Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Pilihan Qeiza


__ADS_3

Akhir pekan, biasanya adalah waktu yang dinanti oleh Ivander Bratajaya. Pasalnya, di hari itu, Ivander akan menghabiskan waktu seharian bersama Qeiza dan Qiana.


Namun, akhir pekan ini tak seperti akhir pekan sebelum-sebelumnya. Qeiza membatasi Ivander untuk tak lagi dekat dengan kedua wanita yang dicintainya itu.


Jadilah akhir pekan ini dia mengunjungi kediaman sang adik. Rencananya, Ivander akan meminta bantuan Ivona menghubungi Qeiza, lalu mengajak Qiana bertamasya dan menginap di Villa keluarga mereka yang ada di Lembang. Nanti, di sana, Ivander akan membujuk Qeiza agar tak mengakhiri hubungan mereka.


Namun, rencana Ivander tak berhasil. Qeiza ternyata juga membatasi hubungannya dengan Ivona. Wanita itu mentah-mentah menolak ajakan Ivona. Tampaknya, Qeiza benar-benar tak mau lagi berhubungan dengan segala hal yang berkaitan dengan pribadi Ivander— termasuk keluarga pria itu.


Dan saat Ivander ingin menjemput wanita itu untuk berangkat bekerja bersama di hari Senin, Qeiza mengirimkan pesan permohonan cuti. Wanita itu meminta izin untuk tidak bekerja di hari itu. Ivander memukul setir mobilnya. Padahal dia sudah bersemangat untuk bertemu Qeiza dan Qiana. Tapi pesan yang dikirimkan oleh Qeiza menghalanginya.


Dengan malas, Ivander melajukan kendaraannya menuju kantor. Pria itu berhenti sejenak, saat menatap meja kerja Qeiza. Baru beberapa hari tak bertemu, dirinya sudah sangat merindukan janda itu.


Hari itu, Ivander hanya duduk bermalas-malasan di depan meja kerjanya. Berulangkali pria itu menatap ponsel. Belasan pesan dia kirimkan tapi tak juga mendapat balasan dari wanita itu. Ingin menghubungi Qeiza, tapi tak berani. Akhirnya Ivander hanya berulang kali menatap dan mengotak-atik ponselnya. Berharap ada satu pesannya yang dibalas oleh Qeiza. Tapi hasilnya nihil.


Hingga saat Ivander memutuskan untuk meninggalkan kantor, ponselnya berdering.


Secepat kilat Ivander menyambar ponselnya. Wajahnya sudah sumringah. Namun, senyum itu mendadak sirna, saat menyaksikan nama yang tertera.


My Love.


Pria itu kecewa. Ternyata bukan Qeiza yang menghubunginya.


My Love, adalah sebutan yang disimpan Ivander dalam ponselnya. Dan sepertinya dia harus mengganti nick name itu, karena hampir tak ada lagi cinta yang tersisa di hatinya untuk wanita itu.


Tumben sekali Evelyn menghubungi dirinya lebih dulu. Ivander mengabaikan panggilan telepon itu. Namun, tampaknya Evelyn tak berputus asa. Wanita itu terus menghubungi suaminya itu. Terpaksa Ivander menjawabnya.


“Kamu di mana, Hon?”


“Masih di kantor,” jawab Ivander dengan malas.


“Oke. Kalau begitu tinggu aku. Aku menuju ke sana.”

__ADS_1


“Ada urusan a—”


Belum sempat Ivander bertanya, Evelyn sudah memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Ivander berdecak kesal. Pria itu menghempas tubuhnya di sofa. Terpaksa dia menunggu kehadiran Evelyn di sana.


Dan wanita itu tiba, satu jam setelahnya. Evelyn langsung duduk di pangkuan Ivander dan mengecup singkat bibir pria itu, begitu tiba di sana.


“Qeiza sudah bersedia menjadi maduku. Kamu tinggal melamarnya kembali, Hon,” ucapnya. Ivander terperangah. Pria itu berusaha mencerna apa yang yang diucapkan oleh Evelyn.


Qeiza bersedia menjadi madunya?


Dia hanya tinggal melamar wanita itu?


Apa maksudnya?


“Kamu kok bengong sih?! Kenapa? Hmmm.”


Ivander masih tak menggubris pertanyaan Evelyn.


“Kamu membujuk Qei?” Evelyn menganggukkan kepalanya. “Membujuk Qeiza untuk mau menikah denganku?”


Lagi, Evelyn mengangguk malas.


“Janda itu memang kurang ajar. Dia tau sekali jika kita membutuhkannya. Aku sampai harus berlutut setiap hari dan memohon. Kamu tau, tiga hari aku bolak balik ke gubuk itu. Semuanya hanya demi kamu, Hon,” ucapnya manja.


