Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
akhir kisah Evelyn


__ADS_3

“Mas Ivan ada di mobil itu, Mba,” ujar Qeiza sembari menunjukkan mobil yang dia naiki bersama sang suami.


Tadinya Evelyn ingin mengamuk pada Qeiza. Ingin menolak uang yang diberikan oleh wanita itu. Tapi, Evelyn sadar, dia sangat membutuhkan uang. Dia juga membutuhkan Qeiza.


Sementara Qeiza, wanita itu berusaha untuk menuruti ingin sang suami. Setelah memberikan Evelyn uang tersebut, dirinya harus segera kembali ke mobil.


Namun, seruan Evelyn menghentikan langkahnya.


“Bantu aku Qei. Bantu aku,” lirih Evelyn.


Qeiza tentu saja menghentikan langkahnya.


“Aku tidak punya tempat tinggal yang layak, Qei. Aku tinggal di dekat tempat pembuangan sampah. Aku juga harus mengemis untuk bisa makan dan biaya berobat. Tolong aku, Qei.”


“Pakailah uang itu untuk mencari tempat tinggal yang layak, Mba.”


“Biaya sewa rumah sangat mahal Qei. Uang segini hanya cukup untuk satu bulan. Tidak kah kamu bisa berbaik hati padaku Qei? Aku sudah berbaik hati memberikan Ivander padamu hingga kamu bisa menjadi seorang nyonya kaya raya. Tidakkah kamu mau membalas budi padaku, Qei?” ucap Evelyn. Wanita itu sengaja sedikit memaksa pada Qeiza. Dia yakin, Qeiza akan mau menolongnya.


“Baiklah, Mba. Mba bisa tinggal di rumahku yang dulu. Mba tidak perlu memikirkan biaya sewanya. Rumah itu akan aku berikan untuk Mba. Nanti, akan aku pesankan katering setiap hari. Jadi Mba tidak perlu memikirkan untuk makanan. Rumah sakit juga akan aku bantu,” ucap Qeiza.


Wajah Evelyn mendadak sumringah. Wanita itu akhirnya bernapas lega. Dirinya akan terbebas dari tempat kumuh itu. Lebih dari itu, dirinya akan terbebas dari belenggu Danu.


“Tapi, tidak bisa sekarang, Mba. Mas Ivan pasti akan melarangnya. Besok, tanpa sepengetahuan Mas Ivan, aku akan kembali lagi ke sini. Kita bertemu pada pukul Sepuluh ya, Mba.”


Evelyn menganggukkan kepala. Qeiza pun berpamitan pada mantan kakak madunya itu. Ivander sudah melihat gelagat aneh dari sang istri. Pria itu tau, Evelyn pasti meminta sesuatu kepada istrinya itu. Dan tentu saja Qeiza yang baik hati tak mungkin dapat menolaknya.


“Minta apa dia?”


“Ti-tidak minta apapun Mas,” jawab Qeiza gugup.


“Aku mengenal dia dengan sangat baik, Qei. Dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil keuntungan dari kebaikan seseorang. Dan aku juga sangat mengenal istri ini,” ujar Ivander sembari mencubit gemas hidung sang istri.


“Aku hanya minta, pastikan dia tidak kembali masuk dalam hidup kita. Jika kamu mau menolongnya, tolonglah dengan bantuan pihak ketiga. Aku tidak akan setuju jika kamu langsung yang turun tangan.”

__ADS_1


“Aku hanya ingin menyediakan tempat tinggal untuk Mba Ev. Tidak apa-apa kan, Mas?” tanya Qeiza.


“Yakin, hanya menyediakan tempat tinggal saja?” tanya Ivander. Qeiza kembali gelagapan mendengar pertanyaan sang suami. “Entah kenapa, aku yakin kalau kamu ingin membuat wanita itu berhenti mengemis,” ucapnya lagi.


“Aku kasihan melihat Mba Ev mengemis di jalanan seperti itu Mas. Aku ingin menyediakan tempat tinggal dan makanan untuk Mba Ev. Jadi, dia gak perlu mengemis lagi. Aku juga ingin memberikan jaminan kesehatan untuk Mba Ev. Kasihan Mas, penyakit itu kan tidak bisa disembuhkan.”


“Suruh orang buat melakukannya. Aku tidak ingin kamu yang langsung berinteraksi dengan dia,” tegas Ivander.


Senyum Qeiza mengembang. Dia berterima kasih pada sang suami karena sudah membiarkan dirinya untuk membantu Evelyn. Setidaknya, dengan membantu Evelyn, rasa bersalah yang hinggap di diri Qeiza sedikit berkurang.


Pernah menjadi orang ketiga di pernikahan Evelyn dan Ivander, entah mengapa menumbuhkan rasa bersalah di diri Qeiza. Rasa bersalah itu, bahkan hinggap di hatinya sampai sekarang.


