
Malam ini, Qeiza memutuskan untuk tidur di kamar Qiana—anaknya. Kamar gadis kecil itu memang tersambung dengan kamarnya dan Ivander. Sehingga Qeiza hanya tinggal membuka pintu penghubung untuk menuju kamar gadis kecil itu. Qeiza memang selalu menemani putri kecilnya itu hingga tertidur, sebelum dirinya kembali ke kamarnya sendiri.
Qeiza sudah siap dengan buku cerita di tangannya. Wanita itu menyampirkan selimut hingga menutupi tubuh sang anak hingga hanya menyisakan kepalanya saja.
“Malam ini, mama tidur dengan Qia, boleh kan?” tanya Qeiza sebelum membacakan buku cerita.
“Qia sudah besar, Ma. Sebentar lagi Qia akan sekolah SD. Qia tidak mau tidur ditemani Mama. Mama tidur dengan Papa Ivan saja!” cebik Qiana.
Sejak tinggal di rumah mewah itu, dan melihat kamar tidurnya di hias dengan sangat indah, Qiana tak mau lagi tidur dengan Qeiza. Gadis kecil itu ingin tidur sendirian di kamarnya yang bertemakan princess.
Dominasi warna pink dan ungu di kamar itu, membuat Qiana merasa nyaman di sana. Bahkan, Qiana tak mengizinkan Qeiza ataupun Melati untuk menemaninya tidur di sana. Terlebih saat Ivander mengatakan akan memberinya seorang adik. Qiana jadi merasa bahwa dirinya harus menjadi sosok pemberani agar bisa melindungi adiknya kelak.
“Papa Ivan malam ini tidak pulang. Mama takut tidur sendiri. Mama boleh ya, tidur di sini,” pinta Qeiza.
Dengan bibirnya yang maju beberapa sentimeter, Qiana mengembuskan napas kasar. Gadis yang sebentar lagi berusia enam tahun itu terpaksa menganggukkan kepalanya.
“Yasudah, tapi malam ini saja, ya.”
Qeiza bersorak riang. Wanita itu bahkan bertepuk tangan hingga membuat Qiana lagi-lagi mendengus kesal.
“Padahal Mama sudah tua, tapi takut tidur sendiri. Kalah sama anaknya!” cebik gadis kecil itu.
Qeiza terkekeh-kekeh mendengar ocehan putri kecilnya.
Setelah membacakan cerita pengantar tidur untuk anaknya, Qeiza pun berbaring di samping tubuh Qiana. Sebenarnya wanita itu ingin mengirimkan ucapan selamat malam pada Ivander, tapi Qeiza mengurungkan niatnya itu. Dia tak mau mengganggu acara temu kangen antara Ivander dan Evelyn. Lebih dari itu, Qeiza tak mau terbayang akan apa yang tengah dilakukan sang suami dengan istri pertama Ivander itu.
__ADS_1
**
Sementara itu, di seberang sana, di salah satu kawasan perumahan mewah di Ibu Kota, Evelyn tengah bersiap menyambut sang suami yang sudah tak disentuhnya berbulan-bulan. Sejak sore tadi, wanita itu sudah melakukan perawatan seluruh tubuh. Mulai dari kepala hingga kaki.
Entah sudah berapa lama Evelyn menghabiskan waktu di ruangan itu. Bahkan Ivander pun malas menungguinya. Sedari sore, pria itu sibuk berkirim pesan dengan Qeiza. Ivander bahkan menemani perjalanan Qeiza pulang ke kediaman mereka, melalui panggilan video.
Beribu kali Ivander mengucapkan kata rindu pada wanita itu. Mang Dirman bahkan tak kuasa menahan senyumnya setiap kali mendengar kata rindu meluncur dari bibir atasannya itu.
Mang Dirman adalah sopir yang sudah bekerja bersama Andreas Bratajaya selama puluhan tahun. Pria lanjut usia itu bahkan kenal betul karakter setiap anggota keluarga Bratajaya. Terlebih Ivander, walau Evelyn sering meninggalkan pria itu, tak pernah sekalipun Ivander melakukan panggilan video dan menyatakan rasa rindunya. Maka dari itu, Mang Dirman tak kuasa menahan rasa menggelitik saat Ivander terus menerus mengucapkan kerinduannya pada Qeiza.
“Mas, kenapa hubungi aku terus. Aku tidak enak dengan Mba Ev. Masa Mas menginap di sana tapi terus komunikasi dengan aku. Harusnya Mas ngobrol dengan Mba Ev,” lirih Qeiza, saat wanita itu baru saja tiba di kamarnya.
