Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Sean Bratajaya


__ADS_3

Saat ini, Ivander tersenyum lembut sembari menatap bayi mungil yang kini ada dalam dekapannya. Bayi kemerahan dengan mata sipit, persis ibunya. Pipinya yang tebal dan bibir kecilnya yang menggemaskan. Bayi yang sudah beberapa jam lalu dilahirkan, tapi belum merasakan dekapan hangat dari kedua orang tuanya.


“Maafkan Papa, Sayang. Maafkan Papa karena tidak langsung menjenguk kamu di sini. Kondisi Mama kamu belum pulih, tadi. Tapi, kamu jangan khawatir. Mama sudah sadarkan diri. Mama juga sudah sehat, bahkan sudah bisa memarahi Papa,” ucap Ivander.


Beberapa perawat yang berada di sana, ikut menyaksikan adegan itu sembari tersenyum. Interaksi Ivander dengan bayinya yang baru berusia beberapa jam itu, benar-benar menarik perhatian para perawat yang kesemuanya adalah kaum hawa. Ivander terlihat begitu memesona bagi para perawat wanita itu. Mereka bahkan tak mau mengalihkan pandangan dari pria itu.


“Mama titip sebuah kecupan untuk kamu.” Ivander lantas mengecup lembut kedua pipi sang anak.


“Nenek juga titip sayang untuk kamu. Nenek belum bisa menjenguk, karena harus memangku Kak Qia yang sedang tidur. Kasihan Kak Qia. Dia lelah karena menunggumu lahir. Nanti, kalau kalian sudah besar, yang akur ya, Nak. Kalian harus saling menyayangi.


Tapi, kamu jangan khawatir, besok, pasti kamu sudah bisa bertemu dengan Nenek dan Kak Qia. Bahkan juga dengan Mama. Kakek juga sebentar lagi akan datang. Dia pasti senang sekali melihat kamu, Sayang.”


Ivander terus berdialog dengan sang buah hati. Pria itu bahkan berulangkali meneteskan air mata karena begitu haru. Dirinya kini sudah menjadi seorang ayah. Ivander merasa dirinya amat beruntung. Sejak memutuskan untuk menikah dengan Evelyn dua belas tahun silam, Ivander sudah berpasrah jika dirinya tak akan memiliki seorang keturunan.


Siapa yang mengira, dua belas tahun kemudian, dia bisa menggendong darah dagingnya sendiri?


Pertemuannya dengan Qeiza, benar-benar sebuah anugerah bagi Ivander Bratajaya. Kini anugerah itu kembali hadir dalam hidupnya. Seorang bayi laki-laki yang lucu dan sehat. Bayi itu diberi nama :


Sean Bratajaya.


Nama itu disematkannya pada sang bayi bukan tanpa alasan. Ivander sendiri yang mencari nama untuk anak kandungnya itu. Sean memiliki arti, hadiah dari Tuhan. Sean Bratajaya, benar-benar hadiah dari Tuhan untuknya, bahkan untuk keluarga Bratajaya. Kehadiran Sean begitu dinantikan sejak lama.


Dan, kini, rasa bahagia dalam dadanya begitu membuncah, saat berhasil mendekap sang darah daging. Bau tubuh bayi menggemaskan itu, kini bagai candu baru bagi Ivander. Sayang, moment membahagiakan ini, baru bisa dia nikmati sendiri. Andai saat ini ada Qeiza di sisinya, wanita itu pasti akan merasakan hal yang sama.


“Kapan anak saya boleh bertemu dengan ibunya, Sus?” tanya Ivander yang masih terus menggendong Sean— anaknya.

__ADS_1


“Kemungkinan besok siang, Pak. Saat dokter sudah menyatakan jika Bu Qeiza sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan,” jawab salah satu perawat yang bertugas di kamar perawatan bayi.


Ivander hanya menganggukkan kepalanya sembari mengucapkan huruf O mendengar jawaban para perawat. Pria itu bahkan tak memandang wajah para perawat yang dia tanyai, karena sedari tadi, pandangannya tak beralih dari bayi kemerahan itu.


Menimang-nimang putra pertamanya itu, membuat hati Ivander terasa hangat. Dirinya bahkan terlupa sesaat akan kemarahan Qeiza padanya.


Sebenarnya pria itu ingin segera membawa Sean ke hadapan Qeiza, agar sang istri tak lagi marah padanya. Agar wanita itu kembali menampakkan senyum manisnya.


