Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Berpulang


__ADS_3

“Ada apa Mas?” tanya Qeiza.


Ivander masih tetap diam. Kaku dan tak bergerak.


“Mas ada apa?!” teriak Ivona.


“Ga ... Pesan tiket penerbangan sekarang juga. Cari penerbangan paling cepat. Tidak, tidak. Cari penyewaan pesawat yang bisa berangkat sekarang juga menuju Indonesia. Kita pulang sekarang!”


Anggara terdiam beberapa saat setelah mendengar perintah Ivander. Pasti terjadi sesuatu yang mendesak di Indonesia. Jika tidak, tak mungkin Ivander mengajak mereka semua untuk kembali ke Indonesia. Terlebih, rencana liburan mereka masih tersisa beberapa hari lagi.


Tau jika itu adalah hal mendesak, sesaat kemudian, Anggara memutuskan untuk keluar dari restoran dan menghubungi seseorang. Pria itu melaksanakan perintah dari kakak iparnya mencari pesawat sewaan untuk berangkat ke Indonesia secepatnya.


Sementara itu, di dalam restoran, Ivona terus bertanya alasan yang membuat mereka harus segera kembali ke Indonesia.


Ivander masih terus diam dan menatap adik satu-satunya itu dengan sayu.


“Papi kenapa, Mas?”


Ivona terus menanyakan hal itu. Wanita itu seolah tau, jika berita yang diterima oleh Ivander adalah berita buruk. Dan berita buruk itu pasti datang dari ayah mereka.


“Mas, jawab Mas!” bentak Ivona. Seluruh tamu di restoran itu menatap ke arah Ivona yang berteriak. Ivander pun. menghampiri sang adik dan duduk di sisinya. Menggenggam jemari seraya menatap dalam netra kecoklatan sang adik, “Papi sedang kritis, Von,” lirih Ivander. Pria itu bahkan hampir menitikan air mata saat menyampaikan berita itu pada Ivona.


Mulut Ivona menganga. Air mata wanita itu lolos begitu saja. Bagaimana bisa ayah mereka tiba-tiba kritis? Padahal, kemarin mereka baru saja melakukan panggilan video dan sang ayah masih terlihat baik-baik saja. Apa yang terjadi beberapa jam terakhir?


“Papi tergelincir saat hendak mengambil pigura yang tertempel di tembok,” ucap Ivander.


“Pi-pigura?” tanya Ivona dengan suara seraknya.


“Papi ingin mengambil foto yang tertempel di tembok ruang kerjanya. Tidak ada yang tau kapan Papi ke ruang kerja. Dari hasil rekaman CCTV Papi terjatuh pukul empat dini hari. Dan para asisten rumah tangga baru mengetahuinya pada pukul tujuh, saat hendak mencari Papi untuk mengajaknya sarapan.”


Tidak hanya Ivona, Qeiza, Qiana dan Raka pun terkejut mendengar cerita Ivander. Tapi, pria itu tau, Ivona lah yang paling terkejut mendengar cerita itu.


“Papi di temukan bersimbah darah sambil memeluk foto Mami,” lirih Ivander.


Ivona mulai terisak-isak. Ivander pun membawa sang adik dalam dekapannya. Suasana yang beberapa menit lalu begitu ceria dan bahagia, kini mendadak suram dan berduka.

__ADS_1


“Terus, kondisi Papi sekarang bagaimana, Mas?”


“Papi masih dalam keadaan kritis. Kita berdoa saja supaya Papi kuat dan bisa melewati masa kritis.”


Ivona mengangguk dalam pelukan sang kakak lelaki. Dan beberapa saat setelahnya, Anggara datang dan membawa berita pasal pesawat sewaan yang akan mereka tumpangi ke Indonesia.


“Empat jam lagi, pesawat siap mengudara dari Bandara Osaka, Mas. Aku sudah menyelesaikan pembayaran makan malam ini. Lebih baik kita kembali ke hotel dan berkemas,” ucap Anggara.


Ivander menganggukkan kepalanya. Keluarga besar Bratajaya itu pun gegas meninggalkan restoran dan kembali ke hotel. Mereka langsung mempersiapkan seluruh barang yang akan mereka bawa, lalu melakukan proses check out dari hotel dan langsung menuju bandara yang berada di Osaka.


Setelah melakukan pengecekan kelengkapan surat menyurat di Bandara Internasional Kansa, Ivander dan seluruh keluarga besarnya langsung diantar menuju pesawat yang telah disewa oleh Anggara sebelumnya.


Kecepatan angin yang tinggi membuat keberangkatan pesawat itu tertunda hingga dua jam. Sementara Ivander dan Ivona hanya bisa menatap jendela pesawat sembari memanjatkan doa untuk ayah mereka.


