
Meeting pagi itu berjalan lancar. Setelah beberapa bulan melakukan peninjauan demi peninjauan, akhirnya kedua direktur perusahaan itu pun saling berjabat tangan sebagai simbol terjalinnya kerjasama.
“Masalah berkas-berkas yang dibutuhkan, Bapak bisa langsung berhubungan dengan sekretaris pribadi saya. Karena saya masih cukup lelah akibat perjalanan kemarin,” ucap Ivander kepada Kevin—kolega bisnisnya.
Qeiza terkejut mendengar permintaan Ivander. Pria yang berusia 37 tahun itu, terlihat sangat kekanakan, kini. Bagaimana mungkin rasa kesal karena lamarannya ditolak, disangkutpautkan dengan pekerjaan? Harusnya Ivander juga mendengar lebih rinci nota kesepakatan yang sudah disusun bersama.
Sementara itu, terlihat Kevin tengah mengulum senyumnya sembari melirik Qeiza.
“Oh, tidak masalah, Pak. Lagian ini hanya penegasan dari pembicaraan kita tadi. Nanti Pak Ivan tinggal terima beres dan tanda tangan saja,” jelas Kevin. Mengangguk angkuh, Ivander pun gegas meninggalkan Qeiza bersama Kevin dan Jaka—asisten Kevin.
Kevin menelan salivanya, saat melihat Qeiza yang tengah sibuk dengan laptopnya. Kevin pun mengambil ponselnya, dan setelah itu, Jaka keluar dari ruangan.
“Kita berdua saja yang membicarakan proyek ini, tidak masalah kan?” tanya Kevin yang kini sudah berpindah duduk, di samping Qeiza. Dengan terpaksa Qeiza menganggukkan kepalanya.
Qeiza kembali menegaskan MoU kerjasama perusahaan mereka. Namun, tentu saja Kevin tak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Qeiza. Pria itu sibuk memandangi leher mulus Qeiza dengan beberapa helai rambut yang terlihat menjuntai.
“Kamu masih menjanda, Qei?” bisik pria hidung belang itu. Kevin bahkan meniup telinga Qeiza setelahnya.
“Urusan pribadi saya tidak ada urusan dengan Bapak! Saya harap Bapak fokus, agar pekerjaan ini cepat selesai!” ketus Qeiza.
Tentu saja Kevin tidak mengindahkan ucapan janda beranak satu itu. Pria itu malah semakin berani melecehkan Qeiza.
“Berapa Ivander menggajimu setiap bulan? Sepuluh juta? Dua puluh? Atau tiga puluh juta?”
Secepat mungkin Qeiza membacakan MOU tersebut, agar bisa segera menjauh dari pria hidung belang itu.
“Habiskan satu malam denganku, akan ku bayar dengan harga satu bulan gaji mu.”
Seketika Qeiza berdiri dan menatap nyalang pada pria itu. “Saya memang janda, Pak. Tapi saya tidak menjual diri! Saya rasa anda sudah menyetujui semua isi MoU ini. Kalau begitu saya permisi!” ketus Qeiza.
Saat wanita itu hendak membawa komputer jinjingnya, gegas Kevin membekap tubuh Qeiza dari belakang. Sekuat tenaga Qeiza berontak, namun saat dirinya baru saja terlepas dari genggaman Kevin, wanita itu tersandung ujung meja dan terjatuh.
__ADS_1
Secepat mungkin Qeiza bangkit, tapi masih kalah cepat dari lengan Kevin yang mencekalnya.
“Tolong! Tolong!” teriak Qeiza dengan air mata yang sudah tak terbendung. Terlebih saat ini jemari Kevin berusaha untuk menggapai dan memijat dadanya yang membusung.
“Percuma kamu teriak, cantik. Ruang rapat ini kedap suara.”
“Akan saya laporkan anda dengan Pak Ivan!!”
Tawa Kevin seketika meledak. Pria itu menempelkan sebagian tubuh atas Qeiza ke atas meja, hingga wanita itu kini berdiri dengan posisi membungkuk. Kevin pun mendekatkan wajahnya ke telinga janda beranak satu itu.
“Jika kamu melaporkannya dan proyek ini batal, Kamu pikir siapa yang akan rugi, hmm? Bratajaya Corporation akan kehilangan dana dua puluh milyar untuk itu. Kamu pikir Ivan rela kehilangan dua puluh milyar hanya demi janda seperti dirimu?” bisik Kevin.
