Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Penggrebekan


__ADS_3

Begitu menerima kabar jika Evelyn sudah tiba di Villa, Ivander mengecek ponselnya. Pria itu melihat pantauan kamera CCTV yang ada di villa dan sudah tersambung dengan ponselnya. Ivander hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat menyaksikan Evelyn dengan beringasnya menyerang salah satu pria yang berada di sana.


Ivander mempertegas penglihatannya. Pria itu akhirnya menyadari, selain seorang pria yang menjebak Qeiza tempo hari, dua orang pria lainnya adalah pria yang berbeda, dari pria yang datang bersama Evelyn beberapa Minggu lalu.


“Sudah berapa pria yang tidur denganmu, Ev? Untung saja aku tidak terkena penyakit akibat kelakuan bej*tmu itu.”


Ivander menyimpan kembali ponselnya. Pria itu menatap langit yang kini telah gelap.


“Perkembangan video kelakuan bejat Ev itu, bagaimana Ga?”


“Video itu aku lemparkan ke dunia maya pagi tadi, Mas. Dan malam ini, sudah hampir satu juta pengguna yang menyaksikannya. Komentar yang masuk pun sudah ribuan, Mas. Tapi ada beberapa komentar yang mengatakan kalau itu video rekayasa,” jelas Anggara.


“Dan sepertinya Evelyn belum melihat video itu,” ucapnya lagi.


“Dia tidak akan mungkin melihatnya. Dia sudah pasti bangun tidur di siang hari, lalu bersiap pergi. Apalagi sekarang, dia pasti sibuk dengan ketiga pria itu. Mana sempat dia memeriksa kejadian yang ada di sekitarnya.”


“Tiga orang lagi, Mas?” tanya Anggara tak percaya.


Ivander menganggukkan kepalanya, “iya. Ada tiga pria di sana. Dan dua di antaranya, bukan pria yang sama seperti waktu itu.”


Kembali Anggara terperangah mendengar penjelasan Ivander.


Ivander harus menempuh perjalan hampir tiga jam untuk tiba di sana. Ivander sengaja melakukannya. Pria itu membiarkan sang istri menikmati detik-detik terakhir tubuhnya dipuaskan. Karena mungkin setelah ini, Evelyn tak akan bisa dilayani seperti itu.


“Selama ini, kamu anggap aku pria bodoh kan, Ev? Kita lihat, seberapa lihai kamu berkelit, nanti!” gumam Ivander.


Sementara itu, Evelyn yang baru saja mencapai puncaknya yang pertama akibat sapuan lidah Jeremy, kini memilih tubuh siapa yang akan lebih dulu memasukinya.

__ADS_1


“Ayo, sini mendekat,” ucap Evelyn. Wanita itu memejamkan matanya saat menggenggam keperkasaan dua pria sekaligus. Lalu Evelyn memilih salah satunya untuk lebih dulu melakukan penyatuan dengannya.


“Ayo, honey, kamu lebih dulu,” ucap Evelyn parau. Pria yang kepemilikannya masih digenggam oleh Evelyn, menganggukkan kepala dan menuruti perintah wanita itu.


“Jer, aku mau single,” ucap Evelyn. Jeremy mengangguk. Pria itu mengajak rekan lainnya yang tak dipilih Evelyn, untuk menunggu giliran.


“Setelah dia selesai, nanti langsung cepat-cepat ambil posisi,” perintah Jeremy pada pria yang kini tengah duduk di sisinya.


Evelyn sudah lama tidak dilayani oleh satu orang saja. Biasanya, dia hanya melakukan itu dengan Ivander. Tapi, saat melihat postur tubuh pria itu dalam video yang dikirimkan oleh Jeremy, Evelyn benar-benar ingin dipuaskan oleh pria itu tanpa gangguan dari siapapun.


Evelyn seketika menubruk pria itu lalu menaikinya. Tubuh Evelyn bergetar saat daerah sensitif mereka saling bersentuhan. Mulut Evelyn menganga dengan lebar, saat panggul wanita itu perlahan turun dan menelan sedikit demi sedikit keperkasaan pria itu.


Evelyn terus mengeram saat panggulnya perlahan turun. Ini benar-benar hal yang pertama kali dirasakan oleh Evelyn. Tubuh bawahnya seraya terkoyak karena terlalu penuh di bawah sana.


Evelyn tak dapat untuk tak berteriak saat panggulnya mulai bergerak naik turun. Dan dengan cepat Evelyn mencapai puncaknya karena gerakan wanita itu sangat brutal di bawah sana.


