
Sesampainya dikamar, Vera lebih dulu duduk di atas tempat tidur dengan tangan disilangkan didadanya, matanya seperti sangat menantang, menunggu seseorang membuka pintu kamar tersebut. Tak lama setelah itu pintupun terbuka dan nampak laki-laki yang sudah jadi suaminya berdiri menatapnya dengan wajah dingin.
"Menjauh dari atas sana, aku ingin tidur, dan apa apaan matamu itu!" ucap Alfa dengan suara kesal.
"Hei! apa kamu tau aku seperti habis dibakar dibawah barusan, rasa malu yang teramat dalam, ini semua salahmu," ucap kesal Vera.
"Aku tidak bisa debat dengan perempuan, menjauh lah dari sana." ucap Alfa membuat Vera membulatkan matanya.
"Kamu pecundang" ucap Vera sangat kesal, Alfa seketika menatapnya tajam, berjalan ke arahnya dengan pelan, Vera yang melihatnya menelan salivanya kasar, merasa Alfa kini sangat mengerikan.
"Coba kamu ulangi!" ucap Alfa dengan pelan namun sangat penuh dengan tekanan.
"Pecundang," saut Vera santai seolah-olah dirinya tidak merasa takut sama sekali, tapi kakinya tak bisa berbohong, kakinya tak berhenti gemetaran, Alfa hanya bisa tersenyum kecut menatapnya.
__ADS_1
"Jika saja dirimu bukan adik Danial, aku sudah membuang mu dari jendela itu," ucap Alfa.
"Kamu memang pecundang, Kakakku bahkan tidak ada hubungannya dengan ini, tapi kamu selalu menjadikannya alasan, bilang saja jika dirimu takut padaku," saut Vera dengan wajah sombongnya membuat Alfa menggelengkan kepalanya sangat pusing dengan tingkah Vera.
Alfa menarik Vera untuk pindah di atas tempat tidurnya namun Vera malah ikut menggenggam erat tangan Alfa hingga mereka kembali terjatuh kelantai dengan posisi yang sangat romantis, mata mereka seperti magnet yang terus bertatapan satu sama lain. Suara pintu terbuka membuat keduanya kembali pada dunianya masing-masing.
"Ahg.. ak..aku ti..ti.dak, bermaksud kak, tapi a..aa..ku, mau am...bil charger handphone ku, tapi gak jadi kak, Bagas gak bakal ganggu lagi, sumpah, dan bukankah di lantai keras, kenapa tidak di kasur saja kak, astaga apa yang aku bicarakan, maa...maaf a..a..aku pergi.." ucap Bagas sangat panik, pergi dengan cepat dan menutup pintunya.
Bagas bersender di balik pintu duduk dengan lemas, memegang dadanya yang terasa sesak.
"Ahgggg... ini semua gara-gara kamu, kenapa nasibku sangat memalukan seperti ini hiks..." ucap Vera menginjak-injak lantai dengan sangat kesal seraya memegang wajahnya yang sangat malu.
"Bagas, kamu sedang apa disini,?" tanya Ayu membuat Bagas kembali kaget.
__ADS_1
"Ahhhgg....! astaga Ayuuuuu.. ayo pergi dari sini," ucap Bagas langsung menarik tangan Ayu pergi.
"Kamu kenapa sih?" tanya Ayu bingung melihat wajah Bagas yang seperti baru saja melihat penampakan.
"Aku kembali mengganggu Kak Alfa, aku akan dimakan besok, mulutku juga sangat mudah untuk memberikan saran, kenapa aku mengatakan hal tersebut, aku sungguh bodoh," ucap Bagas membuat Ayu semakin penasaran apa yang Bagas alami barusan.
"Memangnya kamu lihat Kak Alfa ngapain,?" tanya Ayu dengan wajah sangat penasaran.
"Mereka berdua gini-gini" ucap Bagas menabrak-nabrakkan jari jempolnya.
"trus-trus?
"Aku melihatnya, dan aku dengan bodohnya memberikan saran pada mereka agar melakukannya di kasur, mulutku sangat ceplos-ceplos," ucap Bagas, Bagas kembali menatap Ayu DNA menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Astaga, kenapa aku mengatakannya padamu, Ahhgggg.... Sialllll... Aku akan benar-benar hilang besok," ucap Bagas segera berlari pergi.