
Indah mendapatkan komisi karena dirinya telah membawa seorang penyewa di rumah kos itu. Terlebih Evelyn membayar biaya sewa selama tiga bulan.
“Pintar kamu mencari penyewa. Bayar tiga bulan pula. Biasanya, penyewa di sini disuruh bayar perbulan saja suka telat! Hebat kamu Ndah! Kenal di mana dengan penyewa itu?”
Indah tertawa terbahak-bahak. Wanita itu begitu bahagia bisa membohongi Evelyn. Berkat kepolosan wanita paruh baya itu dirinya bisa mendapatkan upah lima puluh ribu rupiah.
“Kenal di warung makan. Ya sudah Mak. Saya mau melihat Mba itu. Mau saya kasi pinjam tikar. Kasihan kan kalau dia harus tidur di lantai,” ujar indah. Wanita muda itupun menghampiri Evelyn sembari membawakan sebuah tikar. Hal itu dilakukan Indah sebagai ucapan terima kasih karena Evelyn mau menyewa kamar kos itu selama tiga bulan.
“Terima kasih ya Ndah. Nanti saya kembalikan tikarnya kalau saya sudah membeli kasur,” ujar Evelyn.
“Kalau Mba mau, Mba bisa membeli kasur bekas saya. Saya jual murah saja. Cuma seratus ribuan. Sudah agak tipis sih. Namanya juga seratus ribu. Saya rencananya mau membeli kasur baru, besok.”
Terbiasa melihat harga kasur dengan nominal belasan juta rupiah, membuat Evelyn terperangah. Ternyata hanya dengan yang seratus ribu rupiah saja, dia sudah bisa mendapatkan sebuah kasur untuk alas tidur. Evelyn tak mengapa walau kasur itu adalah sebuah kasur bekas. Dirinya tidak akan tinggal lama di tempat kumuh itu. Jika dia mendapatkan sebuah pekerjaan, Evelyn berencana akan mencari tempat tinggal yang layak.
Evelyn mengikuti Indah untuk melihat kasur bekas itu. Kasur busa itu terlihat sangat tipis. Namun, dibandingkan hanya tidur dengan beralaskan tikar ataupun bersusah payah mencari kasur yang baru, akhirnya Evelyn pun menyetujui untuk membeli kasur itu. Evelyn bahkan langsung memberikan bayaran pada Indah saat itu juga.
Wajah Indah begitu sumringah saat Evelyn memberikan satu lembar uang seratus ribu rupiah padanya.
Dan pada sore harinya, Indah ditemani sang suami, membeli sebuah kasur busa yang baru dengan harga seratus lima puluh ribu rupiah.
“Kok dia mau sih membeli kasur busa yang sudah tipis itu. Padahal dia hanya perlu menambah lima puluh ribu untuk mendapat sebuah kasur yang baru,” ujar Tarman— suami Indah.
Indah tentu saja tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Wanita itu merasa hari ini adalah hari keberuntungannya karena bisa bertemu Evelyn.
“Dia itu sangat bodoh, Mas. Dia bercerita kalau dia habis ditipu sama temannya sampai bangkrut! Yasudah, aku coba saja menipu dia. Eh ... dia tertipu juga. Bahkan dia juga percaya kalau menyewa di Kos Mak Yati harus membayar selama tiga bulan diawal. Jadinya aku mendapat lima puluh ribu deh, dari Mak Yati.”
“Jadi, kasur baru kita ini, sebenarnya dia yang belikan dong?!” tanya Tarman. Indah mengangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias. Tarman dan Indah pun tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
***
Kehidupan Evelyn di tempat itu, tentu tak berjalan baik-baik saja. Dekat dengan tempat pembuangan sampah warga sekitar, di tambah toilet yang sangat kotor membuat imunitas tubuh Evelyn menurun. Wanita itu kerap merasa nyeri di tubuhnya. Sepertinya, rencana untuk mencari sebuah pekerjaan harus dikuburnya. Sudah pasti tidak ada orang yang mau mempekerjakan wanita lemah yang sakit-sakitan.
Sejak hari pertama dirinya menjadi warga di rumah kos itu, Evelyn selalu meminta Indah untuk membelikannya makanan dari warung makan tempat Indah bekerja. Tentu saja Indah menaikkan harga makanan itu, agar mendapatkan uang lebih dari Evelyn.
“Hari ini beli lauk apa saja, Mba?” tanya Indah sebelum berangkat ke warung tempatnya bekerja.
“Gorengan saja, Ndah. Nasinya seperti biasa, dua porsi,” ucap Evelyn.
