
Dua Minggu sudah berlalu sejak insiden yang terjadi di sekolah Qiana. Sejak itu, Qeiza tak pernah beranjak dari rumah walau hanya satu inchi. Sejak itu pula, Ivander tak pergi ke perusahaan. Pria itu menyerahkan semua pekerjaannya pada Ivona. Ivander tak pernah sedetikpun meninggalkan Qeiza, kecuali jika wanita itu dalam sesi konseling bersama psikolog.
Ivander tak mau membiarkan Qeiza menghadapi masalah itu seorang diri. Terlebih masalah itu berawal darinya. Dirinya yang jatuh cinta pada Qeiza, membuat wanita itu ikut terhanyut dengan kebersamaan yang sudah direkayasa oleh Andreas.
Berulangkali Evelyn menghubungi, tapi tak sekalipun mendapat tanggapan dari Ivander. Wanita itu bahkan datang ke perusahaan dan mencari sang suami. Tapi, tentu saja dia tak bisa menemukan Ivander di sana.
“Ada keperluan apa kamu ke sini?!” ucap Ivona, saat tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka dan Evelyn berdiri di balik pintu itu.
“Tentu saja mencari suamiku. Untuk apa lagi aku ke sini jika bukan mencari suamiku. Ini ruang kerja Ivan kan?! Aku rasa, aku berhak kapan saja ke ruangan ini.”
Ivona tertawa geli mendengarnya. “Kamu tunggu saja. Sebentar lagi, bahkan bayanganmu pun tak berhak untuk masuk ke ruangan ini!” tegas Ivona. Evelyn bersikap acuh. Dia tak memedulikan ucapan Ivona. Istri pertama Ivander Bratajaya itu berlalu dari sana. Makian dari bibir Ivona pun mengiringi langkah kaki Evelyn, saat meninggalkan ruangan itu.
Satu hal yang disesali oleh Evelyn, dirinya tak mencari tau di mana kediaman Qeiza setelah menikah dengan Ivander. Kini, dirinya tak lagi bisa menghubungi Ivander. Dirinya tak tau harus mencari sang suami ke mana.
Wanita itu bukannya rindu pada sang suami. Evelyn pun sebenarnya tak peduli dengan keberadaan Ivander. Minggu lalu, dirinya sudah memberikan bayaran kepada Jeremy. Ratusan juta begitu saja digelontorkan untuk pria itu karena Evelyn begitu senang dengan hasil kerja Jeremy.
Kini, tabungan wanita itu juga sudah menipis. Kartu kredit yang dimilikinya pun sudah mencapai limit.
Minggu lalu Ivander tak mengirimkannya uang. Sementara dirinya baru saja selesai dari masa menstruasi. Hampir satu Minggu dirinya menahan gejolak diri. Sekarang, Evelyn benar-benar ingin memuaskan hasratnya bersama Jeremy dan teman-teman pria itu. Namun, Evelyn tak memiliki uang cukup untuk membayar para pria itu.
Padahal, Jeremy sudah mengirimkan beberapa foto pria tanpa busana. Dan ada dua orang pria yang begitu menarik perhatiannya. Evelyn sudah tak sabar bercengkrama bersama ketiga pria itu. Dia harus bisa menghubungi Ivander. Dia sangat membutuhkan uang saat ini.
Evelyn benar-benar kesal. Hasratnya sudah begitu memuncak. Potret dua pria atletis yang telah dipilihnya itu, terus menari-nari dalam pikirannya. Besok, tubuhnya harus sudah bisa mencicipi kedua pria itu.
Gegas wanita itu melajukan kendaraannya. Evelyn menyambar salah satu tas branded miliknya begitu tiba di rumah. Rencananya, wanita itu akan menjual tas itu untuk bisa menyewa Jeremy dan dua temannya selama dua malam.
Evelyn tak peduli jika harus menjual tas kesayangannya karena wanita itu tak lagi bisa menahan hasratnya.Terlebih Jeremy mengirimkan video kedua pria idamannya itu melakukan gerakan-gerakan yang membuat bagian tubuhnya berdenyut hebat. Evelyn tak bisa menundanya lagi. Evelyn memotret tas beserta itu beserta sertifikatnya yang menandakan keotentikan tas tersebut.
“Laku dua ratus atau tiga ratus pun tidak masalah. Yang penting, besok siang uang itu harus sudah ada di rekening,” gumam Evelyn.
Namun, tampaknya Evelyn masih memiliki sedikit keberuntungan. Belum sempat wanita itu mengunggah foto tas mewah itu, ponselnya berdering.
__ADS_1
“Ivan?!” teriak Evelyn, begitu nama pria itu muncul pada layar ponselnya. Dengan antusias wanita itu menjawabnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ivander mengajaknya bertemu. Dirinya bisa menagih uang saku yang belum dikirimkan oleh sang suami.
