanya Ibunya.
“Di luar negeri, lagi ngurus perusahaan Oma,” saut Vera.
__ADS_1
“Pasti kamu kesepian disana sampai baru datang,?” ucap Ibunya mengedipkan matanya sebelah ke arah Vera.
“Apaan sih Bu,” ucap Vera.
“Cie sudah tidak ingin di tinggal suami” ucap Ibunya lagi.
“Ahh Ibuu,” ucap Vera dengan nada manja.
“Hahaha ayo kita buat sarapan,” ucap Ibunya.
“Vera mau mandi dulu baru ganti baju,” ucap Vera dan di angguki oleh Ibunya.
Sudah 2 Minggu Vera tinggal di rumah Ibunya, setiap hari Vera hanya menghabiskan waktunya di rumah bersama Ibunya, walaupun sudah disana namun Alfa terus terngiang-ngiang di benaknya.
“Dia apa kebar sekarang,?” ucap Vera pada dirinya sendiri.
“Apa dia akan balik lagi kesini,?” lanjut Vera.
“Kenapa aku selalu pantang semangat setiap harinya,”
__ADS_1