Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Hasrat Evelyn


__ADS_3

Tak ada lagi rasa cinta di hati Ivander terhadap wanita yang kini berjongkok di hadapannya, membuat pria itu cukup sulit untuk tergoda dengan permainan Evelyn.


Jika biasanya hanya dengan melihat Evelyn berpakaian minim sudah cukup untuk membangkitkan kelelakiannya, kini tak lagi sama. Evelyn yang tadi menghampirinya dengan berpakaian sangat minim, tak mampu membangkitkan gairahnya.


Bahkan, saat Evelyn melahap bibirnya dengan rakus, Ivander hanya membalas sekadarnya. Namun, gerakan-gerakan lidah Evelyn di bawah sana, lambat laun mampu membuat naluri kelelakiannya bangkit.


Walau tak ingin melakukan penyatuan dengan Evelyn, tapi Ivander merasa istri pertamanya itu harus menuntaskan apa yang dimulainya.


Ivander ingin menyelesaikan permainan itu di mulut Evelyn, saat itu juga. Tapi sepertinya wanita itu tak menginginkan hal yang sama. Karena Evelyn juga ingin dipuaskan.


Sembari menggenggam erat milik sang suami, Evelyn melangkah menuju ranjang dan mendorong Ivander hingga pria itu duduk di tepi ranjang. Evelyn pun menaiki Ivander dan menyatukan tubuh mereka. Ivander sempat terhanyut dengan permainan Evelyn. Tapi, tiba-tiba pria itu teringat akan Qeiza. Dirinya merasa bersalah kala tubuhnya dan tubuh Evelyn menyatu.


Sementara Evelyn sibuk menikmati setiap gerakan yang dibuatnya. Evelyn sedikit terperanjat kala Ivander menggendong dan merebahkan tubuhnya di ranjang.


Ivander bermanuver secepat mungkin, agar pria itu tak perlu berlama-lama menyatu dengan Evelyn.


Evelyn tersenyum. Wanita itu pikir, Ivander teramat merindukannya hingga tak mampu menahan hasratnya yang menggebu. Namun, wanita itu kecewa, begitu Ivander secepat kilat menyemburkan laharnya. Padahal, biasanya Ivander bisa membuatnya melayang, setidaknya dua kali dalam permainan itu. Tapi, kali ini, baru satu kali Evelyn merasakan nikmatnya puncak, Ivander sudah menyudahi permainan itu. Terlebih Ivander langsung merebahkan diri di sampingnya. Tak ada kecupan mesra seperti yang biasa pria itu lakukan. Ivander menyudahinya begitu saja.


Evelyn yang masih bergelora, kembali menjelajahi tubuh Ivander. Wanita itu terus menggoda bagian-bagian sensitif sang suami hingga Ivander kembali bereaksi.


Ivander yang berusaha menahan diri, kini tak bisa lagi membendung hasrat yang perlahan kembali menjalari tubuhnya. Walau susah payah Evelyn menggoda tubuh pria itu dengan lidahnya, tapi sebanding dengan keinginannya terpenuhi. Bagian sensitif pria itu kembali kokoh.


Gegas Evelyn menaikinya. Tubuh sepasang suami istri itu kembali menyatu. Sulitnya membangkitkan hasrat Ivander, membuat Evelyn bergerak dengan liar dan brutal. Wanita itu berharap Ivander menjamah tubuhnya dan membuatnya tambah melayang.

__ADS_1


Padahal, dulu Ivander sangat suka jika Evelyn bergerak liar di tas tubuhnya. Pria itu bahkan selalu memijat dengan lembut dua benda milik yang bergerak naik turun karena gerakan wanita itu.


Tapi, kini Ivander tak lagi sama. Pria itu membiarkan Evelyn mencapai puncaknya sendiri. Wanita itu bahkan bergerak liar sembari memijat kasar salah satu bukit kembarnya, hingga akhirnya Evelyn benar-benar mencapai puncaknya sendiri.


Evelyn merasa kesal dengan sikap Ivander yang pasif dalam permainan mereka.


Banyak orang mengatakan, seorang pria akan melalui masa pubertas kedua saat akan memasuki usia 40 tahun. Bukankah Ivander harusnya masih menggebu-gebu karena pria itu tengah mengalami pubertas kedua? Usia sang suami masih 39 tahun. Tapi mengapa hasratnya cepat menurun seperti ini?