“Bagaimana kalau kita bertemu hari ini saja, Hon? Kamu pulang ke sini ya?” jawab Evelyn.
“Hari ini aku tidak bisa. Berkas-berkas yang aku harus urus belum selesai. Besok sore, begitu berkas itu selesai, aku pasti akan datang.”
“Tapi, besok aku mau pergi ke Villa yang di Lembang, Hon. Ada acara bersama teman-temanku. Dan kamu belum memberiku uang saku sejak Minggu lalu,” rengeknya.
Ivander terdiam.
Wanita itu kembali ingin menginap di villa? Apa dia akan kembali membawa pria-pria itu ke sana?
“Hon, sekarang saja ya. Aku tunggu kamu di rumah. Soalnya aku benar-benar butuh uang saku itu.”
Ivander masih terdiam. Pria itu terlihat tengah memikirkan sesuatu.
“Hon?! Kamu masih di sana kan?”
“Tapi, aku benar-benar tidak bisa ke sana sekarang. Tapi, kamu jangan khawatir, aku akan kirimkan uang. sakumu Minggu lalu dan Minggu ini. empat ratus juta kan?”
“I-iya Hon. Kamu beneran akan kirim sekarang? Empat ratus juta?!”
“Iya. Aku kirimkan sekarang. Bukannya kamu butuh untuk besok?”
Wajah Evelyn benar-benar sumringah. Wanita itu teramat senang. Entah kebaikan apa yang sudah diperbuatnya hingga dirinya bisa seberuntung sekarang. Besok dia bisa menikmati pria-pria yang sangat menggoda itu. Dia pun tidak perlu menurunkan harga dirinya untuk menjual tas miliknya. Ivander malah akan mengirimkan uang saku double untuknya.
“Kalau begitu aku kirimkan sekarang ya. Karena nominalnya cukup besar, mungkin uang itu akan masuk ke rekening kami, besok pagi,” jelas Ivander.
“Iya, Hon. Aku paham kok. Terima kasih ya. Pokoknya, sepulang aku dari villa, aku akan memberikan pelayanan paling memuaskan untuk kamu, Honey,” ucap Evelyn manja.
__ADS_1
Merasa muak dengan ucapan wanita itu, Ivander memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.
Pria itu langsung menghubungi Anggara.
“Ga, pastikan kamera CCTV di villa Lembang berfungsi dengan baik. Evelyn besok akan ke sana. Kemungkinan dia akan datang bersama pria-pria yang kemarin.”
“Untuk buat bukti tambahan lagi ya, Mas. Tapi, sepertinya bukti-bukti yang kita punya sudah cukup. Video yang akan kita sebarkan pun sudah selesai meluncur,”
“Pastikan besok pagi video itu sudah tersebar. Besok malam, kita ke Lembang,” titah Ivander.
“Lembang?” tanya Anggara tak percaya. Berdasarkan informasi yang barusan kakak iparnya berikan, Evelyn akan kembali menginap di villa keluarga mereka yang ada di Lembang. Jangan-jangan ....
“Mas, mau memergoki Evelyn di sana?!”
“Tolong siapkan semuanya, Ga. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Evelyn harus membayar semua perbuatannya. Terhadap Qeiza, juga terhadapku yang sudah bertahun-tahun dikelabuinya!”
Anggara memastikan semua keinginan Ivander berjalan sesuai rencana. Video tentang Evelyn yang gemar bermain gila bersama para penari pria tanpa busana sejak sebelum menikah dengan Ivander tampil di video itu. Wanita itu telah berselingkuh sejak awal pernikahan.
“Semua akan berbalik, Qei. Namamu akan kembali bersih,” gumam Ivander. Pria itu sudah tak sabar ingin memberikan kejutan untuk wanita yang sudah sepuluh tahun mendampinginya.
***
Tepat pukul sembilan pagi, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Evelyn. Wanita itu tentu saja tak terbangun karena suara itu. Evelyn baru melihat ponselnya, saat dia membuka mata pada pukul sebelas siang.
Mata Evelyn mendadak segar. Rasa kantuk yang masih tersisa seketika hilang. Uang senilai empat ratus juta rupiah telah masuk ke rekeningnya.
Gegas wanita itu beranjak dari ranjang, lalu memastikan kembali lingerie super seksi yang dibelinya, sudah siap dikenakan.
Jeremy menjemput wanita itu saat langit hampir senja. Begitu menaiki mobil yang dikendarai oleh Jeremy, Evelyn seketika menoleh ke belakang. Dua orang pria pesanannya itu benar-benar memesona. Evelyn sudah tak sabar dilayani oleh kedua pria itu.
Evelyn mengajak ketiga pria itu makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Lembang. Dan begitu tiba di sana, Evelyn langsung menyergap salah satu pria pesanannya itu.
__ADS_1
Sementara itu, ponsel Ivander berbunyi. Seseorang melaporkan jika Evelyn sudah tiba di villa.
“Kita berangkat sekarang!”