
“Bukankah sudah seharusnya kamu berterima kasih dengan benar, padanya? bahkan, harusnya kamu bersujud dan mencium telapak kaki Qeiza,” ucap Ivander sembari menatap tajam pada Evelyn. Berharap wanita itu memakai sedikit saja pikirannya agar bisa berterima kasih pada istrinya.
“Berlutut dan mencium telapak kakinya?! Cih! Jangan harap! Kenapa aku harus melakukan hal itu? Aku bahkan tidak pernah meminta bantuan darinya!” pekik Evelyn.
Ivander tak bisa menahan amarah, saat mendengar perkataan Evelyn. Jika Qeiza tak menahannya, hampir saja pria itu melayangkan telapak tangannya ke wajah Evelyn. Wanita yang pernah hadir di hidupnya selama hampir sebelas tahun itu, benar-benar tidak mempunyai hati. Bahkan hanya untuk menyampaikan rasa terima kasih pun dia tak mau melakukannya.
Bekas operasi caesar Qeiza masih sedikit nyeri, wanita itu tak mau terjadi keributan antara sepasang manusia yang pernah hidup bersama selama satu dekade itu. Terlebih mereka sedang berada di rumah sakit.
“Mas ... Jangan seperti itu. Aku sama sekali tidak mengharapkan apapun dari Mba Ev. Walaupun itu hanya sekadar ucapan terima kasih,” jelas Qeiza pada sang suami. Wanita itu berharap sang suami mengerti tentang ketulusannya membantu Evelyn. Kini Qeiza menoleh dan beralih menatap Evelyn.
“Jangan pikirkan apa yang Mas Ivan katakan, Mba. Aku benar-benar tulus kok membantu Mba Evelyn. Aku hanya berharap kondisi Mba Ev bisa segera membaik.”
Seketika Evelyn tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Qeiza.
“Hei, kau, wanita munafik, jangan harap kau mendapatkan ucapan terima kasih dari ku. Aku tidak butuh bantuan mu!”
Qeiza hanya bisa tertegun menyaksikan mantan kakak madunya itu bersikap begitu arogan. Padahal, wanita itu tengah menderita penyakit yang begitu serius. Mengapa bisa dia masih begitu arogan?
Sementara Ivander hanya mengangguk-angguk mendengar ucapan Evelyn yang begitu kasar kepada istrinya. Seolah pria itu sudah mengetahui sikap seperti apa yang akan ditunjukkan oleh Evelyn.
“Kamu dengar sendiri kan, Qei. Jangankan terima kasih, dia bahkan tidak berharap untuk dibantu. Jadi, lebih baik kamu cabut saja surat pernyataan pertanggungjawaban itu. Wanita laknat seperti dia, memang tak pantas untuk dibantu.”
“Sudahlah Mas, kita pulang saja. Sean pasti sudah mencari-cari aku,” ucap Qeiza.
“Jadi, kamu tidak mau mencabut berkas itu? Kamu masih mau menjadi penanggung jawab atas pengobatan dia? Masih ada satu tindakan lagi loh. Dua hari lagi dokter akan melakukan tindakan radioterapi, dan itu tidak murah, Qei. Daripada kamu menghamburkan uangmu untuk seseorang yang tidak tau berterima kasih seperti dia, mending uang itu kamu berikan ke panti asuhan!”
Qeiza menghela napas panjang. Wanita itu mengusap-usap lengan sang suami yang bertengger di pundaknya.
__ADS_1
“Sudahlah Mas. Aku ikhlas. Aku melakukan ini bukan demi ucapan terima kasih. Niatku hanya menolong Mba Ev agar kondisinya membaik. Itu saja. Sekarang kita pulang ya Mas. Aku rindu Sean.”
Ivander tersenyum miris. Pria itu masih tak habis pikir dengan sikap Evelyn yang begitu arogan dan sombong di tengah kondisinya yang sedang terpuruk. Wanita itu sekarat dan bangkrut, tapi kesombongan masih menguasai hatinya.
Ivander berusaha mengembuskan napas panjang. Pria itu tengah meredakan emosinya. Digenggamnya pegangan kursi roda yang berada di balik punggung Qeiza, lalu mendorong kursi roda itu, hingga kini Qeiza dan dirinya berada sangat dekat dengan Evelyn.
“Perhatikan baik-baik wajah ini Ev,” ucap Ivander seraya membelai puncak kepala Qeiza.
“Kamu baru saja melihat sesosok bidadari. Dan bidadari ini adalah istriku. Berapa beruntungnya aku karena memiliki seorang istri berhati malaikat seperti Qeiza,” ucap Ivander.
Evelyn hanya bisa menahan kesal mendengar pujian yang diucapkan oleh Ivander untuk Qeiza tepat di depan matanya. Evelyn merutuki nasib sialnya karena mengidap penyakit mematikan ini.
