
Langit mulai berwarna Jingga, saat Andreas menyusuri jalan setapak di sebuah pemakaman mewah. Tempat di mana kedua orang tua dan istri yang sangat dicintainya bersemayam. Semilir angin membasuh wajah Andreas. Di tiap langkahnya, pria lanjut usia itu terus memohon agar sang pencipta segera membawanya ke sisi sang istri yang sudah lebih dulu berpulang.
Rindu itu begitu membuat Andreas semakin sesak dari hari ke hari. Jika hari-hari dahulu, dia mampu bertahan, itu semua karena janji yang sudah dia rapalkan pada sang istri. Kini, semuanya sesudah terpenuhi. Rasa rindu pria lanjut usia itu semakin terasa mencekik.
Bagaimana cara melampiaskan rasa rindu pada seseorang yang berada di dunia berbeda?
Andreas tak pernah memikirkan cara lain, selain meminta agar nyawanya segera dicabut, agar dia dapat berada di sisi sang istri yang begitu dirindukannya.
Tak terasa pria lanjut usia itu sudah berjalan sela tiga puluh menit. Sekarang, dirinya sudah berada tepat di hadapan sebuah mobil mewah berwarna hitam. Dengan napas yang masih terengah-engah, pria lanjut usia itu menaiki mobil mewah miliknya.
“Langsung kembali ke rumah,” perintahnya.
“Anda mau minum, Pak?” tanya Jody. Andreas hanya menggelengkan kepalanya. Pria lanjut usia itu melempar pandangannya. Selama hampir dua jam perjalanan, Andreas terus melongok ke arah jalanan di luar sana, dengan tatapan kosong. Entah apa yang ada di pikiran pria lanjut usia itu. Yang jelas, dia sudah tak lagi memiliki rencana apapun di hidupnya.
Saat tiba di kediamannya, Andreas dengan perlahan melangkahkan kaki menuju kamar tidurnya. Pria itu memilih untuk melepaskan penat dibandingkan menyumpal perutnya yang sejak siang tak diisi oleh makanan apapun.
Dan saat fajar menyingsing, di balik pintu kamarnya terdengar suara yang sangat riuh.
“Kakek .... Kakek ... Ayo bangun Ayo sarapan!”
Andreas memijat pelipisnya. Rasa lapar yang sudah menyerang dirinya sejak kemarin siang, membuat kepalanya terasa sedikit pusing. Namun, mendengar suara riuh di balik pintunya, pria lanjut usia itu terpaksa melangkahkan kakinya, membuka pintu itu.
“Kakeeekk!!”
Ketiga cucunya menghambur ke pelukan Andreas. Mendekap erat tubuh pria lanjut usia itu.
“Kalian ada di sini? Kapan datang?”
“Baru saja! Ayo makan Kek. Mama sudah masak bubur ayam loh,” oceh Qiana.
__ADS_1
“Oh ya? Masak Bubur ayam? Wah ... Kakek sudah lama tidak makan bubur ayam buatan mama kamu. Bubur ayam buatan mama kamu sama enaknya dengan bubur ayam buatan nenek kalian,” ujar Andreas.
“Nenek Melati?” tanya Qiana. Andreas menggelengkan kepala sembari terkekeh.
“Bukan. Istrinya kakek yang sudah meninggal. Nanti, kita lihat makamnya ya. Qia belum pernah ke sana kan?”
Qiana menggelengkan kepalanya. “Qia belum pernah ke makam Nenek. Pernahnya ke makam papa Qia.”
“Iya ... Nanti kita semua ke sana ya. Sekarang, ayo kita makan. Kakek sudah sangat lapar,” ujar Andreas.
Bersama ketiga cucunya, Andreas menuju ruang makan. Tanpa sepengetahuan Andreas, ternyata, anak, menantu dan cucu-cucu pria lanjut usia itu sudah berkumpul di kediamannya.
“Ayo Pi, makan,” ucap Ivona. Anak bungsu Andreas Bratajaya itu langsung menghampiri sang ayahanda, menggandeng lengan pria itu dan menggiringnya menuju kursi makan yang sudah disiapkan oleh Ivander.
“Kata Qia, kamu memasak bubur ayam ya, Qei?”
Andreas menganggukkan kepalanya. Pria lanjut usia itu tersenyum lembut. “Bubur ayam buatanmu, mirip dengan bubur ayam buatan Mami kalian,” lirihnya.
Ivander dan Ivona saling tatap. Mereka kini menyaksikan, betapa Andreas begitu merindukan ibu kandung mereka.
