Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Yang dinanti


__ADS_3

“Sepertinya, aku hamil, Mas.”


Ivander tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Tangan pria itu sampai gemetar saat menerima sebuah alat tes kehamilan yang baru saja diberikan oleh Qeiza.


“Aku sudah pakai tiga alat tes. Dan semuanya memberikan hasil yang sama. Aku positif hamil.”


Tubuh Ivander bergetar. Air matanya begitu saja lolos. Akhirnya dia berkesempatan memiliki seorang anak dari darahnya sendiri. Rasa bahagia yang ada di hati Ivander begitu membuncah. Pria itu kini menangis tersedu-sedu. Qeiza pun ikut meneteskan air mata saat menyaksikan sang suami yang begitu mengharu biru.


“Kita beritahu Papi. Papi pasti sangat senang.”


Ivander merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. Pria itu hendak menghubungi Andreas. Tapi, Qeiza menahannya.


“Nanti saja, Mas. Kita periksa dulu ke dokter. Setelah itu, baru kita beritahu kepada Papi dan Ivon,” usul Qeiza. Ivander tentu saja menyetujuinya. Pria itu malah langsung mengajak Qeiza ke rumah sakit saat itu juga. Tidak hanya Qeiza, Ivander juga turut mengajak Qiana.


Pria itu berlari sembari berteriak-teriak memanggil sang anak sambung. Qiana sampai merasa heran dengan sikap ayahnya itu.


“Qia, kamu akan segera punya adik!” pekik Ivander. Qiana masih berusaha mencerna perkataan ayah sambungnya itu. Sementara Melati, yang juga ada di sana, hanya menampilkan sebuah senyuman. Wanita lanjut usia itu sudah memperkirakan sebelumnya. Bahkan, Melati lah yang menyuruh Qeiza untuk membeli alat tes kehamilan. Perubahan sikap Qeiza, dan seringnya wanita itu merasa mual di pagi hari, membuat Melati yakin, jika sang anak kandung telah berbadan dua.


“Kamu tidak senang mau punya adik?” tanya Ivander.


“Adik dari mana, Pa?”


Ivander tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan gadis kecil yang sangat disayanginya itu.


“Kok adik kecil dari mana! Ya tentu saja dari perut Mama. Di dalam perut Mama, sekarang, ada adiknya Qia!”


Mata gadis kecil itu membulat sempurna. Beberapa bulan ini, dirinya memang tengah menantikan kehadiran seorang adik dari rahim sang ibunda. Qiana bahkan sudah mulai belajar untuk menjadi anak yang mandiri. Gadis kecil itu bertekad akan menjadi seorang kakak yang baik. Kini, Ivander dan Qiana bahkan melompat bersama sembari berpegang tangan. Melati hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat menyaksikan Ivander melompat-lompat seperti anak kecil. Menantunya itu benar-benar tak terlihat seperti pria paruh baya. Padahal beberapa bulan lagi, Ivander akan menginjak usia 40 tahun.


“Duh ... Rame sekali. Ada apa ini?” tanya Qeiza yang baru saja selesai berganti pakaian.

__ADS_1


Mendengar suara Qeiza, Qiana pun sontak berlari ke arah ibunya itu. “Mama, Mama, di dalam perut Mama sudah ada adik bayinya ya?! Adiknya Qia?! Perempuan atau laki-laki, Ma?! Kapan adik bayinya keluar, Ma?! Qia sudah tidak sabar ingin menggendong adik bayi!”


Qeiza tersenyum sumringah menghadapi segerombolan pertanyaan dari anaknya itu.


“Belum tau, laki-laki atau perempuan. Perut Mama juga masih kecil, nih. Nanti, kalau perut Mama sudah semakin membuncit, baru ketauan, adiknya Qia itu laki-laki atau perempuan.”


“Yasudah, ayo, sekarang kita ke rumah sakit. Qia mau melihat adik bayi kan?”


Dengan antusias Qiana menganggukkan kepalanya.


“Ibu mau ikut juga?” tanya Ivander. Melati menggelengkan kepalanya. “Kalian saja bertiga. Sekalian ajak makan di warung makan Padang yang dekat rumah Qei yang dulu. Istrimu dari kemarin minta diantarkan ke sana. Sepertinya mengidam,” ucap Melati.


