
Pagi hari yang cerah, sinar matahari yang sudah menembus jendela Vera membuatnya terganggu, hingga membuatnya mengedip-ngedipkan matanya, dia bangun dengan wajah penuh kantuk, sedari tadi malam ia tidak bisa tidur memikirkan Alfa yang akan datang, hatinya sangat begitu bahagia namun dirinya juga sedikit gugup dan malu bertatapan dengan Alfa yang telah ia abaikan selama ini.
Selesai dengan aktivitas mandinya, Vera keluar untuk membantu ibunya memasak. tapi ternyata semua sudah dikerjakan oleh ibunya membuatnya sedikit kaget, dia menatap jam ternyata sudah jam 9 menjelang siang.
"Baru bangun,?" tanya Ibunya.
"Kok gak bangunkan Vera Bu? kan Vera mau bantu Ibu masak," ucap Vera duduk begitu saja disamping ibunya.
"Kamu juga, tidur kayak orang gak bernyawa sudah di panggil berkali-kali tapi gak ada sautan, lagian tumben sekali kamu kesiangan seperti ini,?" tanya Ibunya.
"Lapar," Ucap Vera langsung pergi berlari begitu saja ke arah makanan yang sudah siap saji.
"Dasar anak nakal, ditanya bukannya dijawab," ucap ibunya menggelengkan kepalanya.
"Hei Mama muda! kapan kamu pulang? apa kau tidak merindukan mertuamu,?" tanya Ibunya ikut gabung ke meja makan, hanya sekedar ingin berbincang dengan putrinya.
__ADS_1
"Kangen Bu, lagian Vera juga terkadang mampir kesana kok, dan Vera akan pulang hari ini, dan jangan merindukan wanita cantik didepan mu ini," ucap Vera mengedip-ngedipkan matanya ke arah ibunya.
"Tumben sekali kau bahagia,?" ucap Ibunya berdiri dan melangkah keluar.
Siang hari Vera hanya melihat ponselnya, berharap Alfa dapat mengabarinya, namun sampai saat ini masih belum mendapatkan pesan apa-apa. wajahnya sedikit cemberut, wajahnya sangat masam membuat ibunya yang lewat didepannya menghentikan langkahnya.
"Habis minum jeruk nipis,?" tanya Ibunya membuat Vera menatap ibunya dengan wajah cengengnya.
"Ibu mah...!" ucap Vera merengek seperti anak kecil.
"Tuh suamimu menunggu mu," ucap Ibunya membuat Vera sangat kaget, dia dengan cepat berlari keluar rumah, namun dia tidak melihat apa-apa disana, hanya ada kucing yang sedang bertengkar didepan rumahnya.
"Ketahuan kenapa tadi sangat ceria," goda Ibunya.
"Ibu ih, Vera malas bicara sama ibu," ucap Vera cemberut membuat ibunya semakin puas tertawa.
__ADS_1
Vera hanya memainkan ponselnya didalam kamar, moodnya benar-benar hancur, dia bahkan enggan untuk melangkah lagi, bahkan hp nya jadi sasaran kekesalannya.
"Hp butut! ucap Vera kesal melempar hp nya ke kasurnya, namun tak berapa lama kemudian dia kembali mengambilnya dan memeluknya.
"Ahg, bukan salahmu, salah dia karena tidak menghubungi mu," ucap Vera mencium hpnya.
"Apa kamu sudah gila,?" tanya seseorang membuat Vera yang tak asing dengan suara itu langsung menoleh ke sumber suara.
"Hah? Kak A-Alfa," ucap Vera gugup langsung bangkit dari kasurnya dan melangkah memeluk Alfa.
Alfa seketika terdiam, dirinya terpaku mendapatkan pelukan yang tak pernah ia sangka, jantungnya berdegup kencang, nafasnya tidak karuan, dia berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi wajahnya dengan memasang ekspresi seperti biasa.
"Maafkan aku... hiks..." ucap Vera tak sanggup melanjutkan kata-katanya hanya ada air mata yang keluar.
Alfa hanya diam, membuat Vera menatapnya dengan kedua pipi yang sudah dibasahi oleh air matanya. Vera melepaskan pelukannya dan duduk lemas di lantai, pikirannya dipenuhi oleh hawa negatif.
__ADS_1
"Aku tau kamu tidak akan memaafkan ku, tapi setidaknya aku lega melihatmu baik-baik saja," ucap Vera.
Alfa membantu Vera untuk berdiri, tatapan Vera menatap wajah Alfa yang sangat ia rindukan, wajah tanpa ekspresi dan dingin, namun membuat dirinya seperti melihat kesan yang sangat menarik.