
Evelyn memunguti uang yang baru saja dilempar oleh Leonard ke hadapannya. Uang yang dilemparkan itu cukup banyak, setara dengan gajinya selama satu bulan di klub malam.
Setelah menyimpan uang tersebut, dengan tertatih Evelyn bangkit dan menggeret kopernya meninggalkan tempat itu. Tempat yang menjadi saksi bagaimana Evelyn menghabiskan separuh umurnya. Klub malam itulah yang memperkenalkan Evelyn pada pria-pria penari berbadan atletis dan berwajah tampan. Klub malam itulah yang membuat dirinya menjadi seorang maniak se'ks.
Kini, dia tak lagi bisa mendatangi tempat itu. Padahal, beberapa bulan bekerja di sana, sudah cukup mengobati kerinduan wanita itu terhadap sentuhan seorang pria. Walau tak ada lagi pria yang bersedia menggaulinya, setidaknya, di sana Evelyn dapat melihat pertunjukan dari pria-pria tampan nan perkasa itu.
Pantulan cahaya matahari yang begitu menyengat, menyadarkan Evelyn jika ada yang lebih penting dibandingkan sekadar memuaskan hasrat. Tak ada tempat yang ditujunya.
Wanita itu masih berdiam persis di depan pintu yang berada di samping klub. Bukan hanya tidak mempunyai tempat tujuan. Wanita itu bahkan tidak tau harus berbuat apa untuk bertahan hidup. Harus tinggal di mana? Harus bekerja apa untuk menyambung hidup? Padahal tubuhnya sudah begitu ringkih sekarang.
Melihat Evelyn masih berdiri di depan pintu, seorang pria berotot langsung mendorong tubuh lemah wanita itu hingga Evelyn tersungkur bersama koper yang tengah digenggamnya.
“Pergi sana!” teriaknya.
Dengan rahang mengeras, Evelyn pun beranjak dari sana. Menggeret koper dan berjalan tanpa arah dan tujuan. Dirinya berusaha untuk menghubungi Ivander, mengharapkan belas kasih dari pria itu. Tapi, nampaknya, Ivander sudah memblokir nomor ponselnya.
Haruskah dia bersujud dan memohon pada Andreas?
Evelyn menggelengkan kepalanya dengan cepat. Wanita itu segera menepis pikiran itu. Sudah pasti Andreas tidak akan membantunya. Sejak dulu, pria lanjut usia itu Selakau membencinya. Tidak mungkin jika sekarang Andreas akan berbelas kasih untuk membantunya.
Evelyn lalu teringat akan Qeiza. Istri sah Ivander Bratajaya itu kemarin rela membantah sang suami demi membantu pengobatan dirinya. Mungkin kali ini, Qeiza masu untuk membantunya lagi.
“Wanita bodoh itu pasti mau menolongku. Aku hanya perlu untuk berpura-pura sedih dan memelas,” ujar Evelyn. Wanita itu pun gegas menghubungi Qeiza. Evelyn begitu bersemangat. Wanita itu sudah berencana untuk memohon pada Qeiza sembari berpura-pura menangis. Dia akan meminta Qeiza untuk menyiapkan sebuah rumah untuk bisa dia tinggali. Bahkan Evelyn juga berharap agar Qeiza selalu mengirimkan berbagai macam hidangan untuk dia santap setiap hari.
Namun, tampaknya itu hanya menjadi khayalan Evelyn saja. Seluruh keluarga Bratajaya sudah memblokir nomor ponselnya. Evelyn bertambah lemas. Tidak ada lagi yang bisa menolongnya.
Perut yang lapar membuat kepalanya terasa pusing. Wanita itu pun singgah di sebuah warung makan sederhana dan memesan menu yang paling murah di sana untuk mengganjal perutnya. Dia harus berhemat. Uang pemberian Leonard tak boleh dihamburkan.
“Apa aku harus menginap di hotel saja, malam ini? Tapi, hotel terlalu mahal,” gumamnya.
Seorang pelayan di warung sederhana itu rupanya mendengar gumaman wanita itu.
__ADS_1
“Mba sedang mencari tempat menginap ya?”
Evelyn terperanjat. Sebenarnya dia meras jijik berinteraksi dengan pelayan warung yang terlihat lusuh itu. Tapi, dia tak mungkin bersikap arogan saat ini. Mungkin saja pelayan itu mempunyai solusi untuk masalahnya.
“Bukan tempat menginap. Saya sedang mencari tempat tinggal sementara.”
“Di belakang sana ada kos-kosan, Mba. Murah juga kok. Kebetulan ada yang kosong.”
Ucapan wanita itu membawa angin segar bagi Evelyn. Mungkin, dia bisa tinggal di sana. Apalagi biaya sewanya terdengar sangat murah bagi Evelyn.
“Kalau Mba mau, saya bisa antar ke sana.”
Evelyn tentu saja menerima tawaran wanita itu. Wanita yang bernama Indah itu pun mengantar Evelyn setelah dirinya pelanggan di warung makan itu sudah tak begitu ramai. Mereka berjalan tak terlalu jauh. Melewati sebuah perumahan yang cukup bagus. Evelyn berpikir di perumahan itulah rumah kost itu berada.
