Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Karena Evelyn


__ADS_3

Seorang gadis kecil membantunya saat dia terjatuh. Gadis kecil yang sangat pintar, cantik dan ceria. Entah mengapa Evelyn begitu menyukai gadis kecil itu.


“Anak Tante di mana? Kenapa tidak menemani Tante. Aku saja sekarang sedang menemani Mama periksa,” ucap gadis kecil itu.


Pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis kecil itu bahkan membuatnya menyesali kebodohannya yang tak mau memiliki seorang anak.


Ah, andai saja dirinya hidup dengan normal seperti kebanyakan wanita lainnya. Mungkin dia sudah memiliki anak yang beranjak remaja, sekarang. Mungkin dia tak perlu ke rumah sakit seorang diri. Anaknya pasti akan menemani dan merawat dirinya dengan penuh cinta.


Evelyn membelai lembut rambut gadis kecil itu. Gadis kecil itu bercerita mengenai sang ibu yang tengah menanti hari kelahiran. Betapa beruntung sekali wanita itu, pikir Evelyn. Dia akan memiliki anak kedua. Sedangkan dirinya, satu pun tak punya. Jangankan anak. Kini, tak ada satu orang pun di sisinya. Dia sebatang kara.


Walau sambil menahan rasa nyeri di panggulnya, Evelyn ikut tersenyum senang saat menatap gadis kecil itu. Tapi, beberapa saat kemudian, senyum wanita paruh baya itu luntur, saat mendengar suara seorang pria memanggil gadis kecil yang cantik itu. Suara yang sangat dikenalnya. Suara yang begitu dirindukannya.


“Qiana ... Kenapa kamu menghilang?!”


Gadis kecil bernama Qiana itu, berlari menghampiri sang ayah.


“Qia tadi menolong Tante itu, Pa. Kasihan Tantenya sedang sakit. Tadi, Tante itu terjatuh di sana.”


“Anak baik. Tapi, lain kali ajak Papa dan Mama, jangan pergi sendirian, paham?”


Qiana menganggukkan kepalanya. Sementara Evelyn, sembari menahan rasa nyeri luar biasa yang tiba-tiba menyebar di panggulnya, secepat mungkin pergi dari sana. Dia tak mau melihat Ivander. Lebih tepatnya, wanita itu tak mau Ivander melihatnya. Tampilan dirinya sangat lusuh. Wajahnya begitu kusam. Tubuhnya sangat kurus. Dia malu jika bertemu pria itu sekarang.


“Tante ... Tante ... Tante mau ke mana?”


Teriakan Qiana tak mampu membuat Evelyn mengurungkan niatnya untuk meninggalkan rumah sakit itu. Gegas Evelyn beranjak dari sana.


Tapi, rasa nyeri yang semakin menjadi membuat Evelyn kembali terjerembab ke lantai. Evelyn tak mampu lagi menahan rasa sakit yang begitu hebat.


“Papa, ayo tolong Tante itu!” teriak Qiana.


Qiana dan Ivander berlari ke arah wanita itu. Betapa terkejutnya Ivander saat menyaksikan wanita yang kini terkulai lemah sembari menangis menahan sakit yang menderanya.


“Ev,” lirih pria itu.


Ivander tak tau harus berbuat apa. Dirinya sangat membenci wanita yang kini tengah di tatapnya itu. Tapi, melihat Evelyn begitu kesakitan, ada rasa iba di hatinya.

__ADS_1


“Papa, Papa, kenapa diam saja. Ayo tolong Tante itu. Kasihan Tante itu, Pa!” teriakan Qiana menyadarkan Ivander. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Evelyn.


“Ayo Qia ikut Papa. Jangan jauh-jauh dari Papa.”


Qiana mengikuti perintah Ivander. Gadis kecil itu berusaha menyejajarkan langkah dengan Ivander.


“Mas!” pekik Qeiza.


Ivander menghentikan langkahnya. Qeiza pun mendekat lalu menatap wanita yang kini berada dalam pelukan sang suami. Qeiza terperangah. Banyak pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya.


Ivander tengah menggendong mantan istrinya. Wanita yang pernah sangat dicintai pria itu. Terlebih Ivander berlalu begitu saja dan tak menjelaskan apa-apa padanya.


“Qia temani Mama dan tunggu Papa di sini. Papa ke IGD.”


Dengan panik, Ivander mempercepat langkahnya menuju ruang IGD karena Evelyn sudah tak lagi sadar diri.


Sebenarnya dia ingin menjelaskan kepada Qeiza tentang apa yang terjadi hingga Evelyn berada dalam dekapannya, kini. Pria itu tak mau Qeiza salah paham. Terlebih wanita itu tengah hamil besar dan menunggu waktu kelahiran anak mereka. Dia tak mau pikiran Qeiza menjadi terbebani dan berdampak tak baik bagi buah hati mereka.


