Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Titik balik Evelyn


__ADS_3

Digilir terus menerus oleh empat orang pria selama hampir empat jam, tentu saja membuat Evelyn lemas. Seluruh tubuhnya benar-benar remuk. Namun, tentu saja Evelyn merasa sangat puas. Ini pengalaman pertama baginya. Tak pernah dia merasakan nikmatnya bercinta selama empat jam. Evelyn membuat rekor baru, malam itu. Keempat pria yang menaikinya itu benar-benar brutal. Mereka bahkan tak segan untuk bertindak kasar, hingga membuat Evelyn bertambah antusias. Evelyn bahkan sama sekali tak teringat akan keberadaan Alex.


Walau merasa teramat lelah, tapi Evelyn ingin kembali mengulang adegan-adegan selama empat jam itu. Wanita itu berencana untuk mengistirahatkan tubuh lebih dulu, dan akan mengulang kembali pertempuran selama empat jam itu.


Evelyn masih terkapar di lantai yang beralaskan karpet tebal berwarna jingga. Begitupun dengan keempat pria yang melayaninya.


Pria yang bernama Jaka, menghampiri Evelyn sembari membawa segelas air putih. Pria itu duduk persis di samping Evelyn, lalu membantu wanita itu untuk duduk.


“Minum dulu biar cepat mengumpulkan tenaga. Sepertinya Mba sudah terlalu lelah,” bisik Jaka, yang kini sudah memosisikan dirinya di belakang Evelyn, dan menjadi sandaran wanita itu.


“Ya ... Tenagaku harus cepat pulih. Aku ingin bermain lagi dengan pria-pria bule itu,” lirih Evelyn. Segelas penuh air putih, diteguk Evelyn dalam sekejap. Sepertinya wanita itu benar-benar ingin tubuh lelahnya segera pulih.


“Tapi, satu ronde lagi masih sanggup kan?” bisik Jaka.


Jaka yang sedari hanya menonton pergumulan Evelyn dengan empat orang pria. Pria itu memang menunggu waktu yang tepat untuk bisa ikut menikmati tubuh Evelyn. Teriakan-teriakan Evelyn sedari tadi terus membangkitkan hasratnya. Sebenarnya Jaka ingin bergabung bersama keempat pria itu dan memasuki tubuh Evelyn yang liar itu. Namun, kehadiran sang kekasih di antara mereka, membuat Jaka hanya bisa melampiaskan hasratnya pada sang kekasih.


Kini, kekasihnya itu tengah terlelap. Bagi Jaka, ini adalah saat yang tepat untuk turut mencicipi Evelyn. Setelah Evelyn menghabiskan segelas air yang bercampur dengan obat tidur, Jaka memulai aksinya.


Dua dada Evelyn yang masih terlihat kencang walau hampir berusia 40 tahun, benar-benar membuat Jaka gemas. Pria itu meraup dan memijatnya. Sementara Evelyn hanya terkulai pasrah dengan punggung yang masih bersandar di dada Jaka.


Evelyn kembali merintih saat Jaka mulai memelintir dengan kencang kedua puncak dadanya.


Jaka tak mau kalau kekasihnya tiba-tiba terbangun dan menyaksikan dirinya bergumul dengan wanita lain. Dengan gegas Jaka merebahkan Evelyn, menghimpit wanita itu, lalu memasuki tubuhnya begitu saja.


Jaka tidak peduli apakah Evelyn sudah siap untuk dimasuki atau belum.


Yang jelas, pria itu ingin melampiaskan hasrat yang dia tahan sedari tadi, secepatnya. Sebelum sang kekasih menagkap basah dirinya tengah bergumul dengan Evelyn.


Jaka bergerak brutal di bawah sana sembari menyantap kedua benda sintal Evelyn dengan sangat rakus. Dengan cepat Jaka menyelesaikan permainannya, lalu menyemburkan laharnya tepat di wajah Evelyn yang hampir tertidur.


Evelyn pun tertidur pulas setelah itu. Tubuh yang sangat kelelahan, serta obat tidur yang tanpa sengaja diminum oleh Evelyn, membuat wanita itu tertidur selama dua puluh empat jam. Dan, saat Evelyn baru saja terbangun setelah tertidur selama dua puluh empat jam, Jaka kembali memberikan segelas air pada wanita itu.


Evelyn memijat pelipisnya. Wanita itu merasa kepalanya sangat pusing. Sementara Jaka memaksanya untuk meminum segelas air. Walau sempat menolak, Evelyn yang masih merasa lemas, menghabiskan minuman itu.


“Ke mana yang lain? Alex? Pria-pria bule itu dan dua wanita itu?” tanya Evelyn setelah menghabiskan segelas air putih.

__ADS_1


“Katanya, mereka berjalan-jalan ke pantai. Kamu mau pergi ke sana juga?” tanya Jaka.


Evelyn menganggukkan kepalanya. Wanita itu tidak tau jika saat ini masih tengah malam. Yang dia tau, dirinya sangat lapar.


“Tapi, aku ingin makan lebih dulu. Aku lapar. Apa ada makanan?”


Jaka beranjak menuju dapur, lalu kembali dengan memberikan semangkuk bubur instan pada Evelyn.


“Hanya ada ini. Makanlah biar kau bertenaga. Setelah ini kau pasti akan sangat kelelahan,” ujar Jaka.