“Jadi, jadi Qeiza bersedia menjadi istriku?!” pekik Ivander. Evelyn kembali memberi anggukan. Pria itu tak dapat mengungkapkan betapa bahagia dirinya saat itu. Ivander menyugar rambut dengan jemarinya. Pria itu bernapas lega.


Evelyn menegakkan tubuhnya saat mendengarkan helaan napas lega dari bibir sang suami.


“Kamu akhirnya bisa bernapas lega kan? Akhirnya nama kamu tidak jadi dicoret dari daftar penerima warisan papi. Itu semua berkat aku loh!”


Jadi ini yang dilakukan sang ayah. Dia mengancam Evelyn dengan iming-iming warisan?

__ADS_1


“Aku sudah membantu kamu loh, Hon. Kamu harus memberiku hadiah,” rengek Evelyn. Wanita itu bahkan sudah menggoda Ivander dengan mengecup batang leher pria itu. Jemari Evelyn bahkan mulai membelai lembut kejantanan pria itu. Tapi Ivander sama sekali tidak tergoda. Pria itu malahan muak dengan perilaku sang istri.


“Butuh berapa?” tanya Ivander datar.


“Tidak usah banyak-banyak. Cukup tiga puluh juta saja. Soalnya aku akan mengajak teman-temanku berlibur di villa kita yang di Lembang. Aku lelah tiga hari bolak balik membujuk calon istri keduamu yang tak tau diri itu?”


Tanpa banyak basa-basi, Ivander menyambar ponselnya dan mengirimkan sejumlah dana ke rekening Evelyn. Wanita itu gegas memeriksa ponselnya ketika mendengar suara notifikasi. Senyum Evelyn seketika sumringah saat mendapat pemberitahuan bahwa nominal di rekeningnya bertambah tiga puluh juta.


“Kamu mau aku layani di sini, atau kita check in di hotel sekitar sini. Soalnya aku mau langsung berangkat ke villa sepertinya.”


“Tidak perlu Ev. Aku lelah. Aku mau istirahat di rumah saja.”


Evelyn mencebikkan bibirnya. Wanita itu kemudian mengangguk dan berlalu dari hadapan Ivander. Tentu saja Ivander tak memedulikannya. Ivander sibuk mengulang fakta, jika Qeiza bersedia menikah dengannya.


Tadinya Ivander ingin segera meluncur ke kediaman wanita itu. Dirinya sudah begitu rindu pada Qeiza— juga Qiana. Tapi urung dilakukannya. Dia harus menggoda Qeiza habis-habisan, dan itu tak bisa dilakukannya di kediaman janda beranak satu itu. Ivander harus bersabar menunggu esok hari.


Besok, dia akan datang lebih awal dan memersiapkan semuanya. Dirinya harus kembali melamar Qeiza. Cincin yang tempo hari dibelinya masih tersimpan rapi di laci meja kantornya. Senyum Ivander semakin terkembang saat menatap cincin bertahtakan berlian itu.


“Kamu akan segera menjadi milikku, Qeiza Hikaru. Aku tak sabar menantikannya.”


***


Sementara itu, di kediaman Qeiza, wanita itu harus menghadapi sang ibu yang tak setuju dengan pilihannya. Melati terlihat kecewa ketika sang anak bersedia menjadi istri kedua. Bersedia hadir di tengah-tengah pernikahan sepasang manusia yang saling mencintai. Qeiza tak akan mungkin bisa bahagia, pikirnya.


“Qeiza akan bahagia Bu. Selama ini, menjalani hubungan tanpa status dengan Pak Ivan, Qei sudah merasa bahagia. Walau kami hanya bertemu dari pagi hingga petang. Walau setiap malam Pak Ivan akan kembali ke kediaman Bu Evelyn. Qei mencintai Pak Ivan, Bu. Dan istrinya juga meminta Qei untuk menjadi madunya. Seperti yang dikatakan Bu Evelyn, kami semua akan bahagia.”


Melati masih bergeming. Wanita lanjut usia menatap nanar pada sang anak.


“Restu dari Ibu akan membuat Qei tambah bahagia, Bu.”


Dengan berat hati, Melati menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Di dunia ini, pasti tak akan ada ibu yang menginginkan anaknya menjadi yang kedua. Tuduhan pelakor pasti akan tersemat. Tapi, jika kamu merasa bahagia dengan pilihanmu itu. Ibu ikhlas Qei. Ibu hanya bisa mendoakan kebahagiaan kamu dan Qiana."


__ADS_2