
Evelyn merasa curiga saat Ivander tak kunjung membalas pesan yang dia kirimkan. Bahkan pria itu juga tak menjawab panggilan telepon darinya. Tiga puluh menit berlalu dan Ivander masih belum menampakkan batang hidungnya. Istri pertama Ivander Bratajaya itu memutuskan untuk menghampiri sang suami.
Kecurigaan Evelyn bertambah, kala mendapati ruang kerja sang suami terkunci. Apa yang dilakukan Ivander dan Qeiza di dalam sana? Kenapa harus mengunci ruangan itu?
Berulangkali Evelyn mengetuk pintu itu, hingga akhirnya Ivander muncul dari dalam sana. Evelyn menyelinap masuk begitu saja, kala pintu itu terbuka.
“Kenapa lama sekali sih, Hon!”
Netra Evelyn memindai ruang kerja Ivander. Kini pandangannya tertuju pada Qeiza yang berdiri di depan sofa. Tak ada tanda-tanda jika suami dan madunya itu baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka.
Pekerjaan apa yang dimaksud Ivander?
Evelyn menatap Qeiza dari ujung kepala hingga kaki. Wanita itu terlihat tak terlalu rapi seperti tadi. Mungkinkah Qeiza dan Ivander kembali bercumbu mesra seperti tadi siang? Seperti saat dirinya tiba di Bratajaya Corporation?
Apa Ivander segitu candunya pada wanita yang baru dinikahinya itu? Apa Ivander sudah melupakan pelayanan darinya? Ataukah mungkin pelayanan Qeiza di ranjang lebih baik dari dirinya? Atau karena dirinya sudah lama tak melayani Ivander, makanya pria itu begitu merindukan pelayanan dari seorang wanita, dan kebetulan Qeiza yang menjadi istri barunya?
Apapun itu, Evelyn merasa harus merebut kembali perhatian Ivander. Malam ini, dirinya akan melayani pria itu dengan penuh semangat agar Ivander kembali tergila-gila pada aksi ranjangnya.
“Pekerjaan kalian sudah selesai kan?” tanya Evelyn yang kembali bergelayut manja pada lengan Ivander.
“Iya sudah selesai. Kamu sekalian bersiap pulang saja, Qei. Aku antar kamu lebih dulu.”
Hampir saja Qeiza menganggukkan kepalanya. Jika saja dirinya tak melihat sorot tajam Evelyn padanya, sudah pasti Qeiza akan mengiyakan ajakan sang suami.
“Aku lanjut menyelesaikan pekerjaan saja, Mas. Nanti aku bisa pulang sendiri kok,” ucap Qeiza sembari melirik pada Evelyn yang kini tersenyum sinis padanya. Wanita itu senang karena Qeiza tak bisa mengganggu waktunya bersama Ivander.
“Mas akan terus kepikiran jika kamu pulang sendiri, Qei.”
“Nanti suruh sopir kantor saja yang mengantarkan Qei pulang. Tidak masalah kan, Qei?” cebik Evelyn.
“Iya Mas. Aku bisa pulang naik bus atau taksi. Diantar Mang Dirman juga tidak masalah,” jelas Qeiza.
Ivander menghela napas kasar. Padahal dirinya masih enggan berjauhan dari Qeiza. Tapi, mau tak mau pria itu mengikuti ingin Qeiza.
“Yasudah. Kalau begitu, bekal makan siang yang belum dimakan tadi, biar Mas bawa. Jika dimakan saat makan malam, tidak akan basi kan?”
“Nanti, begitu sampai rumah, langsung pindahkan ke wadah lain saja, Mas. Nanti malam dihangatkan lagi,” jelas Qeiza.
__ADS_1
Ivander mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Qeiza. Namun Evelyn tampaknya tidak menyukai apa yang diucapkan oleh Ivander.
“Makan malam nanti kan bisa beli saja, Hon. Atau ... Bagaimana kalau kita makan di luar? Sudah lama kan kita tidak dinner di luar.”
“Sudah lama aku meminta Qei untuk memasak makanan kesukaanku itu. Jadi, malam ini aku ingin memakannya,” jelas Ivander. Evelyn hanya bisa menahan rasa amarah yang bersemayam dalam hatinya. Ivander sudah berbeda. Pria itu tak lagi menuruti segala inginnya. Dan itu semua karena pengaruh Qeiza.
“Kamu benar-benar tak ingin pulang sekarang, Qei?”
“Iya Mas. Aku pulang seperti biasa saja. Pukul lima sore.”
“Kalau begitu, nanti, aku akan memberitahu Mang Dirman untuk mengantarkan kamu ke rumah,” ujar Ivander. Qeiza mengangguk dan tersenyum pada sang suami.
“Yasudah, yuk kita pulang sekarang saja. Aku benar-benar sangat merindukanmu,” lirih Evelyn. Wanita itu begitu bersemangat ingin segera bercengkrama dengan sang suami.
Sementara Ivander, langkahnya terasa begitu berat. Ingin rasanya dia berpamitan seraya mengecup kening Qeiza. Tapi, keberadaan Evelyn yang tengah bergelayut manja di lengannya, membuat pria itu terpaksa menangguhkan hal itu.