Dengan rakus Evelyn memakannya. Evelyn sendiri tidak tau mengapa dia merasa begitu lapar. Wanita itu bahkan meminta Jaka membuatkannya bubur satu porsi lagi. Dengan sigap Jaka melaksanakannya.


Sehabis makan, Evelyn membersihkan tubuhnya. Tubuh yang penat membuat wanita itu memutuskan untuk berendam air hangat, setelah membersihkan tubuhnya. Namun, beberapa saat kemudian, Evelyn merasakan badannya menjadi sangat panas.


Evelyn beranjak dari bathtub tempatnya berendam. Menyambar handuk lalu menggunakan, Evelyn menghampiri Jaka.


“Apa yang kau masukkan dalam makanan dan minumanku?!” pekik Evelyn.


“Kenapa begitu marah? Kau ingin bantuanku,” jawab Jaka.


Gegas Evelyn mencari ponselnya. Lalu, menghubungi Alex. Dia tak mau melampiaskan hasratnya yang semakin lama semakin terbakar itu kepada Jaka. Jika bukan dengan pria-pria bule yang bergumul dengan kemarin, Alex lah yang harus memuaskannya.


Namun, berapa kalipun Evelyn menghubungi Alex, pria itu tak menjawab panggilan teleponnya. Tubuhnya yang semakin membara, membuat Evelyn mulai meraba pangkal pahanya.


Jaka yang menyaksikan hal itu, gegas menghampiri Evelyn yang masih berusaha menghubungi Alex sembari meraba bagian sensitifnya.


Jaka menangkap tangan Evelyn di bawah sana. Evelyn menatap pria itu dengan penuh amarah.


“Alex sedang bersenang-senang, jadi dia tak akan mungkin kembali. Biar aku saja yang membantumu,” bisik Jaka.


Jaka menghempaskan Evelyn ke sebuah sofa, membuka kaki wanita itu, lalu menenggelamkan wajah pada pangkal paha Evelyn.


Evelyn seketika mengeram saat lidah Jaka membelai bagian paling sensitif miliknya. Evelyn seketika mencengkram erat rambut Jaka, agar mulut pria itu terus memuaskan dirinya di bawah sana. Jaka tentu saja melahapnya dengan rakus. Kedua jemari pria itu bahkan sudah menyusup ke dalam tubuh Evelyn, dan menari-nari di dalam sana. Tak butuh waktu lama hingga tubuh Evelyn menegang.


Namun, entah berapa banyak takaran obat yang dicampurkan oleh Jaka ke dalam minuman wanita itu. Yang jelas, Evelyn masih merasa belum puas walau sudah mencapai puncaknya. Wanita itu langsung menaiki Jaka yang ternyata sudah menantinya.

__ADS_1


Kembali wanita itu mendesis saat bagian tubuh Jaka berada di dalam tubuhnya. Evelyn bergerak liar. Dan hari itu, Evelyn dan Jaka melakukannya berkali-kali sampai wanita itu merasa sangat puas.


“Ternyata kamu cukup hebat juga.”


Jaka hanya tertawa menanggapi celotehan Evelyn. Pria itu hanya punya kesempatan beberapa jam lagi untuk bergumul dengan Evelyn. Karena masa penyewaan resort ini akan berakhir sebentar lagi.


“Kenapa kemarin cepat sekali selesai?” tanya Evelyn.


“Dasar jal*ng! Kamu pikir aku lemah, hingga tadi kamu menolakku?!”


Kali ini Evelyn yang tertawa menanggapi umpatan yang dilontarkan Jaka.


“Aku memang harus menyelesaikan itu dengan cepat karena kekasihku ada di sana. Aku takut dia terbangun dari tidurnya dan menyaksikan aku sedang bergumul dengan wanita lain,” jawab Jaka. Kembali Evelyn tertawa mendengar penjelasan Jaka.


“Yasudah, kalau gitu aku mau bersiap. Antar aku menemui Alex dan pria bule itu. Sebelum kembali ke Jakarta, aku ingin bermain dengan mereka.”


“Kamu pikir ini pukul berapa? Ini masih pukul empat dini hari!” pekik Jaka.


“Tidak mungkin! Bukannya semalam kita berpesta dan aku tertidur hingga siang hari?’


“Kamu tertidur selama 24 jam. Dan itu sebabnya saat kamu bangun tidak ada seorang pun di sini. Alex yang memintaku untuk menjagamu hingga nanti pagi.”


“Tidak mungkin!” gerutu Evelyn. Wanita itu berlari dan membuka pintu. Benar saja, langit sangat gelap saat ini, dan angin malam menusuk kulitnya. Evelyn kembali menutup pintu itu lalu kembali menghampiri Jaka.


“Bagaimana? Gelap kan di luar sana?”


Evelyn tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Jaka.


“Ayo ikuti aku ke kamar. Akan aku puaskan kamu sampai pagi!”


Daripada hanya berdiam diri, lebih baik mengisi waktu dengan bermain bersama Jaka. Begitulah pikir Evelyn.


Erangan demi erangan saling sahut menyahut antara Evelyn dan Jaka. Mereka benar-benar saling memuaskan hingga fajar menyingsing. Dan saat itulah Evelyn tau, jika Alex sudah meninggalkan dirinya bersama seluruh tabungan miliknya.


“Aleeex!!”

__ADS_1


__ADS_2