
Sudah tiga hari berlalu sejak Ivander Bratajaya melamar Qeiza Hikaru di ruang kerja pria itu. Pagi ini, hari yang begitu dinanti oleh Ivander akhirnya tiba. Dekorasi sederhana tapi elegan, menghiasi setiap sudut rumah hingga halaman. Warna pastel menjadi pilihan Qeiza untuk dekorasi hari istimewa itu.
Rencananya, tepat pukul 09:00 WIB, Ivander akan mengucapkan janji suci pernikahan. Dan satu jam sebelum jadwal pengucapan janji suci itu, Ivander tiba di kediaman Qeiza.
Sementara Qeiza masih belum keluar dari kamar tidurnya. Wanita itu masih dirias. Ivona berpamitan dengan suaminya, wanita itu ingin mendampingi Qeiza yang tengah dirias.
“Kamu cantik sekali, Qei. Aku yakin, mata Mas Ivan pasti akan melotot saat melihatmu nanti.”
Qeiza tersipu mendengar pujian sahabatnya. Sahabat yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya itu.
“Mba Ivon bisa saja,” ucap calon mempelai wanita.
“Lihat saja nanti, kalau kamu tidak percaya. Kamu yang jarang menggunakan make up tebal, jadi terlihat berbeda sekali menggunakan riasan pengantin seperti ini. Cantik. Mama Qei, cantik kan, Qi?” tanya Ivona pada Qiana yang sedari tadi setia mendampingi proses rias sang ibu.
“Iya ... Mama cantik,” ucap Qiana yang sebentar lagi akan berusia lima tahun. Gadis kecil yang kini duduk di bangku nol kecil taman kanak-kanak itu, begitu senang melihat sang dirias dengan begitu cantik. Terlebih Qeiza memakai gaun yang menjuntai hingga menutupi mata kakinya.
“Mama seperti princess,” ucapnya lagi.
“Mama hari ini memang akan menjadi princess, Qi. Dan papa Ivan yang jadi pangerannya.”
“Papa Ivan?” tanya Qiana. Gadis kecil itu bingung dengan pangeran yang disebutkan oleh Ivona tadi.
“Om Ivan?” tanya Qiana lagi.
Gadis kecil itu memastikan, apakah pangeran yang disebutkan tadi, sama dengan yang ada di pikirannya. Jika sama, lantas mengapa Ivona menyematkan kata 'papa' di depan nama Ivander.
Ivona menyejajarkan diri dengan Qiana. Menggenggam jemari-jemari mungil gadis kecil itu.
“Mulai hari ini, Qia harus memanggil om Ivan dengan sebutan papa Ivan, ya. Karena Om Ivan akan menikahi mama Qei, dan menjadi papanya Qia,” jelas Ivona.
“Om Ivan mau jadi papanya Qia, Tante?!” tanya gadis kecil itu antusias. Ivona pun menganggukkan. “Iya Sayang. Qia mau kan, kalau Om Ivan jadi papanya Qia?” tanya Ivona.
Qiana menganggukkan kepalanya dengan antusias. Gadis kecil itu sudah sangat menyayangi Ivander, tentu saja dia sangat ingin memiliki ayah seperti pria itu.
__ADS_1
“Qia mau, Tante! Qia mau!” jawab gadis kecil itu. Bibir Qeiza dan Ivona melengkung sempurna. Kedua wanita itu sumringah saat melihat Qiana menjawab dengan penuh antusias. Qeiza pun berharap, jika pilihannya menerima pinangan Ivander, benar-benar membuat Qiana bahagia.
“Nanti, kalau bertemu papa Ivan, jangan panggil Om Ivan lagi ya. Qia harus memanggil om Ivan dengan sebutan papa Ivan!” tegas Ivona. Qiana kembali mengangguk antusias.
“Sekarang, papa Ivan ada di mana, Tante?”
“Ada di luar,” jawab Ivona.
“Qia boleh bertemu papa Ivan, Ma? Qia senang karena sekarang punya papa, sama seperti teman-teman Qia yang lain!” Qeiza menjawabnya dengan tersenyum dan mengangguk.
Gadis kecil itu seketika melesat keluar ruangan. Menemui seorang pria yang sebentar lagi resmi menjadi ayahnya. Qiana benar-benar sudah tak sabar memanggil Ivander dengan sebutan 'papa.'
“Qia terlihat senang sekali karena akan memiliki seorang papa,” ucap Ivona, setelah kaki kecil itu meninggalkan mereka.
“Iya Mba,” jawab Qeiza singkat.
“Qei, mulai sekarang, coba biasakan panggil aku tanpa embel-embel 'mba.' Ya, walaupun usiamu lebih muda empat tahun dariku. Tapi kan sebentar lagi, aku akan jadi adik ipar kamu,” ujar Ivona.
