Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Ternyata


__ADS_3

Qeiza begitu kesal dengan sang suami. Bukannya berduka atas kematian Evelyn, pria itu malah menyalahkan mantan istrinya atas sikap Qeiza.


Menurut Ivander, yang menjadi penyebab Qeiza terus menerus menyalahkan dirinya sendiri adalah karena niat sang istri untuk menolong Evelyn. Andai saja mereka tak bertemu Evelyn saat itu, andai saja Evelyn tak meminta bantuan kepada Qeiza, tentu istrinya itu tidak akan merasa bersalah atas tragedi pembunuhan yang menimpa Evelyn.


“Mas hanya tidak mau kamu terus menerus menyalahkan diri sendiri. Ingat Qei, ada Qia dan Sean yang membutuhkan perhatian kamu. Dengan kamu frustasi seperti ini, bisa berdampak buruk pada kedua anak kita, terlebih pada Sean. Dia masih menyusui. Dia masih sangat membutuhkan kewarasan kamu!” tegas Ivander.


Qeiza hanya bisa tertunduk mendengar penjelasan sang suami. Qeiza tau, apa yang diucapkan oleh sang suami adalah hal yang benar. Tapi, wanita itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya pada Evelyn. Teror perasaan bersalah itu terus muncul dan mengganggu psikologis Qeiza.


“Mas sudah meminta Angga agar mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk melakukan investigasi kasus pembunuhan wanita itu. Pembunuh itu harus ditangkap karena dialah yang harusnya merasa bersalah karena telah membunuh seseorang. Bukan kamu, Qei. Kamu paham?”


Qeiza menghembuskan napas berat, lalu mengangguk lemah.


***


Tiga hari sudah berlalu sejak tragedi pembunuhan itu terjadi. Jasad Evelyn pun sudah dimakamkan dengan layak. Namun, penyelidikan kasus tersebut masih terus bergulir.


Dari kamera pengawas yang berada persis di depan rumah sakit, terungkap sebuah fakta, bahwa yang menyeret Evelyn ke lorong sempit itu adalah orang yang sama dengan yang mengantarkan Evelyn ke rumah sakit.


“Itu artinya Ev mengenal orang itu. Dari video jelas sekali terlihat kalau dia berulangkali menghampiri Evelyn yang sedang mengemis,” ujar Ivander.


“Benar Mas. Jelas mereka saling kenal Mas. Orang itu yang mengantarkan Ev ke rumah sakit. Bahkan dia yang mengantri untuk mengambil obat-obatan buat wanita itu. Dan ada satu hal yang harus Mas Ivan dan Qei dengar.”


Ivander dan Qeiza pun menatap Anggara. Menunggu pria itu mengungkapkan fakta lain dari kasus terbunuhnya Evelyn.


“Menurut perawat di sana, yang mengambil obat-obatan Evelyn adalah suaminya.”

__ADS_1


Ivander, Qeiza dan seluruh anggota keluarga Bratajaya yang ikut menyimak, terperangah mendengar ucapan Anggara. Mereka benar-benar tak menyangka jika Evelyn menikah lagi setelah divonis mengidap HIV AIDS.


“Dan, yang lebih mengejutkan lagi, suaminya itu, pria yang membunuh Evelyn itu, tidak tahu sama sekali mengenai penyakit yang diidap oleh Evelyn. Kalian bisa lihat di video yang diambil dari kamera CCTV rumah sakit,” ujar Anggara sembari menayangkan video rekaman CCTV rumah sakit.


Di dalam video itu, terlihat Danu yang tiba-tiba terperosok di lantai. Anggara dan tim penyelidiknya menduga itu adalah saat-saat di mana pria yang mengaku sebagai suami Evelyn itu, mengetahui fakta tentang penyakit yang diidap oleh istrinya.


“Setelah dari bagian farmasi untuk mengambil obat, pria itu terburu-buru dan langsung menghampiri Ev, menyeretnya ke sebuah gang sempit. Di gang itulah mayat Ev ditemukan. Pria itu membunuhnya di sana.”


“Dasar wanita ja'lang. Sudah sekarat pun masih sempat-sempatnya menikah. Bahkan merahasiakan penyakitnya itu dengan suaminya! Jelas saja suaminya shock dan marah! Mana ada pria yang mau menikahi seorang wanita yang mengidap HIV AIDS!” umpat Ivona.