Ayah yang sudah mengurus mereka seorang diri sejak ditinggal dua puluh tahun silam. Seorang ayah yang hanya memikirkan kedua anaknya tanpa memedulikan dirinya sendiri. Seorang ayah yang berdiri sendiri mencari nafkah dan mengurusi keperluan kedua anaknya. Ayah yang selalu memikirkan kebahagiaan kedua anaknya.


“Tolong jangan ambil nyawanya ya Tuhan. Aku masih belum mengucapkan terima kasih secara langsung padanya,” bisik Ivander pada kaca jendela pesawat. Pria itu tak dapat menahan rasa nyeri di hatinya. Air mata pun tak bisa lagi dibendungnya. Qeiza yang tengah menyusui Sean, menatap sendu pada sang suami. Wanita itu mengerti apa yang dirasakan oleh sang suami. Andreas begitu banyak berjasa atas hidup suaminya.


Qeiza memberikan Sean pada ibunya dan meminta sang ibu turut membawa Qiana ke kabin lain di pesawat itu.


Qiana masih mengikuti langkah kaki sang nenek. Tapi, kaki mungil gadis kecil itu mendadak berhenti melangkah saat melihat Raka yang duduk menyendiri sembari tertunduk.


“Nek ... Qia boleh menemani Mas Raka?”


Melati pun melihat Raka yang terus menunduk menahan rasa sedih salam dadanya.


“Iya boleh. Kamu temani Raka. Hibur dia,” ucap Melati. Qiana pun melangkah mendekati Raka.


“Mas ...,” panggil Qiana. Raka menoleh. Air mata yang sedari tadi di tahannya, seketika menetes saat menatap Qiana yang kini sudah berada di sisinya.


“Mas boleh peluk Qia?” tanya Raka. Qiana mengangguk dan merentangkan tangannya agar Raka bisa memeluknya. Air mata Raka semakin tumpah dalam pelukan Qiana. Dan gadis kecil itu berusaha menenangkan dengan menepuk-nepuk punggung Raka.


“Mas, ada apa sih? Kenapa semuanya sedih. Mama dan Papa sedih, Tante Ivon dan Om Angga juga sedih. Mas Raka juga menangis. Ada apa Mas?” tanya Qiana setelah tangis Raka mereda.


Raka melepaskan pelukannya pada tubuh mungil Qiana.

__ADS_1


“Kakek, Qi. Kakek jatuh dan sekarang tidak sadarkan diri di rumah sakit,” ujar Raka.


“Maksudnya pingsan?”


Raka menjawab pertanyaan Qiana dengan mengangguk lemah.


“Kalau begitu, kita doakan Kakek dari sini. Kita kan lagi di atas langit. Lebih dekat dengan Tuhan,” ucap Qiana. Raka tersenyum kecil mendengar ucapan Qiana.


“Ayo Mas, kita berdoa.”


Kedua cucu Andreas Bratajaya itu pun melafalkan doa-doa untuk kakek mereka.


“Ini sudah tengah malam. Ayo Qia tidur. Besok pagi kita tiba di Indonesia.”


Raka pun meminta Qiana berpindah duduk di kursi yang ada di sebelah mereka, lalu menyiapkan tempat untuk Qiana tidur. Pria remaja itu merebahkan sandaran kursi serta sandaran kaki, hingga Qiana bisa merebahkan tubuhnya dan tidur dengan nyaman. Pria itu juga menyampirkan selimut kepada adik sepupunya itu.


“Qia tau tidak, sebelum kita berangkat ke Jepang, Kakek berpesan pada Mas agar menjaga Qia,” ucap Raka yang masih duduk di kursi yang sama dengan Qiana.


“Hanya menjaga Qia?”


Raka menganggukkan kepalanya. “Iya, Kakek berpesan agar Mas menjaga Qia. Karena Sean dan Mika kan sudah ada pengasuh yang menjaganya. Jadi, Mas yang harus menjaga Qia,” jelas Raka.


“Qia mau kan, dijaga oleh Mas?”


Qiana yang sudah berbaring itu, kemudian menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Raka adalah kakak lelaki yang sangat dikagumi oleh Qiana. Pria remaja itu selalu bersikap baik dan juga sering mengajarinya banyak hal. Dijaga oleh Raka tentu saja membuat Qiana merasa senang.


“Mas janji akan menjaga Qia dengan baik. Mas akan jaga Qia hingga Qia dewasa.”


Qiana kembali menganggukkan kepalanya sembari tersenyum sumringah.


“Yasudah, ayo tidur,” ucap Raka. Pria remaja itu pun berpindah tempat dan tidur di di kursi yang berada di samping Qiana.


...****************...


Setelah tujuh jam perjalanan, keluarga besar Bratajaya itu, akhirnya tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Saat itu tepat pukul 10:00 WIB. Mereka pun langsung menuju ke rumah sakit tempat Andreas di rawat.

__ADS_1


__ADS_2