“Kalau begitu, Papi harus makan yang banyak,” ucap Qeiza yang kini menyuguhkan semangkuk penuh bubur ayam dengan kuah soto dan taburan bawang goreng, yang menjadi makanan kesukaan Andreas.
“Kamu belum satu bulan melahirkan, tapi sudah memasak makanan sebanyak ini, Qei. Harusnya kamu banyak-banyak istirahat.”
“Qei dibantu beberapa asisten rumah tangga kok, Pi. Jadi tidak terlalu lelah,” jawab Qeiza.
Andreas menganggukkan kepalanya. Pria lanjut usia itu menyendokkan satu suapan penuh bubur ayam itu ke mulutnya. Senyum Andreas pun seketika terkembang lebar saat menyantap bubur itu.
“Terima kasih ya Qei. Bubur ayam ini mengobati sedikit kerinduan Papi dengan Mami kalian,” ucap Andreas. Tanpa terasa air mata pria itu mengalir. Ivander dan Ivona pun tutur merasakan kesedihan sang ayah.
__ADS_1
“Papi boleh meminta dibuatkan bubur ayam ini kapan saja. Qei pasti bersedia membuatkannya untuk Papi,” ujar Qeiza. Sekali lagi Andreas mengucapkan terima kasih kepada menantu kesayangannya itu.
“Kalian berkumpul di sini pasti Jody yang menyuruh ya?” tanya Andreas saat begitu mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga.
“Memangnya kalian tidak pergi bekerja? Anak-anak kecil ini tidak sekolah?”
“Tidak Pi. Rencananya siang ini kita semua akan berlibur di sini!” pekik Ivona.
“Berlibur di sini? Kalian mau menginap di sini? Bukannya kita sudah berjanji akan berkumpul hanya di setiap akhir pekan? Ini masih hari Rabu. Akhir pekan masih beberapa hari lagi!” ucap Andreas heran.
“Lagian, kalau hanya menginap di sini, untuk apa sampai harus libur kerja dan sekolah. Baru saja Papi menyerahkan seluruh saham pada kalian, tapi kalian malah sudah menyalahkan gunakan kekuasaan. Mengambil cuti seenaknya saja!”
Ivona bangkit dari duduknya. Wanita itu melangkah hingga kini berada persis di belakang sofa yang di duduki oleh Andreas. Ivona pun memijat pundak sang ayahanda.
“Kira bukan hanya menginap biasa saja, Pi. Tapi, kita akan berkemah di sini. Seperti yang sering kita lakukan sewaktu Mami masih ada. Bukannya dulu kita sering berkemah di halaman samping? Sekarang, ayo kita lakukan lagi.”
Andreas menghela napas berat. Pria lanjut usia itu tak bisa menyembunyikan rasa haru mendengar pernyataan Ivona. Berkemah bersama di halaman rumah memang kerap mereka lakukan. Kenangan-kenangan itu kini kembali terlintas di benak Andreas.
“Mami memang sudah lama pergi meninggalkan kita, Pi. Tapi, coba Papi lihat sekeliling Papi. Sekarang Papi sudah punya anak empat. Ada Angga, ada juga Qei. Sekarang, Papi bahkan sudah memiliki empat orang cucu. Kami semua sayang Papi. Kami semua masih membutuhkan Papi,” lirih Ivona.
Rasa haru kini menyelimuti ruang keluarga itu.
Tak lama berselang, Jody datang dengan membawa beberapa orang yang bertugas untuk menyiapkan acara kemah keluarga besar Bratajaya. Pria paruh baya itu sudah mengatur sedemikian rupa, agar anggota keluarga Bratajaya itu bisa tidur dengan sangat nyaman di tenda dome yang akan dibuat. Terlebih ada seorang bayi berusia berusia lima belas hari yang ikut menginap di sana. Tenda itu haruslah terasa super nyaman.
Bukan hanya membangun sebuah tenda yang didirikan oleh Jody. Peralatan memanggang dan api unggun pin juga turut disiapkan.
Kasur busa termahal menjadi alas tidur mereka malam ini, disertai pendingin ruangan portabel dan juga jaring anti nyamuk yang dipasang mengelilingi tenda, hingga tidak akan ada serangga yang bisa masuk ke dalam tenda besar itu.
“Ini kemah termewah yang pernah Papi rasakan,” ucap pria lanjut usia itu sembari terkekeh-kekeh.
__ADS_1