“Aku senang karena kamu akan segera menjadi iparku, Qei. Aku tau, Mas Ivan pasti akan sangat bahagia karena memiliki kamu sebagai istrinya,” ucap Ivona. Qeiza membalas senyuman Ivona.
Beberapa menit lagi, pengucapan janji suci pernikahan akan dilaksanakan. Qeiza yang baru selesai dirias, diminta untuk keluar dan mendampingi Ivander.
Namun, beberapa menit sebelum Qeiza keluar dari ruangannya, Qiana lebih dulu muncul dari ruangan itu sembari meneriakkan nama Ivander.
“Papa Ivan!” teriaknya.
Ivander menoleh. Hari pria itu hampir meleleh saat mendengar Qiana memanggilnya dengan sebutan papa.
Ah, ternyata sebahagia ini mendengar seorang gadis kecil memanggilku papa.
Qiana masih berdiri, tepat di depan ruangan tadi. Gadis kecil itu berdiri di sana dengan senyum yang begitu merekah.
Ivander bangkit dari duduknya. Pria itu berlutut dan merentangkan tangannya. “Ayo, peluk papa,” ucap Ivander. Bibir pria itu hampir bergetar mengatakannya. Akhirnya dia menjadi seorang ayah.
__ADS_1
Qiana berlari ke arah Ivander. Gadis kecil itu langsung masuk dalam dekapan ayah barunya. Mereka saling berpelukan erat. Seolah mereka adalah ayah dan anak yang sudah lama terpisah. Padahal baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu. Tapi, hari itu, dengan Qiana memanggil Ivander dengan sebutan 'papa,' dekapan erat mereka seolah menyiratkan jika mereka baru bertemu setelah terpisah bertahun-tahun lamanya.
Qiana yang merindukan sosok ayah, akhirnya menemukan kembali ayahnya. Ivander yang merindukan buah hati, akhirnya memiliki seorang anak.
Ayah dan anak itu masih terus berpelukan erat. Hingga akhirnya Qeiza keluar dari kamarnya.
Dengan didampingi oleh Ivona, Qeiza yang kini melangkah dengan anggun. Langkah Qeiza seketika terhenti saat menyaksikan Ivander dan Qiana saling mendekap erat satu sama lain. Ivander yang baru menyadari kehadiran Qeiza, menengadahkan kepalanya, menatap wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Benar apa yang diucapkan Ivona pada Qeiza tadi. Mata Ivander seketika membulat. Pria itu terperangah melihat penampilan Qeiza. Wanita itu terlihat begitu anggun dengan balutan kebaya berwarna putih.
“Benar kan yang aku bilang. Mas Ivan pasti melotot melihat kamu!” bisik Ivona.
Walau masih mendekap erat Qiana, tapi mata Ivander tak lepas dari Qeiza. Menikmati kecantikan wanitanya.
“Ini calon pengantinnya, mau tatap-tatapan sampai kapan, hah?!” tanya Andreas. Pria lanjut usia itu sebenarnya juga tak sabar melihat Ivander dan Qeiza benar-benar bersatu dalam ikatan pernikahan yang sah.
Ivander pun membawa Qiana dalam gendongannya. Pria itu hendak melangkah menghampiri Qeiza, namun segera dilarang oleh Andreas.
“Kamu duduk saja, cepat. Biar Qeiza berjalan di sini didampingi Ivon!” cebik Andreas.
Dan kini, Ivander dan Qeiza sudah duduk berdampingan. Dengan sekali helaan napas, akhirnya Ivander mengucapkan janji suci pernikahan itu. Hingga kini dirinya sudah sah menjadi suami bagi Qeiza, dan ayah sambung bagi Qiana.
Acara pernikahan itu pun dilanjutkan dengan menjamu para tamu. Tak banyak tamu yang diundang. Hanya beberapa orang kerabat Qeiza dan mantan suami wanita itu, serta para tetangga.
Acara itu berlangsung dengan lancar dan bahagia hingga sore hari.
Sementara itu, di salah satu sudut kota, Evelyn tengah bersiap kembali ke Ibu Kota. Tak langsung menuju rumah, Evelyn memilih untuk menikmati santap makan malam di restoran yang terdapat di sebuah hotel bintang lima.
Wanita itu pun tiba di kediamannya, tepat pukul 21:00 WIB. Setelah merebahkan tubuhnya sejenak, Evelyn pun beranjak untuk berganti pakaian dan membersihkan wajahnya yang penat.
Evelyn kembali merebahkan badannya setelah itu. Wanita itu kemudian merampas ponsel yang tadi diletakkannya di atas meja. Salah satu pesan membuatnya terkejut.
“Dasar brengsek! Pak Tua itu menikahkan Ivan tanpa memberitahu aku!”
__ADS_1