Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Agenda Evelyn


__ADS_3

Sudah tidak ada Ivander di sampingnya, saat Evelyn membuka mata. Sebenarnya wanita itu juga tidak peduli mengenai keberadaan Ivander di sampingnya. Wanita itu juga sudah bisa menebak, jika Ivander pasti sudah berangkat ke perusahaan. Terlebih sekarang sudah pukul 09:00 WIB


Namun, wanita itu mendadak kesal, saat melihat isi ponselnya. Salah satu teman sosialitanya, mengirimkan sebuah potret padanya. Potret sebuah keluarga yang terlihat bahagia.


Ivander tengah mengecup mesra pucuk kepala Qeiza. Di beberapa potret juga terlihat jika pria itu mengecup gadis kecil yang berada dalam gendongan Qeiza dengan penuh kasih sayang.


“Kenapa mereka terlihat baik-baik saja. Bukankah Ivan mau menceraikan wanita munafik itu? Jadi, dia berangkat pagi-pagi sekali hanya untuk mengantarkan anak wanita itu ke sekolah?!”


Evelyn benar-benar geram. Wanita itu berusaha mencari faktor yang menjadi penyebab Ivander berbuat seperti itu. Kenapa tindakan dan ucapan pria itu terlihat berbeda?


Apa pria itu kembali dalam tekanan Andreas hingga harus menuruti keinginan Qeiza?


Kenapa Andreas masih menyukai Qeiza, padahal wanita itu sudah berselingkuh? Apa Andreas tidak percaya dengan foto yang sudah dikirimkannya kepada Ivander tempo hari?


Padahal dia sudah mengambil gambar dari sudut pandang yang sangat pas. Apakah Ivander tak menunjukkan foto itu pada Andreas?


Banyak sekali pertanyaan di benak Evelyn. Yang jelas, wanita itu sangat marah saat ini. Evelyn meminta bantuan kepada temannya yang juga memiliki anak yang bersekolah di tempat yang sama dengan Qiana. Wanita itu meminta nomor ponsel para wali murid di sekolah elit itu.


Teman Evelyn tersebut, mengirimkan beberapa nomor ponsel yang ada padanya. Evelyn mengangkat salah satu sudut bibirnya. Wanita itu akan kembali merusak citra Qeiza dengan cara yang sama walau sedikit berbeda.


Jika di perusahaan sang mertua, para staff sudah mengetahui Evelyn sebagai istri pertama Ivander, tak begitu di sekolah elit itu. Mereka tidak tau, jika Qeiza hanyalah seorang istri kedua.


Evelyn terlihat menghubungi seseorang.


“Kamu mengerti kan apa yang harus kamu lakukan? Buat video ini menjadi viral. Biar wanita munafik itu tak mampu lagi menunjukkan wajahnya pada orang-orang. Ke mana pun dia pergi dia pasti akan malu!”


“Asal bayarannya pas, semua bisa diatur, Beb,” ucap Jeremy.

__ADS_1


“Kenapa sih selalu khawatir soal bayaran. Asal semuanya berjalan lancar dan rapi, aku pasti membayar dua atau tiga kali lipat. Di tambah dengan tubuhku ini sebagai bonusnya,” cebik Evelyn. Jeremy yang ada di seberang sana terkekeh mendengar penuturan Evelyn. Baginya bonus yang diberikan oleh Evelyn itu tak penting. Pria itu sudah menjalin hubungan dengan Evelyn selama dua belas tahun. Pria itu adalah pemuas hasrat Evelyn sejak dulu.


Sejak dirinya berpacaran dengan Ivander, pergaulan Evelyn pun berubah. Entah bagaimana caranya, Evelyn bergabung dengan para sosialita Ibu kota. Salah satu sosialita paruh baya mengajaknya ke sebuah klub er*tis, klub dengan para penari tanpa busana. Di sanalah Evelyn bertemu Jeremy. Dengan uang bulanan yang selalu diberikan oleh Ivander, Evelyn menyewa Jeremy yg juga seorang penari baru. Awalnya Evelyn hanya menyewa ruang VIP di klub itu, la kelamaan, Evelyn menyewa sebuah kamar hotel. Bahkan, walau dirinya menikah dengan Ivander, wanita itu tetap meminta pelayanan dari Jeremy.


Dan kini, Jeremy tak hanya melayani Evelyn dengan tubuhnya saja. Pria itu menjadi pesuruh Evelyn yang sangat patuh. Melakukan apa saja yang diperintahkan oleh istri pertama Ivander Bratajaya itu.


Jeremy tak pernah keberatan dengan apapun yang diminta Evelyn, karena pria itu tau kalau Evelyn akan membayarnya dengan mahal.


