
Ivander menepati ucapannya. Pria itu benar-benar tidak membiarkan Qeiza bersantai sedikit pun. Karena terus saling melampiaskan hasrat sepanjang hari, sepasang suami istri yang tengah menjalani bulan madu kedua itu, tertidur dengan sangat lelap di malam hari. Qeiza bahkan tak sempat merasa resah karena memikirkan anak-anaknya.
Puas Ivander menikmati kebersamaannya dengan sang istri. Waktu 72 jam mereka habiskan hanya berdua saja. Saling melampiaskan hasrat, saling berbagi cerita, bahkan saling menjahili satu sama lain.
“Kamu bahagia kan menghabiskan waktu berdua dengan Mas?” tanya Ivander saat mereka baru saja keluar dari kamar hotel.
“Bahagia sekali, Mas,” jawab Qeiza.
Qeiza tak berbohong. Wanita itu memang merasa begitu bahagia menghabiskan waktu selama hampir 72 jam bersama Ivander. Dan hari ini, Qeiza bertambah bahagia karena sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan Qiana dan Sean. Dia sudah begitu merindukan kedua anaknya itu.
Dengan jemari yang saling menggenggam erat, Ivander dan Qeiza melangkah menuju meja resepsionis.
Qeiza pikir, Ivander akan melakukan proses check out dari hotel bintang lima itu. Tapi, nyatanya, sang resepsionis malah memberikan Ivander sebuah kartu. Seorang room boy bahkan sudah mengambil alih koper yang sedari tadi dipegang oleh Ivander.
“Silakan lewat sini, Pak, Bu.”
Ivander pun menggenggam jemari Qeiza dan mengajak wanita itu untuk mengikuti petunjuk yang diberikan oleh room boy. Qeiza bingung.
“Mas....”
Wanita itu menahan langkahnya. Harusnya mereka kembali ke rumah hari ini. Qeiza sudah begitu merindukan kedua buah hatinya. Tapi, mengapa sang suami malah kembali memesan sebuah kamar untuk menginap?
“Kenapa Sayang?”
“Katanya mau check out?” tanya Qeiza heran.
“Iya ... Check out dari kamar yang kita tempati tadi. Sekarang, kita akan pindah kamar,” jawab Ivander.
Qeiza tak bisa berkata apa-apa. Wanita itu begitu kecewa dengan sikap sang suami. Rasa bahagia yang dia rasakan selama 72 jam itu, menguap begitu saja. Rahang Qeiza mengeras.
“Ayo,” ajak Ivander.
Namun, Qeiza menahan dirinya. Wanita itu tak mau beranjak. Dia ingin pulang. Dia ingin kembali ke rumah. Qeiza ingin bertemu dengan kedua anaknya.
“Mas kan janjinya hanya dua malam saja!” protes Qeiza.
“Selama tujuh puluh dua jam kita bersama, kita berdua merasa sangat rilex dan happy kan? Apa salahnya kalau kita menambah waktu santai dan bahagia itu?”
__ADS_1
Qeiza tercengang. Wanita itu bingung harus berbuat apa. Di satu sisi dia tak mau mengecewakan sang suami. Tapi, di sisi lain, dia sangat merindukan kedua buah hatinya.
“Kantong ASI yang Mas bawa kemarin, sudah habis.”
Qeiza terus mencari alasan agar mereka tak lagi menginap di hotel itu. Tapi Ivander bersikeras.
“Kamu tidak membutuhkan itu lagi.”
“Tidak membutuhkan lagi? Bagaimana kalau ASI ku penuh, Mas?! Aku bisa meriang karena menahan nyeri,” lirih Qeiza.
“Ya beri saja pada yang membutuhkan,” jawab Ivander santai.
Ivander mulai menarik lengan Qeiza. Sepasang suami istri itu sudah mulai melangkahkan kaki menuju kamar yang baru saja dipesan oleh Ivander.
Dan kini, sepasang suami istri itu menaiki elevator, hingga tiba di depan sebuah pintu kamar.
“Sudah Mas, biar saya saja,” ucap Ivander sembari mengambil koper miliknya yang sedari tadi di bawa oleh pelayan hotel itu. Ivander juga memberikan tips sebelum room boy itu meninggalkan mereka.
Bunyi klik terdengar saat Ivander menempelkan sebuah kartu, tepat di depan pintu kamar. Pintu kamar itu pun terbuka.
“Ayo Sayang,” ajak Ivander.
Qeiza melangkahkan kakinya dengan malas. Rasanya dia ingin berlari dari tempat itu. Rasa rindu pada kedua buah hatinya, membuat Qeiza tidak bisa bersikap biasa saja. Dari raut wajahnya, jelas sekali dia kecewa. Dari sikapnya, terlihat jelas kalau Qeiza begitu kesal.
