
Tanpa terasa sudah dua Minggu Evelyn menjadi pengemis. Sudah dua Minggu pula dia selalu melayani Danu. Sebelum memulai aktivitas mengemis, Danu selalu memuaskan hasrat dirinya akan Evelyn.
Membenamkan wajahnya pada lekuk kewanitaan Evelyn adalah hal yang paling disukainya. Evelyn yang harum dan berkulit putih membuat fantasi Danu terbayarkan.
Namun, sejak kembali melakukan aktivitas sek'sual, tubuh Evelyn semakin sering merasa nyeri. Terlebih wanita itu sudah hampir satu bulan tak mengonsumsi obat. Uang yang dia kumpulkan selama dua Minggu, dirasanya susah cukup untuk menebus obat di rumah sakit. Evelyn pun meminta izin pada Danu untuk tidak mengemis. Wanita itu bahkan meminta tolong pada Danu untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
“Aku hanya izin satu hari. Ayolah, tanpa obat itu, aku tidak akan sanggup lagi untuk melayanimu,” lirih Evelyn, saat Danu baru saja selesai memakaikan pakaian kumal padanya, sesaat setelah mereka melakukan penyatuan.
“Nanti aku pikirkan,” ucap Danu.
Satu hari Evelyn tak mengemis, itu artinya dia tak bisa makan malam dengan gratis, kehilangan uang setoran, bahkan tidak bisa memasuki tubuh wanita itu.
“Aku bisa mati kalau terus menerus kamu pakai,” lirih Evelyn. Danu masih bungkam. Pria itu tak menanggapi permintaan Evelyn.
Dan saat mereka selesai mengemis. Danu menyetujui permintaan Evelyn, dengan satu syarat.
“Kamu boleh ke rumah sakit, tapi hanya dua jam saja,” ujar Danu.
“Aku harus konsultasi dengan dokter lebih dulu sebelum mengambil obat! Sudah pasti akan menghabiskan waktu seharian!”
Danu menghela napas kasar, “kalau begitu, besok kita mengemis di rumah sakit!”
Evelyn ingin membantah perintah pria itu. Dirinya pasti akan malu sekali jika mengemis di sana. Namun, belum sempat Evelyn memerotes pria itu, Danu langsung mengancamnya.
“Kalau kamu tidak mau mengemis di sana, yasudah, jangan harap kamu boleh ke rumah sakit. Biar kamu mati sekalian!”
Dan, di sinilah Evelyn berada. Sejak pagi Evelyn yang ditemani oleh Danu, sudah berada di rumah sakit dan mendaftar ke dokter spesialis penyakit dalam dengan sub spesialis penyakit tropik-infeksi. Tak semua rumah sakit memiliki dokter dengan spesialisasi penyakit tropik-infeksi. Pasien dokter tersebut pun sangat banyak. Hingga Evelyn harus mendaftar pagi-pagi sekali untuk bisa menemui sang dokter.
“Dokternya baru ada pukul dua siang,” ujar Evelyn.
__ADS_1
“Yasudah, ganti bajumu. Aku sudah mencari tempat yang pas untukmu mengemis,” ucap Danu.
“Aku mengemis sendiri?”
“Ya tentu saja sendiri. Aku mau tidur di sini. Enak, adem,” ucapnya.
Danu membawa Evelyn ke toilet untuk mengganti pakaian wanita itu. Pria itu kemudian memapah Evelyn ke tempatnya mengemis. Evelyn membalut wajahnya dengan syal yang memang sengaja dibawanya. Dia tak mau ada orang yang mengenalinya di sana.
Evelyn terus duduk di sana dengan wajah tertunduk. Saat matahari sudah berada tepat di atas kepalanya, Evelyn yang merasa lapar, membuka bungkus makanan yang sudah disiapkan oleh Mak Yati. Dengan lahap Evelyn menyantap makan siangnya.
Saat wanita itu tengah makan, sebuah mobil sedan berwarna hitam metalik lewat di depannya. Ada sepasang suami istri di dalam mobil itu. Mata wanita itu melebar saat menyaksikan seorang pengemis tengah malam dengan lahap.
“Mba Ev?” lirihnya.
“Kenapa Sayang?” tanya Ivander.
“Pengemis itu Mas. Pengemis itu mirip Mba Evelyn. Apa jangan-jangan itu adalah Mba Ev?”
“Kasihan kan Mas. Walau bagaimanapun Mba Ev itu kan seseorang yang pernah ada di hidup kita, Mas,” ucap Qeiza. Lagi, Ivander menghela napas kasar. Pria itu tau arah pembicaraan sang istri.
