Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Amarah seorang CEO


__ADS_3

Ivander dan Qeiza sedang berbincang dengan rekan bisnisnya saat Evelyn tiba di Bratajaya Corporation. Dan, betapa terkejutnya Ivander, saat dirinya tengah mengantarkan rekan bisnisnya itu keluar ruangan, ada kegaduhan di sana.


“Maaf Bu. Maafkan saya. Sakit Bu. Tolong lepaskan saya.”


Salah satu sekretarisnya berteriak kesakitan karena rambutnya sedang dicengkeram oleh seorang wanita. Wanita yang sepertinya tak asing lagi baginya.


“Ada apa ini?!”


Suara Ivander begitu menggelegar. Kegaduhan yang terjadi tepat di depan ruang kerjanya, membuat pria itu malu dengan rekan bisnis yang kini berdiri di sampingnya.


Wanita yang mencengkram rambut sekretarisnya, seketika berbalik badan. Mata Qeiza membulat, saat menyaksikan siapa yang kini berdiri di depannya. Namun, tak begitu dengan Ivander.


Ivander sudah bisa menebak siapa wanita yang menyerang sekretarisnya. Dan, sebenarnya, Ivander juga sudah mengetahui perihal Evelyn yang telah bebas dari penjara dengan uang jaminan.


Mendengar suara Ivander, Evelyn seketika melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Rina. Wanita itu berlari dan menghambur ke pelukan Ivander Bratajaya.


“Honey,” lirih Evelyn.


Evelyn memeluk erat Ivander. Wanita itu pun menangis sesenggukan sembari meminta pengampunan pada pria itu.


“Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku sangat merindukanmu,” ucap Evelyn yang masih memeluk Ivander begitu erat.


“Lepas,” geram Ivander.


“Honey, maafkan aku. Tolong maafkan aku. Aku akan melakukan apapun agar kamu mau memaafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu.”


Qeiza tak dapat menyembunyikan rasa cemburunya saat melihat tubuh Evelyn dan Ivander menempel dengan erat. Terlebih sang suami terlihat tidak berusaha melepaskan diri dari dekapan Evelyn. Qeiza menatap tajam sang suami sebelum berbalik arah dan masuk ke ruang kerja mereka.


“Qei ... Sayang ...,” panggil Ivander.


Tentu saja Qeiza tak menggubris panggilan dari sang suami yang sibuk bercengkrama dengan mantan istrinya itu.


Ivander menghela napas berat. Pria itu tau jika Qeiza pasti merasa marah dan cemburu. Tapi, Ivander tak mungkin melepas paksa pelukan Evelyn. Ada rekan bisnisnya di sana. Tak mungkin dia bersikap arogan. Ivander berusaha menjaga wibawa. Berulangkali dia menegaskan pada Evelyn, agar wanita itu melepaskan pelukannya. Tapi, tampaknya Evelyn tak menuruti.


Tak ada aksi perlawanan dari Ivander, membuat wanita itu tambah berani. Evelyn menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Ivander dan mulai mengecupnya.

__ADS_1


“Aku tau, kamu masih menginginkan aku, Hon,” bisik Evelyn seraya mengulum cuping telinga Ivander.


Ivander bertambah murka. Pria itu tak lagi memikirkan soal wibawa. Dengan sekuat tenaga, Ivander melepas paksa tangan Evelyn pada tubuhnya, lalu mendorong wanita itu hingga jatuh tersungkur.


“Jangan pernah bermimpi untuk kembali lagi padaku, dasar *******!” teriak Ivander. Suara pria itu begitu menggelegar. Tubuh Evelyn bergetar saat mendengar teriakan Ivander. Qeiza yang berada di dalam ruang kerja bahkan ikut tersentak kaget.


“Rina, panggilkan security. Seret wanita ******* ini keluar!”


Mendengar dirinya akan diusir, Evelyn mengabaikan rasa takutnya. Wanita itu merangkak dengan cepat dan memeluk erat kaki Ivander.


“Maafkan aku, Hon. Maafkan aku. Jangan usir aku. Aku butuh tempat tinggal. Aku ditipu. Seluruh harta yang kamu berikan dibawa kabur oleh pria itu,” rengek Evelyn.


Bukannya merasa iba, Ivander malah bertambah jijik dengan wanita itu. Ivander berusaha kuat untuk melepaskan Evelyn yang sedang bergelayut di kakinya.


“Aku rela walau hanya jadi pemuasmu di ranjang. Aku tidak perlu status menjadi istrimu. Cukup beri aku tempat tinggal dan uang, aku akan terus berada di sana dan tak akan pergi ke mana pun. Aku hanya menantimu dan melayanimu kapan saja kamu inginkan,” rengek wanita itu. Evelyn sudah tak peduli lagi dengan harga dirinya di hadapan para staff Bratajaya Corporation yang memandang jijik padanya.


Evelyn terlihat begitu hina.


“Rina!! Mana security?!!”