Sementara itu, di apotek rumah sakit, Danu masih mengantri untuk menebus obat-obatan milik Evelyn. Wanita itu harus membayar mahal atas semua apa yang telah dia perbuat untuk wanita itu. Dia rela menunggu lama di rumah sakit. Evelyn harus memuaskannya berkali lipat, malam nanti. Begitulah isi benak Danu. Pria itu sudah berencana akan menyergap Evelyn besok subuh, di kamar kos wanita itu. Danu bahkan sudah mengingat pukul berapa Evelyn mandi, dan dia sudah berencana masuk ke kamar Evelyn saat wanita itu sedang mandi.


Danu tersenyum sendiri. Pria itu membayangkan dirinya akan menyantap Evelyn di bawah lampu kamar yang terang benderang. Pria itu akan lebih jelas menatap kulit bening Evelyn. Bahkan, hanya dengan membayangkan saja sudah membuat pria itu berhasrat. Dirinya sudah tak sabar menunggu esok pagi.


Hampir dua jam Danu menunggu obat-obatan itu. Akhirnya, seorang wanita berpakaian serba putih memanggil nama Evelyn dan menyerahkan sejumlah obat pada Danu.


Penyakit apa yang diidap oleh wanita yang selalu memuaskan hasratnya itu? Kenapa wanita itu harus minum obat sebanyak ini? Bahkan wanita itu mengatakan akan mati jika tidak segera menebus obat-obatan ini.


Rasa penasaran yang bersemayam di pikirannya, membuat Danu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada juru farmasi.


“Kenapa obat-obatan ini banyak sekali ya Sus?” tanya Danu.


“Bapak tidak mendengar penjelasan saya ya? Obat-obatan yang diberikan pada Bu Evelyn hanya satu saja..Selebihnya, ini adalah multivitamin untuk meningkatkan imunitas tubuhnya.”


Danu menyeringai. Tuduhan wanita itu benar adanya. Dia memang tak memerhatikan penjelasan yang diberikan perawat itu.


“Memangnya obat-obatan dan multivitamin ini, untuk penyakit apa ya Sus?”


“Bapak siapanya pasien? Kok tidak tau menahu perihal penyakit pasien?”


“Saya suami barunya Dok. Baru kawin dua Minggu yang lalu,” ujar Danu. Perawat itu terlihat begitu terkejut. Danu pun dapat melihat ekspresi keterkejutan itu.

__ADS_1


“Kenapa ya Sus?”


“Bapak, Bapak benar-benar tidak tau mengenai penyakit yang menjangkiti istri Bapak?”


Danu menggelengkan kepalanya, “makanya saya bertanya pada Suster. Kalau saya sudah tau, saya tak mungkin bertanya.”


“Maaf kalau pertanyaan saya menyinggung. Apa Bapak dan istri aktif dalam berhubungan sek'sual?”


Danu kembali menyeringai. “Setiap pagi kamu melakukannya, Sus,” jawabnya. Perawat bagian farmasi itu terlihat semakin menampakkan keterkejutannya.


“Saran saya, Bapak segera melakukan pengecekan kesehatan lengkap.”


“Pengecekan lengkap? Apa penyakit istri saya itu menular?!”


Danu begitu panik saat mendengar Evelyn mengidap penyakit menular. Penyakit apa itu? Apa penyakit itu yang membuat tubuh bening Evelyn menjadi sangat kurus?


“Istri anda mengidap penyakit HIV AIDS stadium tiga, Pak.”


Danu bagai tersambar petir saat mendengar penyakit yang diidap oleh Evelyn. HIV AIDS stadium tiga. Lutut pria itu lemas hingga dia tak mampu menjaga keseimbangan. Danu kembali teringat akan ucapan Evelyn saat pertama kali dirinya memasuki tubuh wanita itu.


Selamat datang di neraka.


Jadi inilah yang dimaksud Evelyn dengan neraka. Dia sudah memasuki tubuh wanita itu berkali-kali. Besar kemungkinannya kalau dia tertular penyakit yang belum ada obatnya itu.


“Dasar ja'lang! Kau menularkan penyakit berbahaya itu padaku! Kau ingin membunuhku rupanya!”


Sembari mencengkeram obat-obatan yang baru saja diberikan, Danu gegas melangkahkan kakinya. Menghampiri wanita yang telah menjeratnya itu.


Dengan mata menyala, Danu mendekati Evelyn. Pria itu langsung menarik Evelyn ke sebuah lorong kecil yang sepi, tak jauh dari rumah sakit. Danu lantas mencengkeram leher wanita itu dengan erat. Evelyn meronta-ronta. Wanita itu sampai terbatuk-batuk karena tak bisa bernapas. Danu juga menghempaskan kepala Evelyn ke tembok seraya mencekiknya dengan erat.


Dan, petang itu, Evelyn mengembuskan napas terakhirnya di tangan seorang pria yang sudah membuatnya menjadi pengemis.


Sementara Danu, saat melihat Evelyn meregang nyawa, pria itu mengambil semua uang dan ponsel milik Evelyn. Mengambil sepeda motor miliknya, Danu pun gegas meninggalkan rumah sakit. Meninggalkan Evelyn yang sudah terbujur kaku.

__ADS_1


__ADS_2