Jeremy dan pria yang sedari tadi sudah menunggu, kini bergantian memasuki tubuh Evelyn. Hampir dua jam Evelyn digilir. Wanita itu sudah terkulai lemas. Entah sudah berapa kali bagian bawah tubuhnya meledak. Kini ketiga pria itu membersihkan tubuh Evelyn dengan air hangat. Evelyn benar-benar bagai ratu. Hanya tinggal menjentikkan jari, ketiga pria itu menuruti inginnya.


Ivander saat Evelyn tengah beristirahat. Ivander paham, wanita itu pasti kelelahan karena melayani tiga orang pria sekaligus.


“Kita tunggu di sini. Saat mereka beraksi, kita bawa aparat desa. Jangan lupa nyalakan sosial media pria yang menjebak Qeiza itu. Kita akan lakukan siaran langsung dengan akun yang sama.”


“Siaran langsung? Live streaming, Mas?!” tanya Anggara tak percaya.


“Iya. Kita lakukan siaran langsung penggerebekan itu. Pastikan kita mendapatkan video mereka lebih dulu sebelum digerebek!”


Anggara mendelik. Pria itu menatap tak percaya pada sosok yang ada di hadapannya itu. Ivander, pria yang dulu sangat mencintai Evelyn, pria yang selalu menuruti keinginan Evelyn, kini menjadi pria yang paling ingin menghancurkan wanita itu. Tak tanggung-tanggung, Ivander seakan ingin wanita itu lenyap dari muka bumi karena perbuatan wanita itu sendiri.

__ADS_1


Ivander terus menatap layar ponselnya. Sudah hampir dua jam berlalu sejak Evelyn menyudahi pergumulan pertamanya dengan ketiga pria itu. Itu artinya, Ivander sudah menanti selama satu jam di sana. Masih belum ada pergerakan di dalam sana.


Sepertinya mereka masih sangat kelelahan, pikir Ivander.


Namun, beberapa saat kemudian Evelyn bergerak, menghampiri pria perkasa yang membuatnya berteriak tadi. Evelyn membuka karet pelindung yang sejak tadi masih lekat di kulit pria itu. Evelyn mengecup lalu melahapnya hingga lambat laun tubuh pria itu bereaksi.


Ivander yang melihat pergerakan itu, mulai melakukan pergerakan dengan perlahan. Bersama sang adik ipar, Ivander melangkah perlahan memasuki rumah itu.


Evelyn sudah menari di atas tubuh pria itu begitu Ivander tiba di sana. Anggara seketika menyalakan ponselnya dan melakukan siaran langsung melalui akun sosial media yang sama, dengan sosial media yang menyebarkan video Qeiza. Anggara pun merekam aksi itu.


Ivander belum memerbolehkan para aparat desa untuk masuk. Bersama dengan pengawalan tim yang dibentuk anak buah Anggara, mereka menunggu pesan yang akan dikirimkan oleh Ivander.


Sementara Ivander dan Anggara berada di balik sebuah pilar, tak jauh dari tempat pergulatan antara Evelyn dan ketiga rekan prianya. Dengan fokus, Anggara merekam adegan demi adegan yang terjadi di hadapannya.


Sementara Ivander menatap datar pada wanita itu. Tak ada amarah yang bersemayam di hatinya kala menyaksikan Evelyn bersama pria lain. Pria itu malah semakin bertambah jijik pada Evelyn.


Bagaimana tidak, kini wanita itu bagai sebuah roti lapis. Di apit oleh dua orang pria, atas dan bawah. Tubuhnya di masuki oleh kedua pria itu. Wanita itu berteriak-teriak seperti orang kesurupan, melampiaskan kenikmatan di seluruh tubuhnya.


Ivander pun memberi isyarat kepada aparat desa untuk segera merapat di tengah permainan panas yang belum usai itu.


Aparat dan perangkat Desa terbelalak menyaksikan adegan di hadapan mereka. Keempat orang itu benar-benar seperti hewan liar.


Teriakan nikmat yang sedari tadi meluncur dari bibir Evelyn seketika terhenti. Tubuh wanita itu menegang. Bukan karena dirinya hampir mencapai puncak kenikmatan. Evelyn tegang karena Ivander menyaksikan dirinya diga*gahi tiga orang pria.


Tubuh wanita itu lemas seketika. Wajahnya pucat pasi. Aliran oksigen dalam darahnya seolah terhenti. Evelyn merasakan tubuhnya dingin, mulai dari ujung kepala hingga kaki.


Tepat saat Anggara menghentikan tayangan siaran langsung itu, Ivander melemparkan beberapa berkas ke hadapan Evelyn.

__ADS_1


“Tanda tangani berkas ini. Aku ingin kita bercerai secepatnya!”


__ADS_2