Ivander dan Qeiza pun berlalu dari sana. Meninggalkan seorang wanita yang begitu angkuh itu seorang diri. Tak ada keluarga, kerabat bahkan sahabat di sisinya. Evelyn benar-benar seorang diri.
“Kamu yakin tidak mau mencabut surat pertanggungjawaban itu, Qei?” tanya Ivander saat dia dan istrinya itu sudah keluar dari ruang rawat Evelyn.
“Iya Mas. Biarkan saja. Toh hanya tinggal radioterapi dan perawatan pasca tindakan. Setelah itu, aku harap kita tidak lagi bertemu dengan Mba Ev.”
“Mama ...” teriak Qiana begitu melihat sosok sang ibunda mendekat ke arahnya.
“Mama kok lama sekali, Qia sudah tidak sabar mau menunjukkan rumah kita kepada Sean!” ungkap gadis kecil itu. Qeiza dan Ivander tersenyum lembut mendengar ocehan anak pertama mereka.
“Papa dan Mama habis melihat setan, tadi. Makanya lama,” ucap Ivander. Qeiza seketika menepuk lengan sang suami.
“Mas!” pekik wanita itu. Ivander hanya terkekeh menanggapinya.
Kini, Ivander pun membawa keluarga kecilnya itu kembali ke kediaman mereka.
__ADS_1
***
Sepeninggalan Qeiza dan Ivander, Evelyn histeris. Wanita itu mencabut selang infus yang tertancap di tangannya, melempar bantal dan apapun yang berada dalam jangkauannya.
Wanita itu marah pada sang pencipta. Dia merasa tak adil dengan apa yang menimpanya. Dicerai oleh Ivander, seluruh hartanya dirampok oleh Alex, dan kini harus menderita suatu penyakit yang belum ada obatnya. Dan yang paling menyakitkan baginya adalah dia tak berdaya menghadapinya semuanya hingga harus menerima bantuan dari wanita yang pernah menjadi rivalnya.
Qeiza Hikaru selamanya adalah seorang wanita licik dan munafik di mata Evelyn. Baginya, sikap baik Qeiza hanyalah sebuah kepalsuan untuk memikat seluruh anggota keluarga Bratajaya.
“Dasar wanita munafik! licik! sok suci!” teriak Evelyn.
Para perawat yang mendengar teriakan Evelyn dari luar ruangan seketika berlari menghampiri wanita itu.
“Bu ... Tenang, Bu,” ucap para perawat. Tapi tentu saja Evelyn tak mengindahkan ucapan para perawat. Wanita itu terus berteriak-teriak melampiaskan rasa kesalnya.
Hampir lima menit Evelyn mengamuk. Para perawat itu pun memutuskan untuk membiarkan wanita itu dengan amukannya dan mengunci ruangan itu dari luar.
“Wanita itu brutal sekali,” ucap salah seorang perawat.
“Iya, biarkan saja dia mengamuk sendirian di dalam sana. Dia itukan pasien berisiko tinggi. Pengidap HIV AIDS. Biarkan sampai dia tenang, baru kita masuk dan membereskan kekacauan yang dia buat. Jangan sampai terjadi kecelakaan di dalam sana antara kita dan dia. Bisa-bisa kita tertular penyakit memalukan itu!”
Para perawat itu menganggukkan kepala. Mereka pun menyepakati hal itu. Mereka mengabaikan Evelyn beberapa saat hingga tak terdengar lagi kegaduhan dari dalam ruangan itu.
Dengan wajah tegang, para perawat itu membereskan kekacauan yang dibuat oleh Evelyn. Merapikan ruang rawat inap itu, lalu kembali memasangkan selang infus di tangan wanita itu.
Dengan hati-hati perawat melakukannya. Mereka tidak mau tertular oleh penyakit yang diderita oleh Evelyn.
Sementara Evelyn, wanita itu hanya bisa meringkuk, menahan tubuhnya yang ngilu. Tubuhnya yang masih lemah karena tindakan kemoterapi, ditambah dengan gerakan-gerakan arogansi yang dibuatnya tadi, membuat wanita itu terus merintih. Rasanya dia tak mampu lagi walau hanya sekadar untuk duduk di ranjang.
__ADS_1
Kata-kata umpatan yang terus dia lontarkan untuk Qeiza sedari tadi, tak lagi terdengar. Wanita itu bahkan tak lagi terpikirkan oleh rasa iri hatinya pada Qeiza. Evelyn hanya bisa merintih dalam ketakutan.
Saat ini, Evelyn benar-benar merasa takut jika sang pencipta mencabut nyawanya. Dia masih ingin hidup. Mungkin, jika Qeiza ada di sampingnya saat ini, Evelyn pasti rela memohon agar mantan adik madunya itu membantunya dengan pengobatan terbaik agar dia tak lagi menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya.