
Mereka langsung melaju ke arah rumah Elena lebih dulu untuk mencari tahu yang sebenarnya, sampai disana Bagas di suruh untuk turun mengetuk pintu dan bertanya-tanya tentang Elena. Bagas hanya bisa pasrah dan melakukan apa yang di suruh Ayahnya.
TOKKK
TOKKK
TOKKK
“KAK ELENAAAAAA....!” teriak Bagas dengan ketokannya yang sangat kencang.
“Anakmu sungguh tidak bisa di andalkan, dia malah seperti ingin ngajak orang kelahi,” ucap Rei menggelengkan kepalanya.
Tak lama bibi yang tinggal bersama Elena membuka pintu.
“Iya ada apa, dan ada urusan apa datang kemari,?” tanya bibi tersebut.
“Oke Bibi, perkenalkan nama saya Bagas dan saya murid Les kak Elena, Bagas datang kesini ingin menanyakan dimana kak Elena, karena Bagas sudah janji akan Les soreh ini,” ucap Bagas.
“Maaf Den, tapi Bibi baru saja mendapatkan info dari asisten Ayah Nona Elena, jika Ayah dan Ibunya meninggal dunia di Amerika, jadi kemungkinan besar Nona Elena ada disana, Bibi juga sangat panik dan takut saat Nona Elena tidak ada di rumah, padahal Nona sudah sangat siap dan sangat bahagia karena akan menikah hari ini,” ucap Bibi tersebut. Bagas kaget mendengar berita duka tersebut, dirinya bahkan sedikit mematung sangat syok mendengar nya.
“Apa Bibi bisa memberikan nomor ponsel Asistennya,?” tanya Bagas.
“Maaf tapi saya tidak bisa memberikannya,” ucap Bibi tersebut.
__ADS_1
“Apa dia bisa di andalkan,” ucap Bimo sangat khawatir.
“Tenang lah, dia masih diskusi, percayakan sama dia, aku yakin dia gak bakal main-main” ucap Rei.
“Kak Elena juga mengatakan pada Bagas Bibi, jika dia sedang tidak ada di sini atau Kak Elena ke luar negeri, Bagas di suruh nya untuk meminta nomor Ayah atau ibunya, dan jika tidak di angkat oleh mereka maka Bagas di suruh untuk meminta nomor asistennya karena selalu aktif,” ucap Bagas dengan wajah meyakinkan.
“Baiklah Den, silahkan masuk dulu, bibi akan mencatatkan nomornya,” ucap Bibi Elena DNA di angguki oleh Bagas.
Rei dan Bimo membulatkan matanya saat Bagas malah masuk kerumah, dan lebih menyebalkan lagi rumah tersebut malah di tutup.
“Astaga, Apa yang dia lakukan, Rei cepatlah bergerak,” ucap Bimo sangat khawatir.
“Kita tunggu 5 menit,” ucap Rei.
“Tenang lah, kamu akan punya anak lagi,” ucap Rei menahan tawanya.
“Jaga lah ucapanmu sialan, ini bukan lagi waktu untuk bercanda, ini really, sangat serius,” ucap Bimo.
“Kamu akan tambah khawatir jika seperti itu, jadi tenangkan lah dirimu,” ucap Rei.
Nafas mereka berdua lega saat Bagas sudah keluar dari sana.
“Apa kamu masih lengkap keluar dari sana Gas,?” tanya Rei.
__ADS_1
“Lengkap, bahkan Bagas minum kopi dulu tadi didalam,” ucap Bagas membuat kedua orang tua tersebut menatap nya kesal.
“Santai! Tidak usah liat Bagas kek punya hutang, Bagas punya banyak informasi,” ucap Bagas mengedip-ngedipkan mantanya membuat kedua orang tua tersebut menatapnya dengan sangat serius.
“Mana mungkin aku cerita, Bagas bahkan perlu banyak alasan untuk mengelabuhi nya, ini bukan sembarang informasi, ini aset keluarga Kak Elena, jadi jika ingin mengetahuinya, berikan aku uang,” ucap Bagas membuat mereka langsung menatap Bagas dengan tatapan tajam.
“BAGASS..! ini bukan main-main jadi jangan samakan situasi sekarang dengan kemarin-kemarin,” ucap Ayahnya tegas emosi melihat putranya.
“Paman akan berikan nanti, berapa yang kamu minta,?” tanya Rei.
“Karena Bagas mendapat 5 informasi jadi 5 x 1 juta \= 5 juta,” ucap Bagas membuat Rei membulatkan matanya.
“Perhitungan sangat bagus,” ucap Rei menggelengkan kepalanya sangat bingung melihat Bagas.
“Apa Paman setuju,?” tanya Bagas dan di angguki olehnya dengan sangat terpaksa.
“Jika tidak, Bagas akan terus merengek, dan gak bakal ikhlas jika di bohongi, Bagas juga akan memberitahukan Aunty jika Paman sering ketemuan sama cewek,” ucap Bagas membuat Rei lagi-lagi membulatkan matanya.
“Jika kamu bukan putraku, aku sudah dari tadi melepas kepalamu,” ucap Bimo sungguh sangat kesal.
“Ayah juga bayar 5 juta, karena Ayah akan mendengarnya, jika tidak jangan harap Bagas akan bantu ayah lagi di rumah mengurus ibu yang selalu memarahi ayah karena bau,” ucap Bagas.
“Ibu mu hamil, makanya seperti itu Bagas, Jangan aneh-aneh dan katakan sekarang,” ucap Ayahnya tegas.
__ADS_1