Tapi, kondisi Evelyn tak memungkinkan bagi dirinya untuk memberikan penjelasan pada Qeiza. Biarlah Qeiza menunggu sebentar. Dia akan menjelaskan sejelas-jelasnya pada wanita itu, saat Evelyn sudah berada di ruang IGD. Ivander berencana akan meninggalkan Evelyn begitu tiba di ruang IGD.


Dan, saat Ivander baru saja selesai mengurusi segala hal yang dibutuhkan untuk perawatan Evelyn, pria itu melihat Qiana berlari mengikuti beberapa petugas rumah sakit yang sedang mendorong ranjang bergerak.


“Qei ...,” lirih Ivander.


Pria itu berlari sekuat tenaga mengejar Qiana dan beberapa perawat itu. Perasaan Ivander mulai tak karuan. Dia merasa Qeiza lah yang tengah berada di ranjang roda itu.


Dan, firasat yang dirasa Ivander benar adanya. Qiana memang berlari mengikuti Qeiza. Qeiza yang kakinya bersimbah darah.


“Sayang ... Sayang ... Kamu kenapa?” teriak Ivander. Qeiza tak menjawab. Wanita itu hanya mengaduh kesakitan.


“Istri saya kenapa Sus? Istri saya kenapa?!” teriak Ivander. Para perawat tak menjawab. Kini Qeiza sudah berada di ruang bersalin.


“Bapak silakan tunggu di luar ya.”


Ivander berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin. Pikiran pria itu berkecamuk. Ada apa dengan istrinya? Bukankah Qeiza tadi sedang baik-baik saja? Kenapa ada banyak darah yang mengalir di kaki istrinya itu? Apa yang terjadi pada Qeiza?

__ADS_1


Banyak pertanyaan yang ada di benak pria itu. Ivander sibuk dengan pikirannya sendiri. Pria itu terlupa jika ada seorang gadis kecil yang merasa sangat shock dengan kejadian itu.


“Adik kenapa?” tanya seorang ibu paruh baya pada Qiana. Dengan suara tersedu-sedu, Qiana menjawabnya. “Mama berdarah, Mama berdarah. Tadi, perut Mama tiba-tiba sakit terus keluar darah.”


Tangisan Qiana membuat Ivander tersadar jika dirinya tak sendiri. Masih ada Qiana di sana. Qiana pasti merasa sedih. Qiana pasti merasa ketakutan saat menyaksikan sang ibu kandung bersimbah darah.


Harusnya dia tak mengabaikan Qeiza dan Qiana hanya demi Evelyn. Harusnya pria itu tak perlu mengantarkan Evelyn ke ruang IGD. Harusnya dia hanya meminta bantuan para perawat di sana untuk membawa Evelyn. Saat ini, yang menjadi tanggung jawabnya adalah Qiana dan Qeiza serta janin yang ada di dalam tubuh wanita itu. Harusnya dia terus mendampingi istri dan anak-anaknya.


Dengan penuh penyesalan, Ivander menghampiri Qiana. Memeluk gadis kecil itu.


“Maafkan Papa, Qi. Maaf karena Papa tadi meninggalkan kalian terlalu lama. Harusnya Papa tidak pergi meninggalkan kalian selama itu,” lirih Ivander.


“Mama kenapa Pa? Adik bayi kenapa? Kenapa Mama berdarah?”


Gadis kecil itu masih terus meraung-raung dalam dekapan Ivander.


“Papa juga tidak tau, Qi. Kita berdoa saja untuk Mama dan adik bayi, ya,” ucap Ivander. Sembari menangis, Qiana menganggukkan kepalanya.


Ivander yang masih memeluk Qiana, kini tengah menatap dokter kandungan tengah berlari. Mungkin dokter itu yang akan membantu persalinan Qeiza. Dan beberapa saat kemudian seorang perawat bersama seorang dokter yang dikenali Ivander sebagai dokter kandungan keluar dari ruang bersalin.


“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?”


“Ibu Qeiza mengalami pendarahan, Pak. Tadi sudah diperiksa. Sepertinya tekanan darah Bu Qeiza mendadak tinggi. Kita harus segera melakukan persalinan saat ini juga, demi keselamatan ibu dan bayinya. Bu Qeiza bahkan sudah hilang kesadaran dan di bawa ke ruangan operasi. Kita akan lakukan operasi caesar. Bapak silakan tanda tangani lembar berkas persetujuan pelaksanaan operasi.”


Dengan gegas Ivander menandatangani berkas persetujuan itu.


“Tolong selamatkan istri saya, Dok.”


“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelematkan keduanya, Pak.”


Setelah dokter dan perawat meninggalkannya, tubuh Ivander mendadak lemas. Pria itu terduduk tepat di depan pintu ruang bersalin. Tentu saja hal itu membuat Qiana bertambah panik.


“Papa kenapa? Papa kenapa?” tanya gadis kecil itu.


Ivander tak menjawabnya. Pria itu hanya membawa Qiana ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Ivander pasti akan menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya.


__ADS_2