“Kamu ngidam, Sayang? Kenapa tidak memberitahu aku? Harusnya, kalau kamu ingin apapun, segera beritahu aku. Walaupun kamu tidak sedang mengidam, aku juga pasti akan segera turuti!”


“Duh ... Ini Papa dan anak sama saja bawelnya!” ucap Qeiza sembari menggandeng kedua orang kesayangannya itu.


“Iya Mas ... Lain kali, kalau aku mau apapun, aku pasti beritahu. Sekarang, kita periksa ke rumah sakit ya. Setelah itu, makan nasi padang di sana,” ucap Qeiza.


“Selamat siang, Bapak, Ibu dan adek cantik,” ucap sang dokter begitu Ivander, Qeiza dan Qiana duduk di hadapannya.


“Ada apa ini, Bu, Pak? Ada yang bisa saya bantu?”


“Istri saya hamil, Dok!” seru Ivander. Pria itu bahkan mengatakannya dengan penuh semangat.


“Oh iya ... Ada buku kehamilannya? Sudah berapa Minggu usianya kandungannya?”


“Belum tau, Dok. Saya baru mengetes pakai alat tes kehamilan. Tiga alat tes menunjukkan kalau saya positif hamil.”


Dokter yang bernama Ibra itu terlihat menganggukkan kepalanya. Pria itu memberikan pertanyaan standar, seperti yang ditanyakannya pada pasien lain. Qeiza pun menjawabnya.

__ADS_1


“Kalau dari jadwal menstruasi, usia janin sekitar sembilan Minggu. Sekarang, kita periksa dulu. Kita USG, ya,” ucap Dokter Ibra.


Dengan bimbingan seorang perawat, Qeiza berjalan menuju ranjang pemeriksaan, diikuti Ivander yang berjalan sembari menggendong Qiana.


“Nah, itu sudah kelihatan janinnya,” ucap dokter Ibra.


Ivander dan Qiana begitu terpana saat menyaksikan sebuah monitor yang menampilkan janin yang dikandung oleh Qeiza.


“Ini adik kamu, ya?” tanya dokter itu pada Qiana. Qiana pun mengangguk dengan antusias.


“Iya Dokter. Itu adiknya Qia. Qia sudah bisa tidur dan mandi sendiri, makanya Tuhan beri Qia adik! Iya kan, Pa?”


“Iya Sayang,” jawab Ivander.


Qeiza tersenyum lega. Sebenarnya, ada sedikit kekhawatiran di hari wanita itu, saat menatap alat tes kehamilan tadi. Qeiza khawatir, jika sikap Ivander akan berubah pada Qiana, setelah pria itu memiliki anak kandungnya sendiri.


Tapi, saat melihat Ivander dan Qiana melompat bersama saat di rumah, dan melihat Ivander masih begitu lembut pada Qiana, ras khawatir Qeiza pun menghilang.


“InI ukuran janin kira-kira sudah sebesar buah anggur, Bu.”


“Masih kecil sekali, Dok,” ucap Ivander.


“Iya, Pak. Janin usia sembilan Minggu, memang baru sebesar itu. Ini panjangnya sekitar 2,54 sentimeter, beratnya sekitar 2,8 gram.”


Ivander benar-benar tak dapat menahan harunya. Saat menyaksikan janin itu, air matanya menetes begitu saja. Qiana bahkan harus berulang kali menghapus air mata sang ayah sambung. Dan itu kemudian menjadi bahan lelucon saat Ivander berkumpul bersama keluarganya seperti saat ini.


“Papa cengeng. Di rumah sakit nangis terus, Kek!” celoteh Qiana. Sontak semua orang yang berkumpul di sana tertawa terbahak-bahak.


Sehari setelah Qeiza melakukan pemeriksaan, Ivander dan Qeiza memberitahukan perihal kehamilan Qeiza itu pada keluarganya. Dan pada akhir pekan, Andreas, Ivona, Anggara dan kedua anak Ivona, berkumpul di kediaman Qeiza.

__ADS_1


Mereka semua menyambut kehamilan Qeiza dengan suka cita. Terlebih Andreas. Pria itu sudah lama sekali mengharapkan seorang cucu dari Andreas. Lebih dari itu, Andreas begitu bahagia saat melihat senyum sumringah terus menghiasi wajah sang anak sulung. Rasanya tak akan ada lagi penyesalan, jika Tuhan mencabut nyawanya sekarang. Kedua anaknya sudah sangat bahagia.


__ADS_2