
Vera masuk kedalam kamarnya dan melihat kasur yang berantakan, bantal berhamburan di lantai membuatnya berdiri mematung.
"Apa yang terjadi,?" tanya Vera membuat Alfa hanya diam dan mengambil handuk untuk ke kamar mandi.
"Vera....!" ucap seseorang di belakang membuatnya berbalik.
"Ini seprei, maaf kami bertempur di kasurmu tadi hehehe," ucap Elena membuat Vera lagi-lagi membulatkan matanya.
"Permisi, saya mau ngambil sepreinya," ucap Elena melangkah masuk dan menarik sepreinya.
"Kenapa kalian tega,?" tanya Vera yang masih diam mematung.
"Hehehe, aku hanya korban Ver, dipaksa kesini," ucap Elena dan langsung melangkah dengan cepat pergi.
Vera memasang sepreinya dan merapikan kasurnya. dia langsung berbaring setelah semua sudah beres, dan tak lama Alfa keluar dengan rambut yang masih basah, Vera hanya menatapnya dengan senyuman yang terukir manis.
"Kenapa kamu melihat ketampanan ku,?" tanya Alfa membuat Vera pura-pura menoleh ke arah lain.
"Apa kamu yang membereskannya,?" tanya lagi Alfa dan di angguki oleh Vera.
Alfa lompat ke atas tempat tidur membuat Vera sedikit kaget.
"Kenapa hari ini begitu memalukan,?" ucap Vera membuat Alfa menariknya.
"Kita lanjutkan," ucap Alfa membuka Vera hanya pasrah. dia tidak mungkin juga menghindari, bagaimana pun dia sudah mencintai Alfa namun masih enggan untuk dia katakan.
"Kenapa hanya diam? kenapa tidak melawan,?" tanya Alfa.
"Kenapa aku harus melawan? sudah kewajibanku untuk memberikannya," ucap Vera membuat Alfa tersenyum manis. jarang sekali Alfa memperlihatkan senyumannya didepan sang istri.
"Kenapa kamu tidak pernah tersenyum seperti itu sebelumnya,?" tanya Vera.
"Karena aku tidak ingin memperlihatkan wajahku yang tampan," saut Alfa langsung menindih Vera.
"Bisakah aku mandi lebih dulu,?" tanya Vera namun Alfa dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tapi aku belum mandi," rengek Vera.
__ADS_1
"Kamu tetap cantik," saut Alfa membuat Vera tersipu malu.
"Apa aku sudah bisa melakukannya,?" tanya lagi Alfa.
"Apa kamu ingin mempunyai anak tanpa mencintai ibunya,?" tanya Vera membuat mata Alfa seketika terpejam. Vera hanya melihatnya entah mengapa hatinya sedikit sesak.
"Aku mencintaimu," bisik Alfa membuat Vera terdiam menatap wajah Alfa.
"Sangat lucu candaanmu," ucap Vera membuat Alfa mencium keningnya.
"Aku sudah menerimamu sejak pernikahan kita, bahkan aku sudah melirikmu sebelum menikah, aku belum pernah menyatakan perasaan ku pada wanita, maka dari itu aku hanya diam, sangat marah padamu saat pikiranmu entah kemana, aku tidak mengambil hakku karena aku menghargai mu yang belum menaruh hati padaku," ucap Alfa membuat buih terjatuh dari pelupuk mata Vera, Vera langsung memeluk Alfa dengan Isak tangisnya.
"Maafkan aku, aku baru menyadari hidupku tiada berarti setelah kamu pergi meninggalkan ku, aku setiap waktu memikirkan mu, takut jika kamu mendapatkan wanita diluar sana yang lebih dariku," ucap Vera membuat Alfa mengelus lembut rambutnya.
"Sudah kukatakan bukan? jika aku hanya ingin menikah sekali." ucap Alfa membuat Vera semakin mengeratkan pelukannya.
TOK
TOK
TOK
"Iya Bun,?" ucap Vera.
"Ah, Nih pakailah malam ini," ucap Bundanya segera memberikan bingkisan.
"Ini apa Bun,?" tanya Vera ingin melihat isinya namun di tahan oleh Bunda.
"Jangan dilihat, cepat lah mandi dan bawa ini, setelah mandi kamu pakai ini, isinya bukan bom kok, isinya cuma baju yang Bunda tidak pernah kenakan, kasihan kalau nganggur selama seabad, kamu sangat cocok memakainya," ucap Bunda menatap ke arah Alfa yang hanya mengedipkan matanya sebelah.
"Anak cicak itu Napa,?" tanya Bundanya membuat Vera hanya menggelengkan kepalanya.
"Cepat mandi biar Bunda jaga dari sini, aku tau niat dia ingin memakanmu sebelum mandi," ucap Bunda membuat Vera terkekeh geli.
"Baiklah Bun," ucap Vera langsung melangkah pergi.
Setelah Vera masuk ke kamar mandi, Alfa langsung lompat dari atas kasur dan berlari ke arah Bundanya.
__ADS_1
"Astagaaaa.....! Alfaaaaa.....!" Ucap Bundanya sangat kaget.
"Kenapa,?" tanya Alfa.
"Handukmu jatuh," ucap Bundanya membuat Alfa kalang kabut mencari handuknya.
"Anak nakal, cepat berikan Bunda cucu, aku sudah memberikan baju harom pada istrimu," ucap Bundanya membuat Alfa hanya tersenyum mesum.
"Kenapa boxermu ada yang bolong,?" tanya Bundanya membuat Alfa hanya membulatkan matanya, dia bahkan tidak pernah memperhatikan boxernya.
"Apa Bunda perlu mengambilkan punya Daddymu,?" tanya lagi Bundanya membuat Alfa dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Alfa...." ucap Alfi datang.
"APA." ucap tegas Alfa.
"Nih minum buatmu," ucap Alfi memberikan minuman yang airnya begitu keruh.
"Apa kamu ingin menipuku lagi,?" tanya Alfa menatap tajam ke arahnya.
"Minumlah ini cepat, Bunda pegang dia," ucap Alfi membuat Yuli yang mengetahui minum itu segera memeluk Alfa dari belakang.
"Alfa jangan memberontak, didalam perut Bunda ada adekmu," ucap Bundanya membuat Alfa tak bisa berkata-kata.
"HAHAHAHA, Bagus juga ide Bunda," ucap Alfi langsung mengarahkan minuman tersebut pada Alfa, namun Alfa tak membuka mulutnya.
Bundanya segera mencubit pinggangnya dan ahhhhhg....
Alfi sigap menumpahkan minuman masuk kedalam mulut Alfa dan segera menutupnya dengan tangannya sendiri.
"AHG, PAHIT...!" ucap Alfa.
"Hehehe, selamat menikmati kasiatnya," ucap Alfi berlari pergi.
"Anak ganteng," ucap Bundanya mencium pipinya dan ikut pergi.
"Kunci ya nak," teriak bundanya dari luar.
__ADS_1