Evelyn terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dua tahun belakangan, dirinya memang jarang sekali melayani Ivander. Terlebih beberapa bulan sebelum pria itu menikah dengan Qeiza. Evelyn tak menyangka karena hal itu berpengaruh pada hasrat Ivander padanya. Padahal sewaktu beberapa bulan lalu mereka pergi ke Paris, Ivander masih begitu berhasrat dan perkasa.


Sial sekali nasib Qeiza, mendapatkan Ivander yang tak lagi perkasa!


Evelyn tak dapat menahan senyumnya saat memikirkan hal itu. Memikirkan kesialan Qeiza. Dirinya beruntung bisa merasakan bertapa Ivander begitu bergelora selama sepuluh tahun pernikahan mereka.


“Dasar lemah,” umpat Evelyn dalam benaknya.


Sebenarnya Evelyn ingin meninggalkan Ivander saat itu juga. Ivander yang tak seperkasa biasanya, membuat wanita itu kesal setengah mati. Teman-temannya sudah berulangkali mengirimkan pesan pada wanita itu, untuk bergabung dengan mereka malam ini.


Tapi, dirinya sudah berjanji akan membuat Ivander kembali takluk padanya. Wanita itu ingin kembali memegang kendali atas hidup pria itu. Jika tidak, dirinya tak akan mungkin bisa membuat Ivander menceraikan Qeiza setelah wanita itu melahirkan anak buat sang mertua. Dia tak mau berbagi harta dengan Qeiza. Dia juga harus memegang kendali akan anak yang dilahirkan oleh Qeiza, nanti.


Evelyn merebahkan kepalanya pada lengan Ivander. Wanita itu memeluk sang suami sembari mengusap-usap perut pria itu.


Jika saja yang melakukan itu adalah Qeiza, Ivander pasti langsung menyergap wanita itu. Namun, karena Evelyn yang melakukannya, Ivander memutuskan untuk menutup matanya dan berpura-pura tertidur.

__ADS_1


Evelyn bangkit dengan wajah tertekuk saat melihat Ivander langsung tertidur setelah dua kali menyemburkan laharnya. Wanita itu pun beranjak dari ranjang. Kembali menggunakan gaun malamnya, Evelyn menyambar ponsel dan mengetikkan sesuatu.


Entah apa pesan yang ditulis oleh wanita itu? Entah kepada siapa istrinya mengirimkan pesan itu?


Ivander tak mau ambil pusing. Pria itu masih berpura-pura tertidur. Pikirannya melayang pada Qeiza Hikaru— istri yang sangat dicintainya. Sedang apa wanita itu? Apa dia sudah tidur? Qeiza tak biasa tidur tanpa memeluk sesuatu. Apa wanita itu tidur sembari memeluk guling?


Tak tau sudah berapa lama, tapi Ivander benar-benar tertidur. Pria itu terbangun saat mendengarkan suara yang tak asing di telinganya.


Pria itu tak bangkit dari ranjang. Ivander bahkan berpura-pura masih tertidur. Dirinya tak mau Evelyn tau jika dia terbangun. Dengan mata yang memicing, Ivander melirik sisi sebelah kanannya. Tak ada Evelyn di sana. Itu artinya wanita itu masih bergentayangan. Padahal Ivander pikir, Evelyn ikut tertidur bersamanya.


Mata Ivander memindai kamar yang luas itu. Suara yang familiar itu masih terus terdengar. Mata Ivander kini tertumpu pada seorang wanita yang tadi dicarinya. Evelyn tengah duduk dengan posisi setengah rebah di sofa. Wanita itu memegang ponsel dengan earphone yang tersangkut di telinganya.


Ivander menganga. Pria itu menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Satu tangan wanita itu memang tengah memegang ponsel, tapi tangan satunya, sibuk memegang sebuah alat.


Pantas saja dirinya familiar dengan suara ini. Ternyata Evelyn tengah memuaskan dirinya dengan bantuan sebuah alat sembari menatap layar ponsel.


Ivander menyadari betapa hasrat Evelyn begitu tak terkendali. Sewaktu di Paris beberapa bulan lalu, pria itu sudah melihat Evelyn menggunakan alat itu di hadapannya. Kini, wanita itu kembali menggunakan alat tersebut. Namun kali ini, Evelyn melakukannya sembari menatap layar ponsel.


Apa yang ada di ponsel itu?


Apa yang disaksikan oleh Evelyn?


Apa wanita itu menyaksikan adegan dewasa sembari memuaskan hasratnya?

__ADS_1


__ADS_2