Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Bertemu Sean


__ADS_3

Malam itu, Ivander menemani Qeiza di ruang perawatan intensif. Pria itu tertidur sembari duduk di samping ranjang sang istri. Qeiza yang merasa kasihan melihat sang suami tidur dengan posisi duduk, membangunkan pria itu.


“Kamu butuh sesuatu, Sayang?” tanya Ivander dengan suaranya yang serak, khas orang baru bangun tidur.


“Bukannya Papi sudah memesan beberapa kamar di lantai atas?” tanya Qeiza. Ivander menjawab pertanyaan itu dengan menganggukkan kepalanya.


“Mas menginap di sana saja. Jangan di sini. Nanti badan Mas sakit kalau tidur sembari duduk seperti itu.”


“Mas tidak akan meninggalkan kamu, Sayang. Biar Mas menemanimu di sini. Paling badan Mas akan sedikit pegal saja besok pagi. Lagian, itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang kamu alami karena telah melahirkan putra kita.”


Qeiza tersenyum lembut mendengar ungkapan sang suami. Dalam hati, wanita itu memanjatkan rasa syukur karena memiliki suami seperti Ivander. Pria itu tidak ada kekurangan sedikit pun. Tampan, kaya dan sangat mencintai dirinya. Walau dirinya sempat marah karena salah paham terhadap pria itu, tapi, beberapa bulan belakangan, Qeiza selalu berpikir mengenai amal perbuatannya. Perbuatan baik apa yang membuatnya bisa mendapatkan suami sesempurna Ivander?


“Kamu terbangun karena butuh sesuatu? Mau ke toilet?”


“Aku pakai kateter, Mas. Jadi air seniku akan mengalir sendiri ke dalam kantong. Belum perlu ke toilet. Aku mimpi Sean sedang menangis, Mas. Aku ingin bertemu anakku,” rengek Qeiza.


Ivander menatap jam tangan bertengger di tangan kirinya. Masih pukul tiga dini hari. Rencananya, dokter akan memeriksa kesehatan Qeiza pada pukul delapan pagi. Itu artinya masih butuh waktu lima jam lagi untuk sang istri diperiksa kemudian dipindahkan ke ruang rawat inap.


“Bayi belum boleh di bawa ke ruangan ini, Qei. Dan kamu juga belum bisa duduk di kursi roda untuk dibawa keluar,” jelas Ivander.


Qeiza mengembuskan napas berat. Entah mengapa dirinya tiba-tiba begitu merindukan bayi yang baru saja dilahirkannya.


“Aku belum memeluknya, Mas. Dia pasti kedinginan saat dilahirkan. Aku belum sempat mendekapnya. Bahkan, melihat wajahnya saja, belum,” lirih Qeiza.


Ivander berusaha untuk menenangkan sang istri. Pria itu sudah memperkirakan sebelumnya. Qeiza pasti sangat ingin bertemu dengan sang buah hati. Andai saja Qeiza tak mengalami pendarahan, tentu sang istri bisa melahirkan dengan persalinan normal, dan malam ini mereka bertiga bisa berkumpul bersama di ruang rawat inap.


Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Qeiza harus melahirkan melalui proses operasi caesar. Dan malam ini, Sean masih belum bisa berkumpul bersama dirinya dan Qeiza.


“Sayang, aku tadi mengambil beberapa potret Sean. Bahkan ada video juga. Kamu mungkin bisa melihat ini untuk mengurangi rasa rindumu,” ucap Ivander seraya menyodorkan ponsel miliknya pada Qeiza. Dengan antusias wanita itu pun menyambar ponsel sang suami.


Mata Qeiza seketika berembun. Wanita itu tak dapat menahan rasa haru karena bisa melihat wajah putra mereka, walau hanya melalui layar ponsel. Itu sudah cukup untuk mengurangi rasa rindunya.


Qeiza terus menatap sang buah hati dari layar ponsel milk sang suami. Melihat matanya yang kecil, bibirnya yang mungil dan kulitnya yang berwarna kemerah-merahan. Dipeluknya ponsel sang suami.

__ADS_1


Malam itu, Qeiza pun tertidur sembari memeluk ponsel milik Ivander.


***


Setelah melalui serangkaian tes dan pemeriksaan, keesokan paginya, Qeiza dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Wanita itu kini tengah duduk di kursi roda yang didorong oleh sang suami. Menyusuri koridor rumah sakit, lalu menuju elevator yang membawa mereka menuju lantai tiga rumah sakit tersebut.


“Di satu lantai ini, tidak ada pasien lain, Qei. Papi sudah memesannya khusus untuk keluarga kita,” jelas Ivander. Qeiza hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita itu tak habis pikir dengan apa yang dilakukan sang mertua.


Menyewa satu lantai rumah sakit? Apa itu tidak terlalu berlebihan?