“Kamu yakin, biaya kos itu cuma dua ratus lima puluh ribu per bulan?” tanya Evelyn. Sejujurnya wanita paruh baya itu tak terlalu yakin dengan apa yang diucapkan oleh Indah. Mereka memasuki perumahan yang bagus. Sedangkan biaya kos itu terlalu murah untuk sebuah rumah kos yang berada di tengah kota dan berada di perumahan bagus seperti yang mereka lewati ini.
“Saya bersama suami juga kos di situ kok, Mba. Memang murah, karena hanya kamar saja. Tidak ada dapur ataupun kamar mandi. Kamar mandinya ada di luar. Nanti Mba lihat saja.”
“Saya ditipu oleh teman saya sampai bangkrut, bahkan diusir dari apartemen saya sendiri. Bahkan, karena sakit-sakitan, saya dipecat dari pekerjaan.”
Begitulah Evelyn memperkenalkan dirinya. Tentu saja wanita itu tidak mungkin untuk mengatakan perihal kondisi dirinya yang sebenarnya. Terlebih soal penyakit yang dijangkitinya. Dia tak mau orang-orang jadi menjauh dan tak mau membantunya.
“Tapi wajah Mba Ev seperti tak asing. Apa Mba artis? atau selebgram ya? Wajahnya familiar!”
Evelyn menggelengkan kepalanya. Dia sadar, video tentang perzinahannya begitu viral. Dulu, banyak orang yang mengenali dirinya. Tapi sekarang orang-orang tak begitu mengenali. Tubuh yang teramat kurus serta kulit dan rambut yang tak terawat lagi, membuat wanita itu tak lagi dikenali. Entah dia harus bersyukur atau tidak atas kondisinya saat ini?
“Saya bukan artis atau selebgram. Saya hanya mantan karyawan biasa,” ucapnya.
Indah mengangguk-anggukkan kepalanya. Wanita muda itu mengamati Evelyn dari ujung rambut hingga kaki.
“Memang tidak mungkin sih, kalau Mba Ev itu artis atau selebgram,” ucapnya sembari tertawa. Sementara Evelyn berusaha menahan amarah. Wanita muda yang berjalan bersisian dengannya ini, benar-benar menganggap remeh dirinya. Seandainya ini terjadi saat dirinya masih menjadi nyonya Bratajaya, wanita muda itu pasti sudah mendapatkan ganjaran atas tatapan meremehkannya itu.
__ADS_1
“Lewat sini, Mba,” ujar Indah. Kini mereka memasuki sebuah gang kecil yang berada di samping tembok perumahan. Menyebrangi sebuah sungai kecil, akhirnya mereka tiba di rumah kos itu.
Lahan yang becek dan dekat dengan pembuangan sampah, membuat aroma di sekitar rumah kos itu berbau menyengat. Evelyn bahkan hampir muntah karenanya.
“Di sini rumah kosnya, Mba. Nah, yang di ujung sana kamar mandinya. Kamar kos di sini ada dua puluh buah, sedangkan kamar mandinya hanya ada tiga. Jadi ya berganti-gantian saja,” ujar Indah.
Melihat ekspresi jijik di wajah Evelyn, Indah pun bertanya. “Kenapa Mba? Mba tidak suka?”
“Di sini sangat bau dan kotor!” ujar Evelyn.
“Ada rumah kontrakan di ujung sana kalau Mba mau lihat. Tapi ya harganya mahal. Selain itu tidak bisa bayar per bulan, harus per tahun,” jelas Indah.
“Berapa setahun?”
“Tujuh Mba,” jawab Indah.
“Tujuh ratus ribu?”
Indah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Evelyn.
“Mba ... Mba ... Pantas saja Mba ditipu sama teman Mba. Rumah kos begini saja satu bulannya dua ratus lima puluh ribu. Mana mungkin rumah kontrakan tujuh ratus ribu setahun!”
“Jadi berapa? Kamu kalau berbicara yang jelas, dong!”
“Setahun tujuh juta, Mba. Itu rumah petakan. Ada tiga petak. Ruang tamu, ruang tidur kemudian di paling belakang ada toilet dan tempat memasak. Mau saya antar ke sana?”
Tujuh juta rupiah, tentu saja Evelyn tidak punya. Mau tak mau dirinya mengambil keputusan untuk menempati kamar kos ini.
“Apa tidak ada rumah kontrakan yang lebih murah dari itu? Atau yang bayarnya per bulan?”
Indah menggelengkan kepalanya. “Ini yang paling murah, Mba. Bahkan untuk di awal harus bayar selama tiga bulan,” jawab Indah.
__ADS_1
Mata Evelyn terbelalak. Tiga bulan? Haruskah dia tinggal di tempat kumuh dan menjijikkan itu selama tiga bulan? Apa dia bisa tahan dengan aroma busuk yang begitu menyengat itu?