
Hari pertama tiba di Jepang, setelah menyantap makanan khas Turki yang berada di Haneda Internasional Airport, Ivander langsung membawa keluarganya menempuh perjalanan sepanjang dua belas kilometer. Hingga tibalah mereka di sebuah hotel yang tak jauh dari taman rekreasi yang sangat ingin dikunjungi oleh Qiana.
Sengaja Ivander memilih hotel yang dekat dari Disneyland dan Disneysea. Agar mereka bisa dengan mudah menuju taman rekreasi itu. Hanya butuh berjalan kaki beberapa menit untuk tiba di Disneyland ataupun Disneysea.
Dan, hari kedua di Jepang, sesuai janjinya, Ivander membawa serta seluruh keluarganya menuju Disneyland.
“Ayo, kita berjalan menuju Disneyland!” ucap Ivander dengan penuh semangat. Qiana dan Mika— anak kedua Ivona yang berusia lima tahun— menjawab ajakan Ivander dengan tak kalah antusias.
“Qia, jangan jauh-jauh dari Mas. Ayo sini,” ucap Raka, begitu Qiana melangkah mendahuluinya. Qiana pun menghentikan langkahnya dan menunggu Raka yang tengah berlari kecil menghampiri dirinya. Raka langsung menggenggam jemari Qiana.
“Mika juga mau sama Mas Raka.”
“Mika pegangan sama Mommy saja. Mika masih kecil, Mas tidak berani. Kalau Mba Qia sudah lebih besar, jadi Mas lebih mudah menjaganya,” ucap Raka. Dengan wajah ditekuk, Mika menghentak-hentak kakinya.
“Mommy ... Mas Raka nakal! Mas Raka gak sayang Mika. Mas Raka cuma sayang Mba Qia!” rengek balita itu. Ivona hanya menggelengkan kepalanya melihat Raka yang terus menggenggam jemari Qiana tanpa memedulikan Mika.
“Mika naik stroller saja, biar tidak lelah,” ucap Ivona. Gadis kecil itu pun menurut ucapan sang ibu. Dan Anggara gegas mendorongnya.
“Beb, Raka kenapa ya? Satu tahun belakangan ini, sweet sekali memperlakukan Qia. Tapi dengan Mika tidak seperti itu.”
“Bukannya dari dulu? Mereka kan hampir setiap akhir pekan bermain bersama. Jadi, Raka mungkin merasa lebih dekat dengan Qia daripada Mika. Lagian kan Mika masih kecil. Selera mereka pasti berbeda,” ujar Anggara.
“Qia juga masih kecil, Beb. Qia dan Raka jarak usianya juga jauh, 4 tahun!”
“Apalagi dengan Mika, berbeda 7 tahun,” ucap Anggara.
Ivona menghela napas berat. “Apa Raka sudah mulai tertarik dengan anak perempuan ya, Beb? Jangan-jangan Raka tertarik dengan Qia!”
“Kamu ini pikirannya jangan ngaco! Raka dan Qia itu saudara sepupu,” ucap Anggara.
“Maka dari itu. Sebelum terlanjur, kita harus beri ultimatum pada Raka.”
“Sudahlah ... Kamu ini berpikirnya terlalu jauh. Mereka itu masih kecil, Von. Dan sekarang kita lagi liburan. Jangan kacaukan dengan pikiran anehmu itu!” pekik Anggara.
__ADS_1
Ivona mencebikkan bibirnya. Wanita itu menatap kesal pada sang suami.
“Ayo, cepat. Kita sudah semakin tertinggal.”
Gegas Ivona dan Anggara melangkahkan kakinya menghampiri Ivander dan yang lainnya.
Wajah Qiana semakin berseri begitu mereka semua tiba di Disneyland. Qiana begitu menikmati liburannya di Disneyland. Begitupun dengan seluruh anggota keluarga Bratajaya lainnya. Hanya Ivona yang sesekali sibuk memperhatikan anak sulungnya yang terlihat begitu hangat dan lembut pada Qiana.
Hal yang baru disadari oleh Ivona. Raka hanya menunjukkan sisi hangatnya pada Qiana.
Sejak kejadian di Haneda Internasional Airport, sikap sang anak sulung terus menjadi perhatian Ivona. Dan setelah empat hari mereka di Jepang, Ivona tak tahan untuk tak menanyakan hal itu pada pria remajanya itu.
“Mom, Qia itu kan adiknya Raka. Wajar kan kalau Raka bersikap baik pada Qia? Apa Mommy maunya Raka membenci Qia?”