Tapi, kondisi Qeiza masih masih membutuhkan pemantauan lebih dari tim kesehatan, membuat wanita itu harus menahan hasratnya lebih lama untuk bertemu Sean Bratajaya. Karena banyak tak diizinkan untuk masuk ke ruang perawatan intensif.


Walau berat, Ivander harus kembali berpisah dengan sang buah hati, setelah mendekap bayi itu selama hampir lima belas menit. Batas waktu dirinya berada di ruang perawatan bayi telah selesai. Mau tak mau, Ivander kembali meletakkan bayi itu ke dalam ranjang mungilnya.


“Nanti, kita bertemu lagi ya, Sayang,” pamit pria itu, sembari mengelus lembut dahi sang buah hati.


Dengan antusias para perawat itu menganggukkan kepalanya sembari menampilkan sebuah senyuman. Senyuman termanis yang bisa mereka berikan pada pria paruh baya yang begitu memesona itu.


Ivander pun melangkahkan kaki dengan gegas. Pria itu akan memenuhi janjinya pada Qeiza. Menemui sang anak, kemudian kembali pada wanita yang dicintainya sepenuh hati.


...****************...


Sementara itu, di salah satu perumahan elite di Ibu Kota, Andreas sibuk memerintahkan asisten pribadinya untuk menyiapkan perlengkapan menginapnya. Pria itu benar-benar menyewa satu lantai rumah sakit, khusus untuk keluarganya. Ratusan juta rupiah dalam satu malam digelontorkan Andreas demi mendapatkan kenyamanan selama menginap di rumah sakit.


Rencananya, Andreas akan menginap di sana selama Qeiza dirawat. Pria lanjut usia itu hanya ingin memastikan jika sang menantu dan cucunya mendapatkan pelayanan yang terbaik.


Andreas tak hanya sekadar memboyong Ivona dan keluarganya kecilnya untuk menginap di sana, pria lanjut usia itu juga membawa beberapa asisten rumah tangga untuk mengurusi segala keperluan keluarganya selama menginap di rumah sakit. Para asisten rumah tangga itu bahkan menempati satu kamar VVIP selama mereka menginap.

__ADS_1


Malam itu juga, Andreas berangkat menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Andreas mendapat kabar jika masalah penyewaan satu lantai rumah sakit telah selesai dikerjakan. Andreas semakin sumringah mendengarnya.


Namun, senyum Andreas mendadak sirna saat mengetahui jika Qeiza mendadak melakukan persalinan karena terjadi pendarahan. Dan yang menjadi penyebab itu semua adalah anak kandungnya sendiri. Ivander Bratajaya.


“Bisa-bisanya Ivan lebih memilih menyelamatkan wanita jal*ng itu ketimbang Qeiza?! Apa yang ada di pikiran anak itu! Sudah tau istrinya sedang hamil besar malah ditinggalkan begitu saja!” pekik Andreas. Pria lanjut usia itu benar-benar kecewa dengan tingkah sang anak.


“Wanita itu mengidap penyakit HIV AIDS, Pak. Bahkan beberapa penyakit lain juga menyertai.”


“Itu karma buat wanita jal*ng seperti dia!” ucap Andreas kesal. Pria lanjut usia itu juga mendapatkan kabar jika Ivander kembali melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap atas permintaan pihak rumah sakit.


“Pak Ivan juga membayar seluruh tagihan atas nama wanita itu, Pak,” ucap sang ajudan sebelum mengakhiri panggilan telepon itu. Andreas bertambah berang.


Bagaimana mungkin Ivander berbuat bak pahlawan kesiangan seperti itu?!


Wanita itu sudah mendapatkan banyak sekali pembagian harta gono-gini. Bahkan Evelyn mendapatkan tujuh puluh persen dari harta kekayaan Ivander, saat itu. Rumah mewah, mobil mewah, beserta tabungan milyaran rupiah.


Sudah diberikan harta yang begitu banyak, kenapa Ivander harus membantu biaya pengobatan wanita itu?


Apa anaknya itu merasa kasihan pada wanita itu?


Atau ... memang masih ada perasaan yang tertinggal di hari Ivander untuk wanita yang telah menemaninya selama lebih dari satu dekade itu?


Andreas mengepalkan tangannya. Jika anak anak kandung memang masih memiliki perasaan yang tersisa untuk wanita jala*ng itu, Andreas sendiri yang akan memisahkan Qeiza dan Ivander. Pria lanjut usia itu tak akan membiarkan putranya menyakiti menantu kesayangan itu.


Ivander harus tau, ke mana sang ayah berpihak!

__ADS_1


__ADS_2