“Kalau kamu mau membantu dia, beri saja dia uang beberapa ratus ribu. Jangan pernah membantunya lebih dari itu. Apalagi membawanya kembali dalam kehidupan kita,” tegas Ivander. Qeiza tau, betapa keras kepalanya sang suami. Serta, betapa bencinya Ivander terhadap Evelyn. Qeiza hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nanti saja memberikannya uang. Setelah kamu selesai memasang alat kontrasepsi,” ucap Ivander. Kembali Qeiza hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Dan saat Qeiza tengah berada di ruang tunggu dokter spesialis obgyn, Evelyn kini sudah berada di ruangan dokter spesialis penyakit dalam. Setelah serangkaian pemeriksaan, Evelyn pun diresepkan beberapa obat dan multivitamin untuk mengurangi rasa nyeri di tubuhnya.
Dengan dipapah oleh salah satu perawat, Evelyn pun keluar dari ruang dokter spesialis penyakit dalam.
“Aku harus mengantri untuk mengambil obat,” ucapnya.
__ADS_1
“Biar aku saja yang mengantri. Aku antar kamu ke tempat tadi. Kamu lanjut mengemis. Pendapatan pagi tadi luar biasa. Apa seterusnya kita mengemis di rumah sakit ini ya?” ucap Danu. Evelyn tentu saja tak menggubris ucapan pria itu. Wanita itu kembali mengganti pakaian dengan pakaian kumalnya dan langsung dudu di tempat tadi. Wanita itu lanjut mengemis.
Qeiza yang baru saja memasang alat kontrasepsi, kini melangkah menuju mesin ATM dan menarik sejumlah dana dari mesin itu. Ivander hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sudah dia perkirakan jika Qeiza tidak mungkin hanya memberi Evelyn uang ratusan ribu. Wanita itu pasti akan memberikan uang yang banyak pada mantan istrinya.
“Kamu kok tidak ada kapoknya membantu dia, Qei,” ucap Ivander.
“Mas ... Memangnya tadi Mas tidak lihat keadaan Mba Ev. Dia begitu kurus, begitu lusuh. Apa Mas tidak ada rasa belas kasihan melihatnya?”
Ivander menghela napas panjang. Pria itu tau, apapun yang akan diucapkannya pada sang istri, tak akan mengubah keinginan Qeiza untuk membantu Evelyn. Dipeluknya Qeiza, Ivander pun mengecup lama puncak kepala pria itu. Walaupun merasa kesal akan keinginan Qeiza, tak bisa dia pungkiri, jika dirinya begitu bangga memiliki istri dengan hati yang sangat baik seperti Qeiza.
“Tapi, ingat ya Sayang ... Jangan pernah mengajaknya kembali ke kehidupan kita. Setelah kamu memberinya uang ini, jangan pernah menjanjikan bantuan apapun padanya lagi.”
Qeiza menganggukkan kepalanya. “Iya Mas,” jawabnya.
Ivander dan Qeiza kita sudah berada dalam mobil mereka. Pria itu pun melajukan kendaraannya, menyusui lahan rumah sakit kemudian keluar dari lingkungan rumah sakit. Ivander sengaja berhenti dengan jarak tiga meter dari Evelyn. Ivander tidak mau wanita itu melihatnya.
“Aku memberikan uang ini dulu kepada Mba Evelyn ya, Mas,” ucap Qeiza sebelum wanita itu keluar dari mobil.
Istri sah Ivander Bratajaya itu pun gegas melangkahkan kakinya menuju Evelyn. Evelyn tentu saja tak melihat kehadiran Qeiza karena sedari tadi dirinya terus merunduk karena malu.
Namun, saat Qeiza meletakkan segepok uang di dalam kaleng yang selalu dibawanya untuk mengemis, Evelyn yang terkejut langsung mengangkat wajahnya.
Wanita itu terperangah. Menatap tak percaya akan sosok yang ada di hadapannya. Dari sekian banyak manusia yang berobat ke rumah sakit besar itu, kenapa dirinya harus bertemu dengan Qeiza. Evelyn melihat sekelilingnya, wanita itu mencari keberadaan seorang pria yang dulu selalu mengisi hidupnya.
“Mas Ivan ada di mobil itu, Mba,” ujar Qeiza sembari menunjukkan mobil yang dia naiki bersama sang suami.
Tadinya Evelyn ingin mengamuk pada Qeiza. Ingin menolak uang yang diberikan oleh wanita itu. Tapi, Evelyn sadar, dia sangat membutuhkan uang. Dia juga membutuhkan Qeiza.
Sementara Qeiza, wanita itu berusaha untuk menuruti ingin sang suami. Setelah memberikan Evelyn uang tersebut, dirinya harus segera kembali ke mobil.
__ADS_1
Namun, seruan Evelyn menghentikan langkahnya.
“Bantu aku Qei. Bantu aku.”