Tangis Qeiza semakin pecah. “Tolong jangan seperti ini, Pak,” lirih Qeiza dengan tubuh bergetar. Bagaimana tidak, Kevin sudah mulai menempelkan kejantanannya pada bokong Qeiza. Pria itu bahkan mulai membelai paha Qeiza.
“Kalau begitu, habiskan malam bersamaku. Tenang saja, kamu akan ku bayar sesuai janjiku. Daripada Kamu harus melayaniku secara gratis!”
Terpaksa Qeiza menganggukkan kepalanya. Tujuan Qeiza hanya segera pergi dari hadapan pria bajingan yang tengah menindihnya itu.
“Lepaskan! Tolong lepaskan saya!” ucap Qeiza seraya memberontak dalam dekapan Kevin.
“Beri aku ciuman panas, sebagai uang muka,” ucap Kevin menyeringai. Dengan tubuh mereka yang sudah menempel erat, Kevin berusaha membawa bibir Qeiza dalam kulumannya. Tapi Qeiza terus menghindar, hingga terdengar suara pintu terbuka.
Reflek Qeiza dan Kevin menatap ke arah pintu.
Dengan tatapan membunuh, Ivander menghampiri Kevin dan memukul pria hidung belang itu dengan membabi buta.
“Pak Ivan dengarkan saya dulu, Pak!” teriak Kevin yang kini berada di bawah Ivander. Namun, tentu saja hal itu tak diindahkan oleh Ivander. Terlebih pria itu mendengar isak tangis Qeiza yang kini berjongkok di sudut ruangan.
“Dia yang menggoda saya duluan, Pak. Janda genit itu yang menggoda saya!”
Mendengar ucapan itu, Ivander kembali menyerang Kevin dengan membabi-buta.
__ADS_1
“Untuk apa dia menggodamu, hah! Aku yang lebih gagah dan lebih kaya darimu saja tak pernah digodanya!!”
Pukulan demi pukulan terus dilayangkan Ivander ke wajah Kevin tanpa perlawanan. Hingga tak lama Jaka muncul dengan beberapa staff hotel dan memisahkan Ivander dari Kevin yang sudah babak belur.
“Saya batalkan kerjasama ini!” teriak Ivander. Pria itu kemudian menghampiri Qeiza dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Dengan tangan gemetar, Qeiza mencengkeram erat baju Ivander lalu menangis sesenggukan dalam dekapan pria itu.
“Maafkan aku, Qei.”
Masih sambil mendekap Qeiza, Ivander membawa wanita itu ke kamarnya.
“Aku tinggal sebentar ya, ada yang harus aku urus,” ucap Ivander pada Qeiza yang tengah duduk di ranjang.
“Saya takut, Pak,” ucap Qeiza yang masih gemetar.
“Aku harus cepat, Qei. Aku harus bisa mendapatkan rekaman cctv di ruang meeting itu. Akan ku jebloskan bajingan itu ke penjara!”
“Jangan Pak. Kalau bisa jangan batalkan kerjasama itu. Perusahaan akan merugi miliaran rupiah,” ucap Qeiza. Ivander membelai lembut rambut wanita itu.
“Akan ku hancurkan perusahaannya! Kamu tenang saja,” gumam Ivander. “Aku pergi sebentar.”
Gegas Ivander meninggalkan gadis itu, dan meminta bukti rekam cctv pada pihak hotel. Pria itu lalu kembali lagi ke kamarnya. Mendengar suara Ivander, Qeiza menghampiri pintu penghubung yang memang terbuka sedari tadi.
Melihat Qeiza yang berdiri di ambang pintu, Ivander pun memutuskan panggilan teleponnya, lalu melangkahkan kakinya menuju tempat Qeiza berada.
“Kamu lapar? Atau butuh sesuatu?”
Qeiza menggelengkan kepalanya. “Bapak benar-benar akan melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib?”
“Iya, aku sudah menghubungi kuasa hukum perusahaan. Kejadian yang menimpa Kamu, bukan semata urusan pribadi. Ini urusan perusahaan, karena terjadi saat Kamu sedang dalam urusan pekerjaan,” jelas Ivander. Qeiza menganggukkan kepalanya. Ivander membelai lembut rambut wanita itu.
“Maaf.”
__ADS_1
Ivander benar-benar merasa bersalah dengan apa yang menimpa Qeiza. Jika dirinya tak meninggalkan wanita itu di sana, pastilah Qeiza tak mengalami kejadian seperti tadi. Andai dirinya tidak merasa kesal hanya karena Qeiza menolak untuk dinikahinya, Qeiza pasti tak akan digerayangi bajingan itu.