“Ya ... Bukan seperti itu juga. Mommy hanya ingin kamu ingat, kalau Qia itu sepupu kamu. Jangan aneh-aneh!” ancam Ivona. Pria remaja berusia dua belas tahun itu, menghela napas berat.
“Mommy yang aneh!”
“Tuh kan, kamu yang aneh,” ucap Anggara. Ivona hanya menatap kesal sang suami.
“Tapi, entah kenapa perasaanku tidak enak, Beb,” ucap Ivona.
“Kebelet pup kali, kamu!” seru Anggara. Ivona yang semakin bertambah kesal dengan sang suami, langsung melayangkan kepalan tangannya pada lengan kekar pria itu.
...****************...
Ivander dan keluarga kecilnya, baru saja tiba di Osaka. Rencananya, besok mereka akan pergi ke sebuah taman bermain yang begitu di nanti oleh Raka. Universal Studio.
Raka sudah menyeritakan banyak hal pada Qiana mengenai Universal Studio. Gadis berusia delapan tahun itupun menjadi sangat antusias dan tidak sabar untuk segera pergi ke taman bermain itu, esok hari.
Dan, apa yang diceritakan oleh Raka benar adanya. Tempat itu begitu memukau. Qiana begitu menikmati bermain di sana. Seperti saat di Disneyland dan Disneysea, Raka juga selalu menggenggam jemari Qiana selama mereka berada di Universal Studio. Pria remaja itu tak mau terjadi sesuatu pada sepupu cantiknya. Qiana baru pertama kali berkunjung ke luar negeri. Bahasa Inggris gadis itu pun tak sebaik dirinya. Dia tak ingin Qiana menghilangkan di Jepang. Hingga Raka terus menggenggam jemari Qiana.
Ivander dan Qeiza berulang kali memuji cara Raka menjaga Qiana.
__ADS_1
“Paman dan Tante Qei tenaga saja. Raka akan selalu menjaga Qia dengan baik,” ucap Raka.
Ivona langsung melirik tajam pada sang anak sulung. Namun, Raka tak menanggapinya. Dia tak mau ambil pusing dengan apa yang dipikirkan oleh sang ibunda.
“Jangan aneh-aneh,” bisik Anggara pada sang istri. Ivona hanya bisa menyikut perut sang suami hingga pria itu hampir tersedak.
Sementara itu, Ivander dan Qeiza merasa bersyukur ada Raka yang selalu menjaga putri sulung mereka. Karena ternyata, tak hanya Qiana dan Raka saja yang menikmati taman bermain itu. Ivander dan Qeiza pun sangat menikmati wahana-wahana yang berada di Universal Studio. Hingga mereka tak terlalu memperhatikan Qiana.
Keseruan selama di Universal Studio, membuat Ivander maupun Qeiza tak menyadari jika sedari tadi ponsel mereka berdering. Begitupun dengan Ivona dan Anggara. Mereka sibuk bermain dari pagi hingga petang.
“Ada apa ya, Jody menghubungi Mas berkali-kali,” ucap Ivander saat mereka baru saja selesai menyantap hidangan makan malam mereka di Osaka.
Ivona dan Anggara pun mengecek ponsel mereka. Lalu saling pandang.
“Kamu juga, Beb?” tanya Ivona pada Anggara. Anggara pun menganggukkan kepalanya.
“Papi,” lirih Ivona.
Gegas Andreas menghubungi Jody. Tak butuh waktu lama, saat nada tunggu pertama terdengar, Jody sudah menjawab panggilan dari Ivander.
“Ada apa Jod?” tanya Ivander begitu sambungan telepon itu dijawab oleh Jody— asisten pribadi Andreas.
“Halo Jod, kamu dengar tidak?” tanya Ivander, karena asisten pribadi sang ayah tak langsung menjawab pertanyaannya.
Dan beberapa detik setelahnya, wajah Ivander terlihat tegang. Tubuh pria itu pun mendadak kaku. Bahkan, bagi Ivander, rasanya bumi seakan berhenti berputar. Baru saja dia merasakan kebahagiaan tiada tara, kini dia harus dihadapkan pada salah satu hal yang paling dia takuti.
“Ada apa Mas?” tanya Qeiza.
Ivander masih tetap diam. Kaku dan tak bergerak.
“Mas ada apa?!” teriak Ivona.
“Ga ... Pesan tiket penerbangan sekarang juga. Cari penerbangan paling cepat. Tidak, tidak. Cari penyewaan pesawat yang bisa berangkat sekarang juga menuju Indonesia. Kita pulang sekarang!”
__ADS_1