
Langit hampir berubah menjadi jingga saat Qeiza dan Ivander berada di taman pemakaman umum. Sore itu, mereka sengaja datang ke sana untuk menjenguk makam seorang wanita yang pernah hadir di kehidupan mereka.
Evelyn Wijaya.
Wanita itu pernah hidup terikat dalam sebuah hubungan pernikahan dengan Ivander Bratajaya. Tak tanggung-tanggung, wanita itu menjadi istri seorang Ivander Bratajaya selama sebelas tahun kurang sehari.
Walau pernikahan itu tak berjalan dengan mulus, Ivander mengakui, ada saat-saat dirinya merasa bahagia berada di sisi Evelyn. Wanita itu pintar membuatnya melayang. Setidaknya, dulu, dengan permainan panas yang selalu ditawarkan oleh Evelyn, dirinya selalu terlupa akan rasa kesalnya yang selalu hadir buat wanita itu.
Sedangkan bagi Qeiza, Evelyn adalah kakak madu yang selalu dihormatinya. Jika Evelyn tak datang dan memintanya untuk menikah dengan Ivander, tentu dia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti yang dia rasakan sekarang. Hidupnya terasa begitu lengkap sejak menjadi istri seorang Ivander Bratajaya.
Memiliki seorang suami yang sangat baik serta anak-anak yang bahagia. Bagi Qeiza, itu semua berkat Evelyn yang bersedia berbagi suami padanya. Qeiza begitu merasa berterima kasih pada wanita yang kini telah terbujur kaku di dalam tanah itu.
“Hai Mba Ev. Apa kabar?” tanya Qeiza begitu mereka tiba di depan makan Evelyn.
Ivander hanya tersenyum melihat kelembutan tutur kata Qeiza. Padahal wanita itu hanya berbicara pada batu nisan. Bagaimana mungkin bisa berbicara begitu lembut?
“Aku mau mengucapkan terima kasih pada Mba Ev. Terima kasih karena mau berbagi suami denganku. Aku harap, Mba Ev benar-benar tenang di dalam sana,” ujar Qeiza.
“Oh iya Mba, aku datang ke sini bersama Mas Ivan. Dia mau menjenguk Mba. Mungkin juga ada yang Mas Ivan katakan kepada Mba Ev.”
Qeiza menatap sang suami dan memanggil pria itu agar ikut berjongkok di sampingnya. Ivander pun menuruti perintah istrinya itu.
“Ayo, beri bunganya, Mas,” bisik Qeiza.
Ivander berusaha menahan tawanya. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri. Tingkah Qeiza begitu aneh baginya. Tadi, sebelum menuju tempat pemakaman umum, Qeiza memintanya untuk membeli sebuket bunga. Bahkan istrinya itu meminta dirinya untuk membeli bunga yang menjadi kesukaan Evelyn.
__ADS_1
Dan sekarang, istrinya itu memintanya untuk menyerahkan sebuket bunga pada batu nisan yang ada di hadapannya. Namun, tentu saja Ivander tak akan membantahnya. Pria itu menuruti sang istri. Bukan tanpa alasan Ivander menyanggupi permintaan Qeiza, pria itu juga menginginkan sesuatu dari sang istri.
Ivander meletakkan bunga itu di depan batu nisan Evelyn. “Ini aku bawakan bunga kesukaanmu, Ev,” ucap Ivander.
Senyum Qeiza langsung merekah. Wanita itu merasa bahagia. Rasa mengganjal yang ada di hatinya seketika merasa lega saat itu juga.
“Mas aku tinggal ke sana ya. Mas ngobrol saja dengan Mba Ev,” bisik Qeiza. Dahi Ivander berkerut. Ini tidak ada dalam rencana mereka. Pria itu memijat pelipisnya. Dia harus berkata apa pada batu nisan di hadapannya ini?
Tak ada lagi rasa tertinggal untuk Evelyn, membuatnya tak tau harus mengungkapkan apa. Bukan hanya cintanya yang sudah hilang sejak lama. Rasa bencinya juga sudah menghilang sejak melihat tubuh wanita itu terbujur kaku. Dan kini, Qeiza melangkah menjauh, membiarkannya berjongkok seorang diri.
“Aku tidak tau harus berkata apa? Kata Qei, kamu akan bahagia jika aku memberikan ucapan maaf,” ucap Ivander. Pria itu kini terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku sudah memaafkan mu, Ev. Itu semua berkat Qeiza. Ketulusannya membantumu, membuat rasa benciku padamu lambat laun menghilang. Semoga kamu tenang di dalam sana,” ucap pria itu.
“Apa seseorang yang sudah meninggal bisa diminta untuk hadir ke mimpi seseorang? Kalau itu bisa, aku harap kamu mampir ke mimpinya Qei. Bilang padanya jika dia tak pernah merebut aku darimu. Jangan lupa ucapkan terima kasih padanya. Dia pasti akan sangat bahagia jika itu terjadi. Aku harap kamu bisa mampir ke mimpi Qeiza.”
“Kok sebentar, Mas?” tanyanya heran.
“Yang ingin Mas ucapkan hanya sedikit.”
“Mas sudah katakan kalau Mas sudah memaafkan semua kesalahan Mba Ev?” bisik Qeiza. Ivander menganggukkan kepalanya.
“Sudah ... Dari hati yang paling dalam, Mas katakan kalau Mas sudah memaafkan dan melupakan semua kesalahannya.”
Senyum Qeiza merekah. Wanita itu begitu sumringah mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1
“Kalau begitu tunggu sebentar. Aku berpamitan dulu dengan Mba Ev,” ucap Qeiza. Wanita itu pun kembali menghampiri makam Evelyn lalu berpamitan pada makan wanita itu.
Sepasang suami istri itu pun kini melangkah menjauhi taman pemakaman umum itu dengan jemari yang saling menggenggam.
“Terima kasih untuk hari ini, ya Mas. Aku sangat bahagia,” ucap Qeiza. Ivander menjawabnya dengan mengecup tangan sang istri.
“Sekarang, giliran kamu,” ucap Ivander.
“Dasar pamrih!” ucap Qeiza kesal.
Ivander terkekeh-kekeh mendengar umpatan sang istri. Namun, pria itu tentu saja tak peduli. Dia sudah menepati janji dengan ikut mengunjungi makam Evelyn. Kini, giliran Ivander menagih janji pada sang istri.
Awalnya, Qeiza tak menyetujui permintaan Ivander. Pria itu meminta dirinya selama tiga hari dua malam. Bukannya Qeiza tak mau menghabiskan waktu hanya berdua saja dengan sang suami. Namun, Qeiza tak bisa meninggalkan anak-anaknya begitu saja. Terlebih Sean. Anak bungsunya itu baru berusia lima bulan. Sean masih dalam masa ASI ekslusif. Hanya ASI yang menjadi asupannya. Meninggalkan Sean selama tiga hari dua malam, itu artinya dia tak bisa menatap mata indah Sean saat proses menyusui.
Walau stok ASIP (ASI Perah) Qeiza sangat banyak, walau Qeiza sering meninggalkan Sean dan membiarkan sang pengasuh memberikan ASIP pada anaknya itu, tapi Qeiza tak pernah meninggalkan Sean dalam waktu yang sangat lama.
Dia harus meninggalkan sang anak selama 72 jam. Itu artinya Qeiza melewati proses menyusui selama 36 kali.
“Kamu kejam Mas! Kamu tega memisahkan aku dari anakku,” rengek Qeiza saat mereka masih dalam perjalanan pulang. Ivander tak membalas ungkapan kekesalan sang istri.
Ivander akui, permintaannya itu cukup egois. Dia ingin memonopoli Qeiza selama tiga hari. Menikmati wanita itu hanya untuk dirinya sendiri. Dia begitu merindukan Qeiza.
Sejak Sean hadir di antara mereka, Ivander merasa waktunya bersama Qeiza, sangat kurang. Wanita itu memang selalu melayaninya kapan saja saat dia menginginkannya. Tapi, mereka sering melakukannya dengan terburu-buru.
Ivander hanya ingin punya waktu yang intens bersama sang istri. Bukan hanya sekadar memuaskan hasratnya akan tubuh wanita itu. Lebih dari itu, Ivander ingin mengobrol santai bersama Qeiza saat mereka sudah melampiaskan seluruh hasrat kepada satu sama lain. Hal yang tak pernah dilakukan setelah kehadiran Sean. Ivander begitu merindukan saat-saat seperti itu.
__ADS_1
***
Ivander sudah mempersiapkan semuanya. Pria itu bahkan sudah memesan gaun malam yang begitu memesona untuk digunakan oleh Qeiza. Besok, mereka akan menghabiskan waktu selama tiga hari dua malam di sebuah hotel yang tak terlalu jauh dari kediaman mereka.