Evelyn dan Ivander hendak berlalu dari sana. Tapi suara Qeiza yang memanggil dirinya, membuat Ivander menghentikan langkah dan kembali menoleh pada istri mudanya itu.
Qeiza melangkah menghampiri Ivander dan Evelyn. Wanita itu meraih telapak tangan Ivander dan menciumnya.
“Kamu juga hati-hati ya, nanti. Kabari Mas kalau ada apa-apa. Mas pergi dulu ya,” ucap Ivander sembari mengelus rambut Qeiza. Qeiza pun membalas perlakuan Ivander itu dengan tersenyum sumringah.
Sementara Evelyn, lagi-lagi hanya bisa menahan rasa dongkolnya melihat interaksi Qeiza dan Ivander. Seolah dirinyalah yang menjadi orang ketiga di pernikahan itu.
Sembari bergelayut manja di lengan Ivander, Evelyn berlenggak lenggok meninggalkan Bratajaya Corporation. Meninggalkan para staff yang menatapnya sembari tersenyum sumringah. Wanita itu seolah menasbihkan bahwa dirinyalah wanita yang paling dicintai oleh Ivander. Dan para staff Bratajaya Corporation pun sangat senang menyaksikan adegan yang ditampilkan oleh Evelyn itu.
“Coba lihat, kalau tidak ada si pelakor itu, Pak Ivan dan Bu Evelyn benar-benar terlihat bahagia. Mereka itu saling mencintai.”
“Iya benar. Lihat saja, si pelakor itu langsung ditinggalkan begitu Bu Evelyn datang.”
“Ya jelaslah Pak Ivan lebih memilih Bu Evelyn. Bu Evelyn itu benar-benar cantik dan seksi. Lebih menggoda!”
“Kalau bukan karena si pelakor itu menjebak Pak Ivan, mana mungkin CEO kita yang tampan itu, mau menikahinya!”
Para team sekretaris yang terdiri dari lima orang, terus berceloteh. Menggunjing Qeiza adalah hal yang harus mereka lakukan setiap hari. Terlebih mereka semua adalah wanita. Wanita mana yang tega jika melihat wanita lain direbut suaminya. Bagi mereka, Evelyn adalah istri yang teraniaya. Padahal wanita itu begitu cantik dan menggoda, namun ternyata perangkap pelakor lebih menakjubkan. Qeiza adalah musuh semua karyawati di Bratajaya Corporation.
Qeiza yang hadir di tengah-tengah pernikahan Ivander dan Evelyn yang selalu terlihat harmonis dan saling mencintai, menjadi musuh semua staff wanita. Qeiza pun tau akan hal itu. Beberapa orang bersikap manis jika di hadapan Qeiza. Dan beberapa orang lagi bersikap arogan, baik di depan ataupun di belakang Qeiza.
__ADS_1
“Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul di meja Rini?! Semua pekerjaan kalian sudah selesai?!” tanya Ivona yang baru saja tiba di sana. Ivona bahkan mendengar beberapa gunjingan para staff sekretaris itu untuk Qeiza.
Ketika seluruh staff sudah kembali ke meja kerja mereka masing-masing, Ivona pun melangkah menuju ruang kerja CEO.
“Memangnya Ev ke sini tadi?”
Qeiza hanya menjawab pertanyaan sang adik ipar dengan tersenyum tipis dan mengangguk.
“Mau apa sih dia?!”
“Wajar jika Mba Ev mampir ke sini, Mba. Ini kan kantor suaminya.”
“Qei, kamu sudah satu bulan menjadi istri Mas Ivan. Tolong jangan panggil aku dengan sebutan 'mba' lagi. Aku ini adik ipar kamu loh!”
Qeiza tertawa kecil. “Iya Von. Maaf ya, kebiasaan,” ujar Qeiza.
“Jadi, sekarang Mas Ivan mengantarkan nenek sihir itu?”
Qeiza berusaha menahan tawanya saat Ivona memanggil Evelyn dengan sebutan penyihir.
“Mba Ev katanya merindukan Mas Ivan. Jadi, malam ini Mas Ivan menginap di sana.”
“Apa?!”
Ivona terperangah. Wanita itu tak percaya jika Evelyn merindukan kakak lelakinya. Sejak dulu, Evelyn tak pernah peduli pada Ivander. Bagaimana mungkin wanita itu bisa tiba-tiba merindukan Ivander?
“Mas Ivan sudah satu bulan tinggal bersamaku. Memang sudah saatnya dia menginap di kediaman Mba Ev. Mungkin selama satu bulan.”
“Tidak mungkin Mas Ivan mau tinggal bersama penyihir itu selama satu bulan.”
“Mas Ivan kan harus adil, Von.”
“Aku yakin, saat ini pun, pasti Mas Ivan ingin lepas dari Evelyn. Terkadang aku heran, kenapa sih Mas Ivan tak menceraikan penyihir itu! Membuat kesal saja!” cebik Ivona.
Qeiza hanya bisa tersenyum tipis. Wanita itu sudah tau jawabannya. Itu semua karena Ivander begitu mencintai Evelyn.
Hati Qeiza pun berdenyut memikirkannya.
__ADS_1