Evelyn tersenyum sumringah, wanita itu sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Qeiza. Seluruh dunia akan tau jika Qeiza Hikaru adalah seorang pelakor. Wanita itu pasti akan malu setengah mati dan tidak berani muncul di mana pun. Evelyn benar-benar bahagia. Wanita itu merasa berada di atas awan. Sebentar lagi dirinya akan menjadi wanita satu-satunya dari Ivander Bratajaya. Pria itu akan kembali patuh pada perintahnya. Seorang anakpun akan dia berikan kepada mertuanya yang kolot itu.


Tapi, Evelyn tidak tau, jika perang genderang perang yang baru saja akan ditabuhnya, akan berbalik menyerang dirinya. Wanita itu tidak ingat dengan sistem tabur tuai. Jika kita menabur kejahatan, maka bencana akan dituainya.


***


Malam itu, begitu tiba di kediaman Evelyn, wanita itu menggeret Ivander ke ruang makan, karena Evelyn sudah memesan makanan kesukaan sang suami. Malam ini, selesai makan malam, rencananya Evelyn akan kembali mendesak Ivander untuk bertemu dokter kandungan, dan melakukan program penyewaan rahim.


“Kamu baru pulang bekerja, sudah mau bekerja lagi di rumah?! Ini sudah pukul delapan malam loh. Kapan waktu buat aku?!” rengek Evelyn.


Menahan rasa muak saat Evelyn tiba-tiba bergelayut manja padanya, Ivander menghela napas panjang. Pria itu berusaha untuk tersenyum tipis pada wanita itu.


“Sejak kepergok di restoran kemarin, Qeiza tak lagi bekerja. Pekerjaanku jadi bertambah banyak,” keluh Ivander.


“Kamu bisa temani aku sebentar kan? Tidak akan lama kok. Paling hanya satu hingga dua jam. Setelah itu, gantian. Aku yang akan temani kamu.”


Evelyn terpaksa menganggukkan kepalanya. Mau tak mau, dirinya harus menemani Ivander. Tak mungkin dia mengabaikan pria itu. Ada misi yang harus dijalankannya. Jika tidak, sudah pasti dia tak akan peduli dengan apa yang hendak dilakukan oleh pria itu. Evelyn bahkan tak akan peduli kesulitan yang dihadapi oleh Ivander.


“Aku akan buatkan kopi agar kamu tak mengantuk saat menemaniku. Aku rindu berbincang-bincang dengan kamu,” lirih Ivander.

__ADS_1


Evelyn kembali merasa di atas awan. Ivander kembali seperti dulu. Pria itu sejak dulu sering membuatkan dirinya segelas kopi ataupun cokelat hangat.


Pikir Evelyn, ini semua karena Ivander memergoki Qeiza berselingkuh.


“Harusnya kamu jangan pergi bekerja terlalu pagi. Aku akan usahakan bangun lebih awal dan kita sarapan bersama terlebih dulu sebelum kamu berangkat bekerja,” ucap Evelyn saat Ivander memberikannya segelas kopi.


“Aku tidak bisa, Ev.”


“Kenapa? Apa karena harus mengantarkan anak Qeiza ke sekolah?”


Ivander terperangah. Bagaimana wanita itu bisa mengetahuinya? Apa Evelyn selama ini memata-matai dirinya dan Qeiza?


“Aku tau, kamu melakukan ini pasti karena suruhan papi kamu yang kolot itu. Makanya Hon, kita harus mempercepat proses penyewaan rahim itu. Biar kamu ada alasan untuk menceraikan Qeiza.”


Ivander bergeming. Pria itu tak tau harus bereaksi seperti apa mendengar ucapan Evelyn.


“Lagian, papi kamu itu aneh sekali. Sudah tau Qeiza berselingkuh, masih saja menyukai wanita itu.”


“Aku juga pasti kan menceraikan wanita yang telah berselingkuh di belakangku. Tapi, kenyataannya tak semudah itu,” ucap Ivander.


“Yasudah, ngobrolnya nanti saja kita lanjutkan. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Kamu temani aku di sini. Habiskan kopinya, aku sudah bersusah payah turun ke dapur dan membuatkan kopi itu untukmu.”


Evelyn menganggukkan kepalanya. Wanita itu duduk di samping Ivander sembari sibuk mengotak-atik ponselnya. Sementara Ivander, entah apa yang dia kerjakan. Pria itu berulang kali membaca berkas, kemudian menatap layar komputer jinjingnya, sembari sesekali melirik Evelyn. Pria itu menantikan Evelyn tertidur pulas, hingga dia bisa dengan bebas memeriksa ponsel wanita itu.


Dan setelah hampir dua puluh menit, kesempatan itu datang juga. Ivander terlihat menghubungi seseorang. Dan lima menit berselang, orang yang dihubungi oleh Ivander tiba.


Seorang pria berperawakan sedang dan memakai kacamata, menyambar ponsel Evelyn dan melakukan sesuatu pada ponsel itu.

__ADS_1


“Saya sudah menyadapnya. Saya akan berusaha membuka seluruh data lama milik istri anda ini.”


__ADS_2