“Tapi tidak harus dengan membunuhnya juga kan? Lagian, bisa saja kan pria itu hanya mengaku-ngaku. Waktu itu, Mba Ev tidak bercerita kalau dia sudah menikah lagi. Dia hanya meminta ku untuk menolong dirinya sendiri. Jika Mba Ev sudah menikah, dia juga pasti meminta ku untuk menolong dirinya dan suaminya,” bela Qeiza. Ivona menggelengkan kepala mendengar pembelaan Qeiza akan Evelyn.


“Qei ... Wanita itu mana pernah peduli dengan orang lain. Yang ada di pikirannya hanya menyelamatkan dirinya sendiri. Mas Ivan yang sudah menikahinya selama bertahun-tahun saja tidak pernah dia pikirkan. Apalagi pria yang baru beberapa hari dia nikahi,” balas Ivona. Qeiza terdiam mendengar ucapan Ivona. Karena apa yang barusan diucapkan oleh Ivona memang tak bisa dibantah.


“Pria itu suaminya atau bukan, bagiku itu sama sekali tidak penting,” ujar Ivander.


Qeiza menganggukkan kepalanya. Dia berjanji pada sang suami untuk tak lagi menyalahkan dirinya sendiri atas tragedi pembunuhan mantan kakak madunya itu.


“Tapi ... Seandainya aku langsung membawa Mba Ev saat itu juga. Pasti Mba Ev tidak akan dibunuh seperti itu,” lirih Qeiza.


“Dan sekarang kamu menyalahkan aku?!” tanya Ivander. Qeiza gegas menggelengkan kepalanya.


“Bukan seperti itu, Mas.”


Ivander menghela napas kasar. Sedangkan Qeiza langsung meminta maaf kepada sang suami.

__ADS_1


“Kasus ini sudah dilimpahkan ke pihak kepolisian. Kalian juga tidak perlu bertengkar karena kasus wanita itu. Dia sudah tiada. Berhenti menyalahkan diri. Berhenti berbicara soalnya seandainya. Apa yang terjadi dengan wanita itu, itu sudah menjadi suratan takdirnya. Kalian paham?”


Qeiza dan Ivander menganggukkan kepala mendengar nasihat Andreas.


“Ternyata ini alasan mengapa nyawaku masih belum dicabut. Kalian masih perlu banyak belajar. Papi masih perlu mengawasi kalian semua. Kalian ini sudah pada tua. Kenapa masih merepotkan Papi?” ujar Andreas.


Ivona yang berada persis di samping Andreas, langsung memeluk pria lanjut usia itu.


“Anak Papi yang naif itu, mendapatkan istri yang lebih naif lagi. Papi yang kuat ya. Mempunyai anak seperti mereka memang berat,” ejek Ivona. Qeiza menundukkan kepalanya. Sementara Ivander melirik tajam pada adik kandungnya itu. Ivona berusaha menahan tawa saat melihat tatapan Ivander.


“Wanita itu sudah tiada. Jadi, Papi mohon pada kalian untuk tidak lagi membahas perihal dia. Jangan lagi memikirkan dia, Qei. Walaupun nantinya pembunuh Ev sudah tertangkap, Papi mohon agar anggota keluarga kita tidak ada yang ikut terlibat. Bahkan, jangan pernah mencari tau tentang kelanjutan kasus itu. Karena kasus pembunuhan itu tidak ada hubungannya dengan keluarga kita. Kalian mengerti kan?”


“Kalau Ivon sih sama sekali tidak peduli dengan kasus ini,” ucap Ivona.


Semua mata kini menatap Qeiza. Mereka tau, jika Qeiza Hikaru adalah seorang wanita yang teramat naif. Wanita itu pasti sangat ingin tau tentang perkembangan kasus pembunuhan Evelyn.


“Kamu paham, Qei?” tanya Andreas. Dengan ragu Qeiza menatap sang mertua.


“Qei hanya ingin memastikan, jika pembunuhnya tertangkap dan mendapatkan hukuman setimpal, Pi,” lirihnya.


Andreas menghela napas berat. Bukan hanya Andreas, Ivander pun ikut menghela napas berat mendengar pernyataan dari sang istri. Sementara Ivona dan Anggara yang sudah mengira akan hal itu, hanya tersenyum geli menatap Qeiza. Wanita itu benar-benar naif.


“Saat pembunuhnya ditangkap, anak buah Anggara akan mengabarkannya pada kita. Saat dakwaan keluar, dia juga akan mengabarkannya. Jadi, kamu tidak perlu pusing mencari tau sendiri. Kamu hanya perlu menunggu dengan santai,” ucap Andreas. Qeiza kembali mengangguk lemah.


“Sekarang kamu sudah paham kan?” tanya Andreas.

__ADS_1


Qeiza menjawabnya dengan menganggukkan kepala.


__ADS_2