“Dia saja dari tadi sibuk sendiri, Qei. Bahkan sudah hampir dua jam belum keluar dari kamar mandi.”
Evelyn memang sudah dua jam di dalam kamar mandi. Mungkin sebentar lagi wanita itu akan keluar dari sana. Apalagi saat ini sudah pukul 18:00 WIB. Mentari bahkan sudah mulai terbenam.
Dengan alasan gerah, Qeiza meminta izin untuk membersihkan tubuhnya dan mengakhiri sesi panggilan video mereka.
“Mas masih rindu, Qei,” rengek Ivander.
“Badanku sudah lengket semua, Mas. Aku mau mandi, sudah hampir malam juga,” jawab Qeiza.
“Yasudah, kamu mandi saja. Aku menonton dari sini.”
Qeiza terperangah. Bisa-bisanya sang suami ingin menonton siaran langsung dirinya selama mandi!
__ADS_1
Sejak menikah, Ivander dan Qeiza memang kerap mandi bersama. Acara mandi bersama itu tak pernah terlewatkan walau Qeiza tengah dalam masa menstruasi. Ivander sangat senang jika tubuhnya dibersihkan dan dibasuh oleh Qeiza. Pria itu juga menyukai momen saat dirinya menelusuri tubuh Qeiza dengan polesan busa sabun.
Ivander mengembuskan napas kasar saat Qeiza menolak apa yang dia utarakan. Dengan berat hati, Ivander memutuskan panggilan video itu.
Malas berlama-lama di dalam kamar, Ivander melangkah menuju dapur. Pria itu meminta asisten rumah tangga untuk menghangatkan masakan buatan Qeiza.
Dengan antusias Ivander menyantapnya. Pria itu bahkan merekam aksinya makan dua porsi tongseng sapi hingga habis tak bersisa. Ivander pun mengirimkan video itu kepada Qeiza. Tak lupa Ivander mengucapkan terima kasih karena Qeiza sudah memasak makanan kesukaannya.
Ivander tak kembali ke kamar walau pria itu sudah selesai menyantap makan malamnya. Sementara itu, Evelyn yang baru saja selesai membersihkan seluruh tubuhnya, meminta asisten rumah tangga untuk mencari Ivander dan meminta pria itu kembali ke kamar.
“Pak, diminta Bu Evelyn ke kamar,” ucap Mbok Djum yang baru saja menerima panggilan telepon dari Evelyn. Ivander hanya menganggukkan kepalanya. Namun, Ivander tetap tak beranjak dari ruang keluarga. Pria itu sibuk dengan ponselnya. Berulangkali Ivander menghubungi Qeiza, namun wanita itu tak menjawab panggilannya. Jangankan menjawab, wanita itu sepertinya lupa untuk mengaktifkan ponselnya kembali.
Mbok Djum kembali meminta Ivander agar menghampiri Evelyn di kamar, sepuluh menit kemudian. “Saya takut dimarahi lagi oleh Bu Evelyn, kalau Bapak tidak kembali ke kamar,” lirih Mbok Djum.
Ivander menghela napas kasar. Pria itu tak mau Mbok Djum menjadi tumpuan kemarahan Evelyn. Terpaksa dia kembali ke kamar.
Dengan malas Ivander mengayun langkah menuju kamar tidur. Pria itu bahkan mengembuskan napas berat sebelum menekan handle pintu.
Sementara itu, Evelyn yang sejak tadi duduk di sofa, seketika beranjak saat mendengar handle pintu kamarnya berbunyi. Evelyn yang sudah siap dengan busana minimnya, gegas mengayun langkah menuju pintu.
Senyum wanita itu begitu sumringah kala melihat Ivander muncul dari balik pintu. Sedikit berlari, Evelyn langsung mengalungkan tangannya pada leher pria itu. Dengan tinggi badan yang hampir sama, Evelyn dengan mudah meraih bibir Ivander. Wanita itu menjulurkan lidahnya, seolah menikmati setiap lekuk bibir pria itu. Evelyn sengaja melakukannya. Dia ingin Ivander semakin penasaran dengan aksinya.
Evelyn melahap bibir sang suami dengan rakus.
Sesaat kemudian, Evelyn melucuti celana yang dikenakan oleh Ivander, kemudian berjongkok di hadapan pria itu. Jika biasanya, hanya dengan cumbuan Evelyn kelakian Ivander seketika bangkit, kali ini tidak.
__ADS_1
Evelyn bahkan harus berusaha lebih keras hingga kejantanan pria itu tegak sempurna.
Sepertinya pria manja ini sudah mulai lemah! Lama sekali baru bisa berdiri. Jika bukan karena harta orang tuanya yang melimpah, sudah ku tinggalkan pria lemah ini!