“Kamu kenapa sih, cemberut gitu dari tadi? Senyum dong,” ucap Ivander. Qeiza yang masih merasa sangat kesal, hanya diam, tak mau menjawab pertanyaan sang suami.
“Lihat, kamar ini lebih mewah dari yang kemarin kita tempati kan?”
Qeiza masih diam. Tak menanggapi sang suami. Masih dengan enggan, kakinya terus melangkah menyusuri kamar megah itu.
“Kalau kamu melangkah terus, pasti kamu akan merasa senang melihatnya.”
“Bagaimana mungkin aku bisa senang hanya dengan melihat kamar mewah, Mas?!” ketus Qeiza.
“Aku bisa senang kalau melihat anak-anak dibandingkan melihat kamar mewah ini.”
Ivander tersenyum geli melihat reaksi sang istri. “Masa sih?” goda Ivander.
__ADS_1
“Mas pastikan kalau kamu pasti bahagia jika terus menyusuri kamar mewah ini.”
Qeiza lagi-lagi tak menanggapi ucapan sang suami. Tapi, wanita itu terus melangkah menuju bagian tengah kamar. Kamar hotel itu benar-benar luas. Bahkan kamar yang akan mereka tempati itu memiliki luas 595 m².
Sejujurnya, walau merasa sangat kesal dengan keputusan suaminya, Qeiza pun terkagum-kagum melihat kamar yang teramat luas itu. Furniture-furniture mewah yang ada di sana juga membuat Qeiza terpesona. Ini pertama kali bagi dirinya menginap di kamar hotel super mewah.
Namun, tentu saja rasa kagumnya akan kamar super mewah itu masih tak sebanding dengan rasa rindunya yang begitu besar pada Qiana dan Sean. Qeiza masih murung. Berbanding terbalik dengan Ivander yang terus menebarkan senyum merekah.
Wajah murung Qeiza berubah, saat mendengar suara teriakan.
“Surprise...!”
Qeiza terbelalak. Menatap tak percaya pada apa yang disaksikannya. Qiana, Sean, Melati serta kedua pengasuh anak-anaknya ada di sana. Senyum Ivander semakin sumringah melihat reaksi Qeiza.
Dengan mata yang mengembun, Qeiza menatap sang suami. Ivander membalasnya dengan mengacak-acak kecil rambut sang istri.
“Mama tidak merindukan kita?!” ketus Qiana.
Qeiza yang masih menatap sang suami sembari mengusap air mata yang perlahan mulai jatuh, menoleh pada Qiana.
“Tentu saja Mama merindukan Qia dan Sean,” lirih Qeiza. Wanita itu pun menghampiri sang anak sulung dan memeluk Qiana dengan erat. Tak lupa Qeiza menghujani wajah sang anak dengan kecupan-kecupan.
Setelah itu, Qeiza beranjak pada pria kecil yang berada dalam dekapan Melati. Wanita itu pun mengambil Sean. Membawa Ivander mini itu ke dalam gendongannya.
“Mas benar kan?” tanya Ivander yang sudah berdiri di sisi Qeiza. Pria itu kini telah membawa Qiana dalam gendongannya.
“Kamu tidak membutuhkan kantong ASI lagi. Kalau ASI nya penuh, tinggal beri pada yang membutuhkan,” ucap Ivander sembari mengacak gemas rambut putra bungsunya.
Qeiza tersenyum sumringah. Pria yang ada di sisinya ini, benar-benar tau cara membuatnya bahagia.
“Terima kasih, Mas. Aku sangat bahagia hari ini,” ucap Qeiza.
“Harusnya Mas yang berterima kasih. Kamu sudah bersedia meluangkan waktu berharga mu hanya untuk Mas. Mas merasa sangat bahagia,” ucap Ivander.
“Mas masih ingat pesan Mami. Jika kita mau membahagiakan orang lain, pastikan lebih dulu, kalau kita sudah bahagia. Dan sekarang, saatnya kita untuk membahagiakan kedua anak-anak kita ini.”
Ucapan yang terlontar dari mulut sang suami, membuat air mata Qeiza kembali meleleh. Lagi-lagi wanita itu menangis di hadapan keluarganya.
__ADS_1
“Mama cengeng!” cebik Qiana. Seluruh orang yang berada di ruangan itu terkekeh mendengar celotehan seorang gadis kecil yang kini berusia delapan tahun itu.
“Ayo, kita bersenang-senang!” seru Ivander.