Ivona yang mendapatkan kabar tentang keberadaan Evelyn, kini sudah berada di depan ruang kerja Ivander. Bola mata wanita itu hendak melompat keluar saat menyaksikan Evelyn bergelayut di kaki Ivander.


Gegas Ivona menghampiri Evelyn, menarik rambut wanita itu sekuat mungkin hingga Evelyn mengadu kesakitan dan melepaskan cengkeramannya pada kaki Ivander.


“Hei kalian, jangan diam saja! Bantu saya menyeret wanita tak tau diri ini!”


Rina yang tadi merasa kesakitan karena Evelyn mencengkram erat rambutnya, begitu antusias saat Ivona meminta bantuan. Gegas wanita itu menghampiri Ivona dan menarik rambut Evelyn. Menyeret wanita itu hingga menjauh dari Ivander.


Evelyn meronta-ronta menahan sakit.


“Lepasakan! Lepaskan aku brengsek!!” teriak Evelyn.


Tak lama, dua orang pihak keamanan perusahaan datang dan langsung menggelandang Evelyn.


“Ivan tolong aku. Tolong aku. Aku sangat mencintaimu. Aku merindukanmu. Aku akan melayanimu. Aku rela jadi budakmu! Tolong aku Ivan!!”

__ADS_1


“Berhenti!” teriak Ivander.


Kedua security yang menggelandang Evelyn, menghentikan langkahnya sesuai perintah Ivander. CEO Bratajaya Corporation itu pun melangkahkan kakinya mendekati Evelyn.


Evelyn sumringah.


Dirinya merasa begitu berbunga saat melihat Ivander melangkah ke arahnya. Wanita itu merasa kalau Ivander akan menerima tawarannya. Ivander akan memberikannya tempat tinggal yang layak demi memuaskan hasrat pria itu.


Menurut Evelyn, Ivander sebenarnya sangat perkasa. Hanya saja pria itu selalu melakukan penyatuan dengan penuh kelembutan. Evelyn tak terlalu menyukainya. Evelyn lebih suka diperlakukan dengan sedikit kasar.


Tapi, jika Ivander bersedia kembali menerimanya— walau hanya sebatas sebagai pelayan hasrat pria itu saja— itu sudah cukup bagi Evelyn. Wanita itu dengan senang hati akan melayaninya. Dirinya tak akan lagi mencari kepuasan dengan pria lain. Asalkan dia punya tempat untuk bernaung.


Evelyn sudah membayangkan Ivander akan membawa dirinya ke dalam pelukan pria itu. Namun, sayangnya, impian Evelyn tak mungkin jadi kenyataan. Pria itu sudah terlanjur jijik dan benci terhadap mantan istrinya itu.


Dengan rahang mengeras, Ivander menghampiri Evelyn dan langsung mencengkeram dengan keras rahang wanita itu.


“Jangan pernah bermimpi aku akan kembali padamu. Bahkan, hanya melihatmu di kejauhan saja sudah membuatku muak,” ucap Ivander seraya menghempaskan wajah Evelyn.


Ivander merogoh saku dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dompetnya. Pria itu lalu melemparkan lembaran uang itu, persis di wajah Evelyn.


“Jangan pernah sekalipun muncul di hadapanku lagi. Jika kau tidak mau ku buat menghilang dari bumi ini,” geram Ivander.


“Sampaikan pada semua petugas keamanan. Jangan biarkan wanita ular ini berkeliaran di sekitar perusahaan!”


Evelyn luruh. Dia tak menyangka jika Ivander bisa bersikap begitu kejam padanya. Bekas jari Ivander bahkan tercetak di sekitar rahangnya karena pria itu mencengkeram rahangnya dengan sangat keras.


Dengan tubuh gemetar, wanita itu memunguti lembaran uang yang dilempar oleh Ivander. Evelyn tak lagi memikirkan gengsi. Lembaran uang yang dilempar Soleh Ivander itu, mungkin bisa digunakannya untuk membeli makanan beberapa hari.


“Pergi sana!” usir petugas keamanan Bratajaya Corporation, sesaat mereka sudah menghempaskan tubuh Evelyn. Hampir saja Evelyn tersungkur di jalan.


Dengan pikiran tak tentu arah, Evelyn melangkah. Wanita itu tak punya tempat tujuan. Dirinya tak memiliki sanak saudara di Ibu Kota. Evelyn bahkan sudah memutuskan hubungan dengan keluarganya sejak dulu.


Evelyn remaja yang menjalin hubungan dengan suami orang, diusir oleh sang ayah. Sejak saat itu, Evelyn tak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah orang tuanya. Evelyn terus berganti kekasih, dari pria paruh baya satu ke pria paruh baya lainnya. Wanita itu membutuhkan kekasih paruh bayanya, untuk membayar biaya sekolah, tempat tinggal serta gaya hidup wanita itu.


“Apa aku harus kembali ke kampung? Tapi, seluruh orang di Desa pasti akan mengejekku jika tau aku jatuh miskin.”

__ADS_1


__ADS_2