Itulah yang ada di dalam benak Qeiza. Tapi, wanita itu tentu saja tak bisa menolak keinginan sang mertua. Mungkin Andreas merasa sangat bahagia dengan kehadiran Sean di dalam klan Bratajaya, hingga membuat pria lanjut usia itu bertindak berlebihan.


Pikiran Qeiza kembali melayang saat dirinya melakukan persalinan kelahiran Qiana. Dia bahkan tak pergi ke rumah sakit. Kala itu, saat perutnya terasa begitu mulas, sang suami memanggil seorang bidan, hingga akhirnya Qeiza melahirkan Qiana di kamar tidur mereka.


Berbeda sekali dengan apa yang dialaminya saat ini. Kini, dia tak hanya melahirkan di rumah sakit. Dirinya akan mendapatkan pelayanan di kamar rawat inap VVIP. Bahkan sang mertua menyewa satu lantai rumah sakit untuknya.


Itu artinya mereka bebas melakukan apa saja di sini.


Beberapa asisten rumah tangga yang biasa tinggal di rumah Andreas, menyapa dan memberikan selamat pada Qeiza. Qeiza benar-benar tak merasa seperti berada di rumah sakit karena orang-orang yang melayani dirinya adalah orang-orang yang biasa dia lihat di kediaman mertuanya.


Andreas memang sengaja berdiri di depan pintu bersama Qiana. Pria lanjut usia itu ingin menyambut sang menantu yang telah memberikan dirinya seorang cucu yang sudah lama didambakannya. Cucu dari putra sulungnya.


Qiana berlari kecil menghampiri Qeiza dan memeluk sang ibunda dari sisi sebelah kanan. Sementara Andreas berdiri tepat di hadapan Qeiza sembari menggendong seorang bayi mungil.


“Kamu mau menggendong Sean?” tanya Andreas.


Dengan mata mengembun, Qeiza menganggukkan kepala dengan mantap.


“Nanti saja kamu gendong Sean sepuasnya setelah kamu di atas ranjang,” ucap Ivander.


Pria itu seketika menyelipkan tangannya di antara lipatan kaki Qeiza dan membawa wanita itu dalam dekapannya.


Bak pengantin baru, Qeiza dan Ivander saling tatap sembari tersenyum. Pria itu menggendong Qeiza dan membawanya menuju rajang, lalu merebahkannya.

__ADS_1


Andreas seketika menyerahkan Sean ke pangkuan Qeiza.


“Ah, Sayangnya Mama ... Akhirnya kita bertemu.”


Qeiza yang sudah berlinang air mata, menciumi wajah putra bungsunya dengan gemas.


Sean yang seolah sadar jika dirinya berada di pangkuan sang ibunda, seketika menggeliat ke arah dada wanita itu. Sean berteriak. Bayi kemerahan itu menangis dengan keras.


“Sepertinya dia lapar, Qei. Sejak lahir kan belum disusui,” ucap Ivona.


“Kata perawat yang mengantarkan Sean, tengah malam tadi juga Sean menangis,” lanjut wanita itu.


Qeiza dan Ivander pun teringat akan kejadian malam tadi di ruang rawat intensif. Qeiza bermimpi tentang Sean dan tiba-tiba merasa begitu merindukan sang buah hati yang baru saja dilahirkannya. Ternyata itu adalah kontak batin antara ibu dan anak itu. Saat Sean menangis, Qeiza pun merasakannya.


Ivander menutup tirai, dan menemani sang istri menyusui Sean Bratajaya.


Ivander begitu takjub saat Sean dengan penuh semangat menyusu pada Qeiza. Bayi yang tadi menjerit kini telah tenang di dada sang istri.


“Sean ternyata seperti Papanya,” lirih pria itu. Qeiza melirik sang suami. Jelas-jelas kulit dan mata Sean begitu mirip dengan Qeiza. Bahkan, tadi malam, Ivander sendiri yang mengatakan hal itu padanya. Tapi, kenapa kini pria itu berkata hal yang berbeda? Kenapa sang suami mendadak mengatakan jika putra mereka mirip dengan pria itu?


“Apanya yang mirip dengan Mas?! Jelas-jelas Sean mirip denganku. Bahkan lebih mirip dengan Qia!” sungut Qeiza tak terima.


“Bukan wajahnya. Tapi, kelakuannya.”


“Kelakuannya?” tanya Qeiza bingung. Ivander mengangguk sembari tersenyum.


“Kalau Mas sedang rewel, terus nempel di dada kamu, pasti Mas langsung tenang. Sama seperti Sean.”


Ruangan itu seketika riuh. Ivander dan Qeiza terlupa jika di sekitar mereka ada banyak orang. Mereka yang ada di sana, tentu saja terbahak-bahak mendengar ucapan Ivander.


“Puasa dulu kamu, Van!” pekik Andreas.


“Iya, Mas. Puasa 40 hari!” teriak Ivona.

__ADS_1


“Ah, lama sekali,” ucap Ivander sembari menepuk dahinya.


__ADS_2