“Sudah tiga hari Mba Ev hanya pakai lauk gorengan. Tidak ingin makanan yang lain?” tanya Indah. Di bulan pertama tinggal di rumah kos itu, Evelyn selalu membeli lauk beragam setiap harinya. Namun, di bulan berikutnya, saat mendapati tabungannya sudah semakin menipis, Evelyn hanya memesan gorengan atau telur untuk makanannya sehari-hari.
“Saya belum dapat pekerjaan, Ndah. Uang saya juga sudah mau habis. Jadi saya harus berhemat,” lirih Evelyn. Hanya makan dua kali sehari ditambah penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya, membuat Evelyn terlihat sangat kurus.
“Bagaimana mau mendapat pekerjaan kalau Mba hanya di rumah saja!”
“Saya tidak kuat berjalan Ndah. Tidak kuat bekerja berat. Siapa yang mau menerima saya. Bahkan untuk berjalan ke rumah sakit saja saya tidak sanggup. Padahal obat-obatan saya sudah habis,” lirih Evelyn.
Pemilik rumah kos yang merasa kasihan dengan Evelyn, beberapa kali terlihat memberikan makanan untuk wanita itu.
“Bekerja ikut adik saya saja, Mba,” ucap Mak Yati saat mengantarkan sepiring pisang goreng kepada Evelyn.
“Saya tidak bisa bekerja berat, Bu. Badan saya itu sakit semua,” lirih Evelyn.
“Cuma duduk saja. Tidak perlu banyak bergerak. Kalau mau, nanti saya bilang ke adik saya. Nanti pulang dan pergi dengan adik saya. Mba cukup bayar iuran perhari saja. Daripada di rumah terus dan tidak ada penghasilan. Dua bulan lagi, Mba harus sudah membayar uang kos loh,” ujar Mak Yati.
Evelyn mengembuskan napas berat. Benar apa yang dikatakan oleh pemilik rumah kos itu. Uang di dompetnya hanya tinggal beberapa lembar lagi. Evelyn memperkirakan jika uang tersebut hanya bisa bertahan untuk satu bulan ke depan.
__ADS_1
“Bagaimana Mba? Cuma duduk-duduk saja kok.”
“Baiklah Bu. Saya mau mencobanya. Uang saya juga sudah menipis. Saya juga perlu untuk menebus obat. Badan saya sudah sakit semua,” lirih wanita itu.
Mak Yati pun memberitahukan hal itu kepada adik lelakinya.
Dan keesokan paginya, Mak Yati memperkenalkan Evelyn kepada Danu— adik iparnya. Pria itu memerhatikan tubuh kurus Evelyn.
“Wah ... Benar Kak. Cocok nih,” ucap Danu. Pagi itu juga, setelah menerima bekal makanan dari Mak Yati, Evelyn berangkat bersama Danu. Pria itu memapah Evelyn hingga ke sepeda motornya. Dengan mendekap Danu, Evelyn pun di bawa ke sebuah pusat grosir modern. Pria itu memapah Evelyn ke tempat tertutup dan sepi.
“Pakaian mu ini terlalu bagus. Ayo ganti!” perintah Danu sembari menyerahkan kantong berisi pakaian lusuh.
“Pakai ini!”
Evelyn lantas menerima pakaian itu. “Di mana ruang gantinya?”
“Ini bukan Mall. Ganti saja di sini!”
Dengan membelakangi Danu, Evelyn membuka seluruh pakaiannya. Mata Danu membeliak saat menatap tubuh Evelyn. Walau wanita itu hanya tinggal tulang berbalut kulit, tapi kulit Evelyn yang seputih salju itu membuat Danu terperangah.
Mulus juga dia.
Danu terus menatap tubuh Evelyn tanpa berkedip. Pria itu sudah merancang berbagai rencana di kepalanya. Selesai Evelyn berganti pakaian, Danu kembali memapah wanita itu dan memberikan alas duduk pada Evelyn.
“Kamu duduk saja di sini sampai sore. Aku yakin akan banyak yang memberikanmu uang. Kalau lapar, makan bekal dari kakakku. Penghasilanmu nanti dipotong lima puluh ribu. Tiga puluh ribu sebagai ganti uang bensinku dan dua puluh ribu untuk makanan yang dibawakan oleh kakakku.”
“Jadi, aku disuruh mengemis?”
__ADS_1
“Kenapa? Kamu tidak mau? Lagian kamu mau bekerja di mana? Tidak akan ada orang yang mau mempekerjakan tengkorak penyakitan seperti kamu. Asal kamu tau, dari mengemis aku sudah punya beberapa rumah kontrakan. Kamu hanya perlu duduk diam dari pagi sampai Maghrib. Kamu juga bisa tiduran di sini. Jadi santai. Tidak terkena matahari juga!”
Terpaksa Evelyn menganggukkan kepalanya. Hari itu, nasib baru Evelyn dimulai.